Status Anak Hasil Zina


Pergaulan bebas yang menjerumus pada perzinaan telah banyak terjadi. Dari pergaulan haram ini terlahir anak haram atau anak jadah yang ada kalanya terlahir sebagai anak perempuan.
Dalam literatur fiqih fenomena seperti ini menjadi pembahasan yang rumit, karena akan berkelanjutan pada hak waris,mahram dan wali nikah

Batalkah wudlunya “anak hasil zina” tsb yang bersentuhan dengan ayah biologisnya (orang yang menghamili ibunya)?

Apakah persentuhan itu di ma’fu?

Mengingat nasab anak zina itu ikut pada ibunya, siapa yang menjadi walinya?

Jika tidak tahu kalau yang menjadi wali  itu ayah yang menghamili ibunya atau wali wakil, bagaimana hukum pernikahan anak zina itu kelak?

Dan bagaimana hukumnya menikahi anak hasil zina?

Perhatikan baik-baik., dan baca sampai selesai..!!!

Jika ibu anak hasil zina  tidak menikah dengan pria yang menzinainya, maka antara anak hasil hubungan haram dengan pria tersebut (yang menghamili ibunya) tidak ada hubungan apa-apa, yakni sama dengan orang lain.

Ini sesuai dengan hadits berikut :

السنن الكبرى للبيهقي وفي ذيله الجوهر النقي – (جز 7 ص 402) أخبرنا أبو زكريّا بن أبي إسحاق المزكّى وأبو بكر أحمد بن الحسن القاضى قالا حدّثنا أبو العبّاس محمد بن يعقوب أخبرنا الرّبيع بن سليمان أخبرنا الشّافعي أخبرنا سفيان عن إبن شهاب عن سعيد بن المسيّب أو أبي سلمة عن أبي هريرة رضي اللّه عنه الشّكّ من سفيان أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم قال : الولد للفراش وللعاهر الحجر. روه مسلم في الصحيح

Dalam hadits di atas, jelas anak yang di hasilkan dari hubungan zina adalah muhaddar (tidak di anggap anak) dari orang yang menzinai. Karena itu, tidak dapat saling waris mewariskan dan jika bersentuhan dapat membatalkan wudlu. Karena, ada dalil al-Qur’an أو لامستم النّساء

Namun,jika laki-laki tersebut (yang menghamili ibunya) kemudian menikah dengan ibu anak hasil zina, kemudian bersenggama (dalam pernikahan mereka yang sah), maka bersentuhannya anak hasil zina dengan pria itu tidak membatlkan wudlu. Karena dia menjadi rabihah (anak tiri) yaitu anak bawaan istri.

Karena ada ayat al-Qur’an :

 وربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن فإن لم تكونوا دخلتم بهنّ فلا جناح عليكم

Yang menjadi wali adalah hakim.seperti pendapat imam Syafi'i yang dengan tegas menyatakan bahwa wali dari anak hasil zina adalah hakim. namun pendapat imam Syafi'i ini berbeda dengan pendapat imam Malik yang menyatakan bahwa jika ibu anak zina telah menikah (baik itu menikah dengan pria yang menzinai ibunya atau pria lain yang sukarela), kemudian bersetubuh dalam pernikahan yang sah, dan anak itu lahir setelah enam bulan dari pernikahan orang tuanya.
Dalam hal ini (wali nikah anak hasil zina) Imam Malik berpendapat ayah dari anak zina tersebut boleh menjadi walinya tanpa harus menggunakan jangka waktu masa pernikahan Karena anak hasil zina itu telah di rawat pria yang jadi suami ibunya, asalkan memiliki kepedulian dan kasih sayang seprti anak sendiri.

Atau menurut imam malik lagi, anak hasil zina itu telah dirawat pria yang jadi suami ibunya, asalkan memiliki kepedulian dan kasih sayang seperti anak sendiri. Karena menurut malikiyyah adalah  orang yang telah merawat dengan masa tertentu. Karena Firman Allah واللّه ولي نصير

Hal itu disebut dengan wilayah bi-alkafah dengan adanya dua syarat :
       1.       Sudah mencapai batas kecondongan seperti anak sendiri   
       2.       Wanita yang di kasihi bukan orang yang mulia karena cantik atau hartanya
 
      akan tetapi qoul ashah menetapkan ayah tersebut tidak bisa menjadi wali.

Wahbah Zuhaili berkata dalam fiqh islamy pada halaman 189-190 sebagai berikut :

أما الولاية بالكفاية فهي ان يكفل رجل امرأة فقد والدها وغاب اهلها فقام بتربيتها حدة خاصة فيكون له عليها حق الولاية في 
تزويجها ويشترط لثبوت هذه الولاية شرطان احدهما ان تمكث عنده زمنا يوجب حنائه وشفقّته عليها عادة وبالفعل.....الخ

Wali hakim di daerah kita adalah kepala KUA dalam bidang pernikahan, sebagaimana keterangan dalam kitab al-Bajuri juz 2 halaman 106 sebagai berikut :


(قوله ثم الحاكم يزوج عند فقد الاولياء) عاما كان او خاضا كالقاضي والمتولى لعقود الانكحة...
Jika terpaksa yang menjadi wali bukan walinya, maka hukum pernikahannya batal. Karena, pernikahan tanpa wali, hukumnya batal.

Ini berdasarkan hadis Aisyah,Abi Musa, dan Ibn Abbas

لا نكاح الا بالوالي عن عائشة قالت : قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم : ايما امرأة نكحت بغير إذن وليها فنكاحها باطل، فإن تشادروا فاسلطان ولي من لا ولي له. النتهى. قال الترمذي : حديث حسن الراية جز 2 ص 188

Jika seorang tahu bahwa pernikahan itu batal (tidak sah) dan terus saja di lanjutkan (tanpa pembaharuan nikah) maka hubungan badan yang di lakukan dihukumi zina. Dan jika dia tidak tahu, maka hubungan badan yang dilakukan tidak dihukumi zina,melainkan disebut wathi’ syubhat. Ini berarti masih dinasabkan dan mendapatkan warisan, dan suami itu wajib membayar mas kawin walaupun wajib berpisah setelah dirina tahu bahwa apa yang dilakukan adalah syubhat.

Lalu Bagaimana Hukum Menikahi Wanita Dari Hasil Zina?

Menikah dengan anak hasil hubungan gelap (zina) adalah sah, hanya saja hukumnya makruh. Sebab. Rasulullah s.a.w. memerintahkan dan menganjurkan kepada kita untuk memilih calon istri yang memiliki beberapa kriteria Positif, di antaranya adalah taat beragama, cantik, subur (dapat memberi banyak keturunan) dan memiliki nasab Yang mulia. lni sebagaimana keterangan berikut ini:
 
ويستحب ولود ودود لخبر " تزوجوا الولود الودود فإنّي مكاثر بكم الأمم يوم القيامة" روه أبو داود 
والحاكم وصحح إسناده و يعرف كون الكبر ولودا ودودا بأقاربها نسيبة لخبر " تخيروا لنطفكم"
Artinya: Disunnahkan memilih calon istri yang subur dan sangat mencintai, berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.: “Nikahilah wanita yang subur dan sangat mencintai, sungguh kelak di hari kiamat aku akan berbangga dengan banyaknya umat.” (HR. Abu Dawud dan Hakim). Kriteria wanita yang demikian dapat diketahui dengan melihat saudara dan kerabat-kerabatnya. Disunnahkan juga menikahi wanita yang memiliki nasab mulia, berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w.: “Pilihlah tempat yang tepat untuk sperma kalian.” (HR. Hakim). Bahkan, dimakruhkan menikahi wanita hasil zina dan anak yang fasiq, begitu pula wanita yang tidak jelas nasabnya. (Asna aI-Mathalib juz 3 halaman 108) 


“Anak hasil zina tidak dapat beraflliasi nasabnya (intisab) kepada ayahnya. Oleh karena itu, sang ayah tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan anak hasil zina. Yang berhak menjadi wali dalam pernikahan anak basil zina adalah hakim. Dalam konteks negara Indonesia, wali hakim adalah kepala KUA


Ini sebagaimana keterangan berikut ini: 

ويقول في ولد الزنا الهم اجعلهم فراطا لأمه (قوله : ويقول في ولد الزنا إلخ) أي لأنه لا ينسب إلى أب، وإنّما ينسب إلى أمه
Artinya: Dalam mendoakan anak hasil zina yang meninggal dunia seseorang mengucapkan doa: "Ya Allah, jadikanlah ia sebagai pendahuluan bagi ibunya.” Karena anak zina tidak dapat intisab kepada ayahnya, ia hanya ber-intisab kepada ibunya. (I'anah aI-Thalibin juz 2 halaman) 
السلطان من لا ولى لها والمراد من له ولاية من الامام والقضاة ونوابهم
Artinya: Sultan adalah walinya orang yang tidak punya wali. Adapun yang dimaksud dengan sultan adalah orang yang mempunyai kekuasaan, termasuk imam, qadli, dan para penggantinya. (l’anah aI-Thalibin, juz 2 hlm. 359) 

Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh pernikahan dengan wanita hasil zina sebagai berikut. Pertama, dapat mempengaruhi sifat anak yang dilahirkan. Hal ini berdasarkan Firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 223: 
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّىٰ شِئْتُمْ ۖ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: lstri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman. 

Dalam ayat ini, Allah mengumpamakan wanita sebagai sawah, sedangkan sperma diumpamakan sebagai bibit. Hal ini sebagaimana yang diterangkan dalam tafsir Fath aI-Qadir karya imam al-Syaukani sebagai berikut: 

(نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أني شئتم) – إلى أن قال – فقد شبه ما يلقى في الأرض من البذور التى منها النبات بجامع أن كل واحد منهما مادة لما يحصل منه
Artinya: lstri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bcrcocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Sperma yang ditanamkan ke dalam rahim disamakan dengan benih yang ditanam di tanah. Sisi kesamaan antara keduanya adalah bahwa keduanya merupakan asal dari sesuatu. Bibit menjadi tanaman, sedangkan sperma menjadi anak turun. (Tafsir Fath al-Qadir juz l hlm. 302) 

Tentunya telah maklum bagi kita bahwa keberhasilan tanaman tentu tidak hanya tergantung pada bibit yang unggul saja. namun juga tergantung pada kesuburan tanah tempat penanamannya. Terdapat keterangan dalam kitab AI-Muhadzdzab mengenai hal di atas sebagai berikut:
إن المذرع لا تعنى خزولته..... كالبغل يعجز عن شوط المحاضير
Artinya: Sungguh sifat anak tidak dapat jauh dari sifat ibunya, sebagaimana bighal (hasil keturunan antara kuda jantan dan keledai betina). la tidak dapat berlari kencang, meskipun bapaknya adalah kuda. (AI-Muhadzab juz 2 halaman 274) 

Kedua, anak dari keturunan orang yang tidak baik tidak punya ketahanan dalam menghadapi tantangan dan rintangan perjuangan. Selain itu, wanita yang tidak berasal dari keturunan yang mulia juga tidak memiliki kemampuan mendidik anak cucunya untuk menjadi generasi yang berkualitas.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w. yang diterangkan Imam a-lGhazali dalam lhya’-nya: 
أن تكون نسيبة أعني أن تكون من أهل بيت الدين والصلاح فإنها ستربي بناتها وبنيها فإذا لم تكن مؤدبة لم تحسن.....إلخ
Artinya: Sebaiknya memilih wanita yang bernasab mulia, yakni dari keluarga yang peduli dan taat beragama. Sebab, kelak ia akan menjadi pendidik bagi putra-putrinya. jika ia tidak berpendidikan dan tidak berakhlak mulia, tentu ia tidak bisa memberi pendidikan dan pengajaran akhlak mulia kepada putra-putrinya. Oleh karenanya, Rasulullah bersabda: "Jauhilah khadlra’ aI-damni" Beliau ditanya siapakah khadla’ al-dammi. Rasulullah menjawab: “Wanita yang baik tapi tumbuh pada tempat yang kotor." (HR. Dar al-Quthni) (Ihya' 'Ulum aI-Din juz 2 hlm. 46-47) 

Lalu Bagaimana Hukumnya Menikah Dengan Wanita Di Luar Nikah. Apakah Ada Iddahnya?

Terjadi perbedaan pendapat di antara ulama salaf mengenai hukum menikahi wanita hamil di luar nikah. pertama, jika yang menikahi adalah pria yang menzinai, ulama sepakat hukumnya halal; dan jika wanita tersebut melahirkan anak enam bulan setelah pernikahan, maka nasab anak dapat diikutkan kepada pria yang menzinai dan menikahi tersebut. dan jika selisih pernikahan dan kelahiran anak tidak mencapai enam bulan, maka nasab anak tidak dapat diikutkan kepada pria yang menikahi. akan tetapi hanya sebatas nasab. bukan pada menjadi wali nikah.

kedua, jika yang menikahi pria lain/bukan yang menzinai, maka menurut mayoritas ulama, hukumnya halal; 

untuk masalah iddah, menurut malikiyyah berpendapat bahwa tidak halal menikahi wanita yang dizinai sebelum selesainya iddah, yaitu tiga kali menstruasi atau selama tiga bulan jika wanita tersebut tidak menstruasi.

menurut ulama syafi'iyyah, menikahi wanita yang dizinai tidak di haramkan dan tidak ada iddah. ini berdasarkan ayat و أحلّ لكم ماوراء ذلكم


Semoga bermanfaat

NOTE : Jika ingin mendapatkan email yang berisi artikel dari hujjahsantri.com silahkan berlangganan dengan mengisi email di bawah ini

status anak hasil zina


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Status Anak Hasil Zina"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel