Fikih Sebagai Benteng Islam


Fikih Sebagai Benteng Islam - Corak pemikiran Islam saat ini sedang mencoba mengembangkan diri. Berbagai pemikiran muncul. Semua ini berlatar belakang perkembangan masalah-masalah kehidupan yang perlu mendapatkan solusi. Dalam menyikapi hal ini ada dua pemikiran dalam setiap pencarian solusinya. Terbagi menjadi dua tipikal pemikiran Islam, tradisional (salaf) dan modern (muashir).
Ibarat sebuah bandul, kedua titik tolak itu (salaf & muashir) mewarnai polemik pemikiran yang justru meletakkan paradigmanya yang asik dinikmati. 

Fiqih sebagai benteng islam


Dari sana, variasi pemikiran nampak memiliki pandangannya masing-masing yang berangkat dari perhatian pemikiran Islam pada modernitas. Sebagai kemestian sejarah, modernitas adalah gejala positif yang bertujuan membawa manusia pada peradaban selama nilai-nilai moral masih dijaga.

Dengan builiding pemikiran di atas, fikih harus dipandang dari Perspektif sebagai legalitas syariat yang mengandung hukum-hukum tertentu, menurut tuntunan Al-Qur'an dan Hadits. Sebagai konsekuensi dari bagian utuh syariat, fikih harus mampu merangkum nilai-nilai yang diajarkan syariat secara umum.
Karena sifatnya reflektif (secara refleks), diperlukan kemampuan kognitif (usaha mengenali sesuatu melalui pengalaman sendiri) dalam menjabarkan teks-teks agama yang idealis kedalam realitas sosial yang empiris. Disinilah letak keurgensian ijtihad. Dan orang yang mampu ber ijtihad disebut 'Mujtahid'

Pada masa modern ini tidak ditemukan lagi seorang mujtahid yang credible, oleh karena itu muncullah program 'Bahtsul masail' dalam menyikapi problematika kekinian. Ini juga yang menjadi tempat berkumpulnya pemikiran "kaum intelektual sarungan”
Paradigma ijtihad itu dimaksudkan agar dalil-dalil yang mencakup dari berbagai disiplin ilmu itu dapat dipahami secara kontekstual. Sebab, acap kali dalil-dalil tersebut ibarat barang mati atau barang langit yang tidak applicable (dapat di pakai) lagi ditengah-tengah masyarakat. Teks-teks agama itu tidak disentuh (enthoucbel). Padahal syariat Islam “salihatun likulli zaman wa makan” Tentu saja hal ini karena tidak adanya sosok yang mampu menguraikan maksud dari dalil-dalil tersebut.

Jika ungkapan tersebut bermuara pada satu pemahaman bahwa aspek hukum merupakan bagian integral dari syariat Islam, maka hukum Islam itu akan selalu up to date sebab memiliki fleksibilitas dan elastisitas.

Selain itu juga watak manusia yang bersifat dinamis dalam setiap perubahan sosial (social change) dalam istilah sosiologi; kapan dan dimanapun akan selalu terjadi pada setiap manusia dan masyarakat yang berakibat pada perubahan hukum Islam. Oleh karenanya fikih-lah yang menjadi counter discourse dalam belantara politik pemaknaan yang tengah berlangsung.

Selanjutnya, fikih memunculkan adanya syariat Islam. Sedangkan syariat merupakan manifestasi ajaran Islam yang menjadi rahmat dan keberkatan bagi semesta. Dengan begitu, Islam menjadi agama yang ”menyemesta” dan ”membumi”. Posisi ini juga membuat Islam menjadi agama peradaban yang dianut dan relevan sepanjang zaman.
Dari sini sebenarnya dapat kita rasakan implikasi realistis Islam, bahwa Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, seperti keadilan dan lainnya, secara utuh dan integral. Bahkan tidak berhenti disitu. Islam juga memberi wawasan kemanusiaan yang luas dan menyeluruh bagi manusia, kapan dan dimanapun ia berada.

Hal itu telah menyebabkan syariat sangat penting untuk digali dan dilaksanakan. Ibarat pintu, syariat adalah gerbang utama realisasi Islam pada nilai-nilai kemanusiaan tadi. Melalui syariat, Islam menghendaki terciptanya masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai universal itu ke dalam praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan demikianlah, Islam mampu menegakkan HAM, persamaan, egalitarianisme, keadilan serta prinsip lainnya. Di samping itu, Islam mendambakan kemaslahatan bersama (nmshalih'ammah) yang tetap berdasar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Oleh karena itu fikih menjadi prioritas setiap pencari ilmu dalam membentengi Islam. Sebab terkadang yang sering disepelekan justru masalah masalah fikih oleh banyak orang saat ini. Dengan justru lebih berkonsentrasi kepada akidah Islam. Padahal sebenarnya fikihlah yang lebih dibutuhkan untuk memperbaiki substansi PTOblematika yang ada. Terlebih juga banyak aksi profokatif untuk meninggalkan fikih yang sebenarnya.

Responsibility dari para pakar sangatlah menggambarkan keluasaan suatu bidang tertentu, artinya setelah kita lakukan searching dan riset tidak ada satupun literatur naskah akidah (ilmu kalam) yang lebih dari 10 juz, sementara fikih begitu luas dan fleksible hingga ulama mampu menguraikan sampai 20 juz lebih dalam satu karya saja ini bukti rasionalitas dari ilmu fikih itu sendiri hingga cakupannya sangat luas.
Fikih mampu mengatur Negara, fikih juga yang mengatur politik dan pendidikan, ekonomi mikro dan makro, mengawal undang-undang kriminalitas, mencakup astronomi & antropologi, sains dan kedokteran, matematika, dan banyak lagi cakupannya. Sehingga fikih sangat relefan & comitted dengan perkembangan zaman,

Semua itu menuntut pengertian yang mendalam, bahwa fikih selalu membentuk paduan undang-undang (qanun) yang acceptable, fleksibel, dan lentur sesuai perkembangan zaman. Dan perlu ditegaskan, ini tidak berarti menafikan fikih sebagai sumber hukum yang valid, tetapi lebih sebagai pencarian relevansi syariat dalam kehidupan umat.

Oleh karena itu, fleksibilitas yang dimaksud adalah dalam kerangka konteksualisasi syariat dalam dawruzaman (perpustakaan waktu) yang tak terelakkan ini. Dalam terminologi Al-Qur'an, hal itu digambar dengan kata ”Yatadabbarun, Yafqahun, Ya'qilun” yang menunjukkan pada proses yang sama, yaitu bertadabbur, bertafakkur dan berpikir. Hal itu lagi-lagi merujuk pada fungsi yang berubah-ubah sesuai konteks orang memaknainya. Dari sini, syariat sulit, kalau tidak mustahil mengalami dan stagnasi substansial, karena turut serta mewarnai perkembangan zaman, sekaligus comparable dengan waktu.

Syekh Ali ]um'ah memiliki pandangan yang cukup luas perihal pola berpikir yang baik dalam Islam melalui buku-buku fatwanya. Bisa kita pelajari mengingat mesir memiliki banyak kemiripan dengan pandangan dan pola pikir di Indonesia.

Semoga bermanfaat...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Fikih Sebagai Benteng Islam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel