Pengertian Hadloroh wa Tsaqofah


Budaya Indonesia

Islam telah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Sementara Islam paripurna baru muncul paska hadirnya Nabi Muhammad SAW. Sejak itu Islam terus berkembang hingga saat ini. Islam merubah nasib orang jahiliyah yang penuh kekejaman dan kegelapan menuju kehidupan yang lebih bermartabat. 

Islam mencoba memberikan sistematika kehidupan yang simple, mudah diterima dan rasional. Islam menjaga tradisi budaya yang baik dan menambahkan budaya yang lebih baik. Islam memiliki “tsaqofah Islamiyah” yang luhur sehingga Islam mampu tersebar hingga saat ini di seluruh dunia. Dan dengan tsaqofah ini pula Islam mampu membangun hadloroh islamiyah yang mengalahkan segenap hadloroh yang pernah ada di muka bumi. 

Perkembangan Islam dirangkum dalam sejarah Islam terbagai menjadi 3 periode, yakni pertama disebut dengan periode klasik (650-1250 M.). Periode kedua disebut periode pertengahan (1250-1800 M.). Periode ketiga adalah periode modern (1800-sekarang). 

Periode pertama yakni periode klasik (650-1250 M.), Islam mengalami masa keemasan atau masa kejayaan dengan dibuktikan adanya luas wilayah kekuasaan Islam, adanya integrasi antar wilayah Islam dan adanya puncak kemajuan Islam di bidang ilmu dan sains.

Namun sekitar tahun 1000-1250 M. keutuhan umat Islam di bidang politik pecah, kekuasaan khalifah menurun akhirnya tahun 1251 M. dikuasai dan dihancurkan Hulagu Khan. 

Periode kedua, yakni periode pertengahan (1250-1800M.). Pada periode pertengahan terbagi menjadi dua fase. Pertama, fase kemunduran (1250-1500 M.) zaman ini desentralisasikan dan disintegrasi semakin meningkat. Banyak wilayah yang memisahkan diri dari kekuasaan pusat. Kedua, fase 3 kerajaan besar (1500-1800 M.) dimulai zaman kemajuan (1500-1700 M) dengan tiga negara, yaitu Kerajaan Utsmani di Turki, Kerajaan Syafawi di Persia, dan Kerajaan Mughaldi India yang berjaya di bidang literatur dan arsitektur. 

Periode ketiga yakni periode modern (1800 M sekarang). Periode ini disebut juga periode pembaharuan karena merupakan zaman kebangkitan dan kesadaran umat Islam terhadap kelemahan dirinya dan adanya untuk memperoleh kemajuan dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang pengetahuan dan teknologi. 

Dalam periode perkembangannya, Islam telah membuktikan mampu menghadirkan penyegaran penyegaran di segala aspek kehidupan. Melalui tsaqofah wal hadloroh yang merupakan salah satu jargon kebanggaan Islam. 

Terjadi simpang siur dikalangan masyarakat dalam memaknai artikulasi tsaqofah dan hadloroh oleh karena itu perlu kiranya untuk kita bahas. 

a. Pengertian Tsaqofah Dan Hadloroh 

Tsaqofah mencakup segala aspek keagamaan, filsafat hidup, moralitas, bidang studi yang erat kaitannya dengan wahyu dari langit. Maka segala sesuatu yang jika dikaitkan dengan tsaqofah bisa menjadikannya tertolak, dipakai dalam keseharian, menjadi keraguan, menjadi penghayatan dalam kehidupan manusia. Dan hal itu terus berlangsung sampai hari akhir. 

Hadloroh bermakna keberlangsungan kehidupan makhluk hidup dengan mengaitkan pada Alam, materi, dan karakteristik kehidupan. Andas-andas bahasa Arab menerjemahkan hadloroh dengan kata ”civilization” dengan arti “حضارة”. Dan pada masa ini hampir disepakati bahwa kata ”hadloroh” berarti sekumpulan ‘ fenomena sosial yang memiliki karakter fisik, ilmu, seni teknik yang ada dalam masyarakat, dan merupakan fase kemajuan dalam perkembangan manusia. 

Sebenamya kata “حضارة”. sudah dipakai oleh Ibnu Khaldun dalam muqaddimahnya. Namun kata "hadloroh" di sini belum dipakai untuk menunjukkan sebuah peradaban yang memiliki definisi kompleks seperti di atas.

 Kata ”hadhoroh” digunakan Ibnu Khaldun untuk menunjukkan lawan dari pola hidup yang berpindah-pindah, atau yang disebut dengan sjbfn. Sedangkan untuk menunjukkan sebuah peradaban, Ibnu Khaldun menggunakan istilah ”umran. ” 

Tsaqofah secara gampangannya adalah pengaruh agama pada individu manusia atau pengaruh pemikiran atas dirinya sendiri. Sementara hadloroh pengaruh kecerdasan otak pada lingkungan sekitar dan tabiat. 

Tsaqofah juga bermakna suatu bidang yang menjadikan manusia sebagai manusia seutuhnya. Suatu bidang pekerjaan, menegemen atas segala sesuatu baik yang umum maupun terperinci. 

Tsaqofah merupakan penciptaan keberlangsungan kehidupan individu, hadloroh merupakan upaya perubahan bagi alam kehidupan. 

Agama, akidah, drama, permainan, syair, musik, sastra, kebudayaan, dongeng, keindahan, aspek kehidupan politik dan undang-undang yang menguatkan kepribadian seseorang dalam bersikap toleran, bersikap baik pada orang lain. Kesemuanya ini adalah tsaqofah kemanusiaan yang ada kaitan erat antara anjuran dari langit dengan realita di dunia. 

Sementara hadloroh merupakan keberlanjutan kemajuan material kehidupan bukan ruhnya. Sebagaimana kata teori Darwin, ”Kemajuan biologi bukan kemajuan manusia”. Gambarannya 

seperti nenek moyang kita yang peradabannya lebih tertinggal dalam beberapa aspek dari pada peradaban kita di kehidupan modem ini. 

Yang menghidupkan tsaqofah adalah individu manusia sementara yang menghidupkan hadloroh adalah segenap 

masyarakat. Sebab tsaqofah adalah kemampuan individu yang ditimbulkan melalui proses perkembangan, dan hadloroh adalah kemampuan tabiat yang dilandasi sains dan teknologi. 

Tsaqofah itu mencetuskan umat yang khusus mendalami kepercayaan, sejarah, dan tradisi leluhumya. Tsaqofah itu erat kaitannya dengan personalitas dan metode kehidupan masyarakat. 

Dengan tsaqofah maka akan muncul misi untuk menjadikan hadloroh islamiyah dimanapun ia berada. Kemudian personal yang menjadi eksekutornya berorientasi pada beberapa cita-cita besar. Diantaranya: 

1. Menjadikan setiap orang menyembah Allah SWT. dan menghilangkan kesyirikan. 

2. Mengikat umat Islam dalam satu konsep leadership guna mengembalikan kepada peradaban besamya. 

3. Menciptakan lingkungan yang islami aman, damai, dan sejahtera. 

4. Menjaga tradisi leluhur kita dalam kegiatan sosial kultur serta amaliyah ubudz'yah yang tidak menyalahj syari’at. 

5. Menjadikan setiap orang sebagai sufi guna terbentuk kepribadian yang ber-iman, muslim, dan muhsin. 

6. Menyebarkan tsaqofah di segenap institusi, organisasi dan kampus. 

7. Membangun perguruan tinggi dan pesantren terpadu untuk mampu mengikuti persaingan zaman. 

8. Menseriusi penelitian dan lembaga riset, terjemah dikalangan umat Islam. 

9. Mendapatkan kesempatan mengatur kebijakan dalam meletakkan perundang-undangan Negara. 

10.Merefleksikan kembali kesadaran untuk menghidupkan kejayaan peradaban Islam setelah pasca Walisongo (untuk di Indonesia), Andalus (di Spanyol), Utsmaniyah (di Turki) agar mampu mengalahkan pemikiran neo imperialis Barat.

11.Memperhatikan dan mengembangkan bakat pemuda sebagai   tonggak masa depan.

12.Memperhatikan pendidikan dan pekerjaan dimasa depan. 13.Bersatu padu dan meningkatkan ukhwah Islamiyah. 

14.Mempertahankan tradisi shalafus sholih dan pesantren salaf dengan segenap keunggulannya guna menjaga keaslian Syariat Islam.

15.Menjadikan setiap orang Muslim yang bertsaqofah mampu memecahkan masalah yang dihadapinya.

b. Tantangan Tantangan yang dihadapi Tsaqofah Islamiyah


    1.   Perang pemikiran ”ghozwul fikri” oleh bangsa Yunani


Metode pemikiran bangsa Yunani yang berdasar pada filsafat sempat menjadi virus yang menjangkit dalam tubuh Islam. Imam Ghozali dan Ibnu Taimiyah juga memberikan kontribusi dalam mengcounter falasifah ini. Maka mereka mengarang kitab ”Maqosidul Falasifah”, ”Tahafutul Falasifah”, "Naqdul Mantiq”, "Dar’u Ta’arudh Aql wa Naql.”

    2.   Tantangan Neo Imperialism Barat


Tantangan imperialis Barat sangat berat, terutama saat media massa, ekonomi, serta teknologi mereka kuasai. Gereja menjadi pusat komando mereka yang mengatur segala kebijakan perang dan sosial. Peraturan yang dihasilkan pun terbukti sejak dulu dinilai haus darah dan tidak berprikemanusiaan, hal ini bis kita lihat dari fakta sejarah. Media Sosial menjadi senjata terkuat mereka sebab dengan menguasai media mereka akan mampu meresapkan dan melesatkan doktrinisasi pemikiran mereka tanpa harus keluar dari rumah. 

c. Kekuatan Tsaqofah Islam


Ilmu syariat merupakan bukti kongkrit tsaqofah islamiyah yang diwariskan dari masa kemasa. Kekuatan turats islamiyah (manuskrip Islam) sangat membanggakan meskipun sebagian besar telah dimusnahkan musuh Islam dalam perang masa silam. Dengan sisa yang ada, lahir kembali jutaan kitab dan literatur yang masih ada hingga hari ini. 

d. Jenis Hadloroh Hadloroh yang saya ketahui ada delapan 8 delapan jenis yaitu: 


Hadloroh Ortodoxs, Hadloroh Islamiyah, Hadloroh Barat, Hadloroh Confucius, Hadloroh Jepang, Hadloroh Latin Amerika, Hadloroh Afrika, dan Hadloroh Eropa. 

Yang membedakan mereka secara dasar terletak pada asas sejarah, bahasa, keyakinan, tsaqofuh, dan yang terpenting Agama. 

Hadloroh Islamiyah sangat unggul dibanding lainnya sebab segala aspek tercakup di dalamnya, bahkan perkara terkeci] sangat detail diatur dalam Islam serta terintegrasi dengan pengakuan ilmiah bahwa metode Islam tidak tersaingi, dimulai seperti tata cara masuk ke toilet dan cara tidur yang baik, 

Kelahiran hadloroh Islamiyah dimulai dengan turunnya ayat; 

”Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” 

Ayat pertama yang turun ini memberikan pemahaman kepada setiap orang Jahiliyah akan sesuatu yang tidak mereka lakukan sebelumnya. 

Inilah agama baru untuk menggambarkan secara detail tentang agama ini membutuhkan waktu yang sangat lama, namun setidaknya bisa tergambar sekilas dari percakapan Iakfar bin abu Tolib yang berkata pada Raja Najashi tentang agama ini: ”Duhai raja, kita adalah bangsa [uhiliyah yang menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan kekejian, memutus silaturahmi, mencederai tetangga, menindas yang lemah oleh yang kuat. Kita terus seperti ini hingga akhimya Allah SWT mengutus seorang Rasul kepada kita, kita mengetahui luhur nasabnya, kejujurannnya, kesuciannya, melepaskan apa yang pernah kita sembah dun para leluhur. Baik dalam berkata, menunaikan amanat, bersilaturahmi, memperbaiki mencegah dari kekejian, meninggalkan perkataan dusta, melarang memakan harta unak yatim, dun menuduh zina wanita yang baik, kita diperintah untuk menyembah Allah semata, kitapun percaya dun mengikuti apa yang diturunkan Allah, kita hanya mengembah Allah, tidak menyekutukan dengan sesuatu, mewajibkan sholat, zakut, puasa, dan haji, serta kita mengharamkan apa yang diharamkan olehnya. ” (Siroh Nabawiyah Ibn Hisyam juz; 1 hal; 363). 

Tsaqofah dan Hadloroh Bangsa Indonesia Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan tidak terlepas dari hadloroh dan tsaqofah yang besar juga. Meskipun tidak termasuk dalam catatan sejarah peradaban dunia akan tetapi bangsa Indonesia sudah memiliki filosofi kehidupan yang tergolong baik yang lebih kita kenal dengan wejangan Ian pitutur Iowa. 

Hingga Islam datang ke Indonesia, menjadikan segenap bangsa yang besar ini takluk dalam keindahan tsaqofah Islamiyah, terbukti di tanah Iawa khususnya Umat Hindu dan Budha disulap menjadi pemeluk Agama Islam oleh Walisongo, tentunya dengan metode dakwah beliau yang mengkolaborasikan tsaqofah Islamiyah dan tsaqofah Jawa. Counter cultur yang diaplikasikan Walisongo menjadikan tsaqofah Islam di Indonesia menjadi sangat indah dan diakui oleh orang di seluruh dunia. 

Belum lagi solving problem and solving cultur yang mana pesantren sebagai tradisi kebiasaan Umat Hindu di Iawa kemudian di sulap menjadi tradisi Islam yang menyesuaikan dengan konsep Ahlussufah. 

Istighotsah, tahlil, kenduri, slametan, hataman, siraman, menjadi kultur sosial yang indah dan menggambarkan kehidupan gotongroyong. Dibidang seni dan budaya Walisongo tidak mengabaikan unsur kesenian yang dikemas dalam bentuk sesuai kebiasaan Jawa namun bernuansa religius. Inilah dakwah kelengkapan yang tidak pernah melupakan unsur terkecil umat Islam di Indonesia. 

Di bidang kajian dan pemikiran para ulama dan masyayikh juga proaktif dalam mengarang turats Islamiyah, kitab-kitab kuning dan syair. Hingga ulama Indonesia tersohor hingga keluar negeri. Dibidang organisasi keislaman, umat Islam Indonesia terlihat sangat aktif dalam peran serta membangun Negara Indonesia. 

Kekuatan besar tsaqofah Indonesia inilah yang menurut saya menjadikan setiap umat Muslim di Indonesia sangat cinta kepada tanah air. Yang mana cinta tanah air itu sendiri adalah bagian dari kesempumaan iman. Dari tsaqofah yang ada inilah kemudian akan terbentuk hadloroh (peradaban) Islam yang khas di Indonesia yang kelak bertujuan kepada satu goal, yaitu menjadikan Indonesia bangsa ”Gemah Ripah Loh Iimzwi. ” 

Tsaqofah Pemikiran Sufi di Tarim Kita tidak akan sampai kepada masa Al- Faqih A1 Muqoddam kecuali kita akan menemukan munculnya tasawuf sebagai orientasi pemikiran di Kota Tarim Yaman dan berpegang teguhnya masayarakat pada Madzhab Ash’ary dan Maturidi dalam akidah serta madzhab empat dalam fikihnya. 

Sebenarnya menurut kisah yang tersebar bahwa tasawuf ini datang dari Kota Maroko yang dibawa oleh seorang sufi bernama Abdurrahman Maq’ad dan Abdullah As Sholih dengan anjuran dari pembesar sufi Maroko yaitu Syeikh Syuaib Abi Madyan At Tilimsani. Yang kemudian dipegang oleh seorang yang telah sempurna sifat ilmiah dan keagamaannya untuk menjadi qutub suji' Hadhramaut. (Jam'iyatul Haq Bil Hadhramaut, Hal.29) 

Segenap ulama yang hijrah ke Hadhramaut datang tidak dengan tutur kata yang baik serta contoh yang ditiru. Sejak masa muhajir ilallah Ahmad bin Isa (345 H.) yang mana kalangan keturunan Bani Alawi tersebar di Hadramaut dari beliau, meskipun sebelumnya telah tersebar para penyebar ilmu dari keluarga Bafadhal, A1 Khatib, Baqusair, Bamarwan, Ba isa, Ba Abid hingga masa A1 Faqih Al Muqoddam Muhammad bin Ali Baalawi (731 H.) dan Syeikh Abdurrahman As-Saqqaf (819 H.). 

Kemudian Imam Abdullah bin Abi bakar Al-Idrus memiliki karya yang mulai menampakkan pemikiran sufi khas Hadhramaut dari kitab yang bernama ”Al Kibritul Ahmar", dan Syeikh Ali bin Abi Bakar As Sakron ”Al- Burqoh Al-Masyiqoh”, Syeikh Abu Bakar bin Salim ”Mi'rojul Arwah”. 

Kemudian berkembang juga munculnya syair sufi yang berperan dalam menanamkan pemikiran sufi dan memberikan pengajaran sufi dengan cara yang indah, begitu juga tradisi-tradisi lokal yang baik kemudian dikemas dengan kemasan yang apik dan islami seperti tarian-tarian khas Tarim, atau perlombaan dan perayaan khas Tarim. 

Hanya saja yang paling nampak pada masa itu para ulama sufi sangat memperhatikan setiap individu dengan hubungan kepada Allah, zuhud atas dunia, tarbiyatun nafsi. Mereka memiliki corak berpikir yang i’tidal (tengah-tengah) sebagaimana kita bisa lihat dari pemikiran Al Imam Abdullah Al Haddad (1132 H.) dalam beberapa karyanya yang berbeda. 

Dan fase ini termasuk fase-fase terbaik di Tarim baik secara pemikiran dan tsaqofah, sebab pada masa-masa ini terjadi penetapan dan pengukuhan bagaimana pendidikan Hadhramaut 

secara keseluruhan berkat adanya ulama seperti Imam Abdullah Al Haddad. 

Dari imam Abdullah Al Haddad inilah kemudian tersebar corak pemikiran sufi dari yaman melalui karya-karyanya yang fenomenal dan segenap muridnya yang juga penyebar manhaj sufi, dilanjutkan perjuangan Al Imam Al-Habib Ahmad Bin Zain A1 Habsyi (1144 H.), Al Imam Abdurrahman Balfaqih (1162 H.), kemudian Imam Muhammad bin Zain Bin Sumaith (1172 H.). 

Maka berbuahlah persatuan pemikiran yang di prakarsai oleh Imam Abdullah Al Haddad ini hampir diseluruh dunia, dan peninggalannya masih tersisa hingga hari ini dalam konsep pemikiran Hadhramaut. Dan Tarim resmi dinyatakan oleh UNESCO sebagai Kota Peradaban Islam Bersejarah, mengingat segenap peninggalan Islam, tradisi, pemikiran yang sangat asli terjaga hingga hari ini.

Semoga bermanfaat

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pengertian Hadloroh wa Tsaqofah "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel