Imam Asy'ari Mencabut Madzhabnya


Benarkah Imam Asy'ari Mencabut Madzhabnya?


Ada tesis yang berkembang di kalangan sebagian pakar, khususnya kalangan orang-orang Wahhabi, bahwa perjalanan pemikiran al-lmam al-Asy'ari melalui tiga fase perkembangan dalam kehidupannya.

Pertama, fase ketika al-Asy'ari mengikuti faham Mu'tazilah dan menjadi salah satu tokoh Mu'tazilah hingga berusia 40 tahun.


Kedua, fase dimana al-Asy'ari  keluar dari aliran Mu'tazilah dan merintis madzhab pemikiran teologisnya dengan mengikuti madzhab Ibn Kullab.

Ketiga, fase dimana al-Asy'ari keluar dari madzhab yang dir'intisnya yang mengikuti madzhab Ibn Kullab dan kembali ke madzhab salaf yang saleh atau Ahlussunah wal jama'ah dengan menulis karangannya yang berjudul al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah.

Berdasarkan hal ini, mereka berkesimpulan, bahwa madzhab al-Asy'ari yang berkembang dan diikuti oleh mayoritas kaum Muslimin hingga dewasa ini, adalah pemikiran al-Asy’ari pada fase kedua yang mengikuti madzhab Ibn Kullab yang bukan Ahlussunnah, dan telah dicabut oleh al-Imam al-Asy'ari sendiri, dengan kitab terakhir yang ditulis oleh al-Asy'ari yaitu al-Ibanah 'an Ushul al-Diyanah.
Dengan demikian, madzhab Asy'ari yang ada sekarang sebenarnya mengikuti madzhab Ibn Kullab yang bukan Ahlussunnah, tidak mengikuti madzhab al-Asy'ari dalam fase ketiga yang asli Ahlussunnah (versi Wahhabi). Demikian tesis yang berkembang dan disebarluaskan oleh orang-orang Wahhabi tersebut.

Tentu saja tesis tersebut sangat lemah baik secara historis maupun secara ilmiah. Sebelum kita mengkaji tesis di atas satu persatu, ada baiknya kita rinci terlebih dahulu makna yang tersembunyi (hidden meaning) di balik tesis itu.
Apabila hal tersebut dikaji, ada tiga makna yang tersembunyi di balik tesis tersebut.

Pertama, perkembangan pemikiran al-lmam al-Asy'ari melalui tiga fase dalam kehidupannya, yaitu Mu'tazilah, mengikuti madzhab Ibn Kullab, dan terakhir kembali ke ajaran Ahlussunnah Wal. jama'ah. Ini adalah tesis pokok yang dipropagandakan oleh kalangan Wahhabi. Tesis ini menyembunyikan dua tesis berikutnya di baliknya.

Kedua, Abdullah bin Sa'id bin Kullab bukan pengikut Ahlussunnah Wal-jama'ah.

Ketiga, kitab al-Ibanah al Ushul al-Diyanah merupakan fase terakhir dari kehidupan al-Asy'ari, yaitu fase kembalinya al-Asy'ari ke pangkuan ajaran salaf yang saleh atau Ahlussunnah Wal-Jama'ah.
Pemikiran al-asy’ari melalui tiga fase?

Benarkah pemikiran al-Imam al-Asy'ari melalui tiga fase perkembangan dalam kehidupannya?


Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mengamati dan mengkaji sejarah kehidupan al-Asy'ari yang ditulis oleh para pakar.

Al-Imam al-Asy'ari merupakan salah satu tokoh kaum Muslimin yang sangat populer dan memiliki reputasi yang jelas. Dia bukan tokoh kontroversial dan bukan tokoh misterius yang perjalanan hidupnya tidak diketahui orang, lebih-lebih berkaitan dengan hal penting seperti yang kita bicarakan ini. Seandainya kehidupan al-Asy'ari seperti dalam tesis di atas, melalui tiga fase perkembangan, tentu saja para sejarawan akan melaporkan dan menjelaskannya. Dan tentu saja informasi tersebut akan populer dan tersebar luas sebagaimana halnya informasi keluarnya al-Asy'ari dari faham Mu'tazilah.

Semua sejarawan yang menulis biografi al-Asy'ari pasti melaporkan kisah naiknya al-Asy'ari ke atas mimbar di Masjid Jami' kota Basrah dan berpidato menyatakan keluar dari faham Mu'tazilah, karena informasi tersebut sangat penting bagi seorang tokoh sekaliber al-Asy’ari.

Di sini kita bertanya, adakah sejarawan yang melaporkan kisah keluarnya al-Asy'ari dari manhaj pemikiran Abdullah bin Sa'id bin Kullab? Tentu jawabannya, tidak ada.

Apabila kita menelaah buku-buku sejarah, kita tidak akan mendapatkan laporan yang menyinggung informasi tersebut baik sccara eksplisit maupun secara implisit. justru informasi yang kila dapatkan adalah kesepakatan para sejarawan bahwa setelah al-Imam al-Asy'ari keluar dari faham Mu'tazilah, dia kembali ke ajaran salaf yang saleh dan menulis karangan-karangannya sesuai dengan ajaran salaf yang saleh seperti kitab al-lbanah dan lain-lain yang ditulisnya dalam rangka membela madzhab Ahlussunnah Wal-Jama'ah. 

Al-Imam Abu Bakar bin Furak berkata :

Syaikh Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari radhiyallhu anhu pindah dari madzhab Mu'tazilah ke madzhab Ahlussunnah Wal-jama'ah dan membelanya dengan hujjah-hujjah rasional dan menulis karangan-karangan dalam hal tersebut...“ (al-hafizh ibn asakir, tabyin kidzb al-muftari hal 127)

Sejarawan terkemuka, al-Imam Syamsuddin Ibn Khallikan berkata:

Abu al-Hasan al-Asy'an' adalah perintis pokok-pokok akidah dan berupaya membela madzhab Ahlussunnah. Pada mulanya Abu aI-Hasan adalah sorang Mu'tazilah, kemudian dia bertaubat dari pandangan tentang keadilan Tuhan (versi Mu'tazilah) dan kemakhlukan al-Qur'an di Masjid jami' kota Basrah pada hari jum‘at.” (al-imam ibn khallikan, wafayat al-a’yan juz 3 hal 284)

Sejarawan terkemuka. al-Hafizh al-Dzahabi berkata: 

Kami mendapat informasi bahwa Abu al-Hasan al-Asy'ari bertaubat dari Faham Mu'tazilah dan naik ke Mimbar di Masjid jami‘ kota Basrah dengan berkata, "Dulu aku berpendapat dengan kemakhlukan al-Qur'an. Sekarang aku bertaubat dan bermaksud membantah terhadap faham Mu‘tazilah.( adz-dzahabi,siyar a’lam al-nubala juz 15 hal 89)

Sejarawan terkemuka, lbn Khaldun berkakata: 

Hingga akhirnya tampil Syaikh Abu al-Hasan al-Asy'ari dan mendebat sebagian tokoh Mu'tazilah tentang masalah-masalah shalah dan ashlah, lalu dia membantah metodologi mereka dan mengikuti pendapat Abdullah bin Said bin Kullab, Abu al-Abbas al-Qalanisi dan al-Harits al-Muhasibi dari kalangan pengikut salaf dan Ahlussunnah. 

Laporan lbn Khaldun tersebut menyimpulkan bahwa setelah al-Asy'ari keluar dari faham Mu'tazilah, dia mengikuti madzhab Abdullah bin Said bin Kullab, al-Qalanisi dan al-Muhasibi yang merupakan pengikut salaf dan Ahlussunnah. 

Demikian pula, laporan semua buku-buku sejarah yang menulis biografi al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari seperti Tarikh Baghdad karya al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, Thabaqat al-Syafi'iyyah  al-Kubra karya al-Subki, Syadzarat al-Dzahab karya lbn  al-Imad al-Hanbali, al-Kamil fi al-tarikh karya Ibn al-Atsir, Tabyin Kidzb al-Muftari karya al-Hafizh Ibn Asakir, dan lain-lain, semuanya sepakat bahwa setelah al-Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari keluar dari faham Mu'tazilah, dia kembali ke madzhab Salaf dan Ahlussunnah Wal-jama'ah. 

Disamping itu, seandainya realita rujuknya al-Imam al-asy’ari dari madzhab yang dirintisnya memang benar, sudah barang tentu hal tersebut akan diketahui dan dikutip oleh murid-murid dan para pengikutnya. Mereka sebagai orang terdekat al-Imam al-Asy'ari dan yang intens melakukan kajian tentang hal ihwal pemikiran dan sejarah perjalanan hidupnya tentu akan lebih mengetahui daripada orang lain yang bukan murid dan pengikutnya, lebih-lebih dalam kejadian penting berkaitan dengan tokoh besar sekaliber al-Asy'ari, yang pasti akan menjadi buah bibir kaum pelajar dan para ulama.

Ternyata ketika kita merujuk kepada pernyataan murid-murid dan para pengikut al-Asy'ari, kita tidak menemukan indikasi historis tentang hal tersebut. justru realita yang kita dapatkan, mereka bersepakat bahwa al-Imam al-Asy'ari setelah meninggalkan faham Mu'tazilah, dia pindah ke madzhab Salaf dan Ahlussunnah Wal-jama'ah seperti yang diikuti oleh al-Harits al-Muhasibi, Ibn Kullab, alQalanisi, al-Karabisi dan lain-lain. 

Apabila kita mengkaji karya-karya para ulama pengikut dan pendukung madzhab al-Asy'ari sepertj .karya-karya al-Qadhi Abu Bakar al-Baqillani, al-Ustadz Abu Bakar bin Furak, Abu Bakar al-Qaffal al-Syasyi, Abu Ishaq al-Syirazi, al-Haflzh al~ Baihaqi dan Lain-lain, kita udak meuemukan indikasi historis 

apalagi realita historis, bahwa al-Asy'ari telah mencabut madzhab yang dirintisnya, sehingga tidak rasional apabila dikatakan bahwa al-Asy'ari telah merujuk madzhabnya namun tidak diketahui oleh para murid dan pendukungnya. 

Kalang
an yang mewacanakan rujuknya al-Imam al-Asy'ari dari madzhab yang dirintisnya bersandar pada metodologi aI-Asy‘ari dalam kitabnya al-lbanah 'an Ushul al-Diyanah dan sebagian kitab-kitab lainnya yang mengikuti metodologi tafwidh berkaitan dengan sifat-sifat Allah dalam al-Qur'an dan sunnah.

Melodologi tafwidh ini adalah metodologi mayorilas ulama salaf yang saleh. Berdasarkan hal ini, al-Asy'ari dianggap menyalahi atau meninggalkan metodologi lbn Kullab yang mereka tuduh tidak mengikuti metodologi salaf. Dari sini berkembang sebuah pertanyaan, apakah isi kitab al-lbanah yang diklaim sebagai madzhab salaf bertentangan dengan metodologi Ibn Kullab, atau dengan kata Iain, apakah lbn Kullab bukan pengikut madzhab salaf seperti yang ditulis oleh al-Asy'ari dalam at-Ibanah? Pertanyaan di atas membawa kita untuk mengkaji tesis berikutnya. 

  • lbn Kullab Bukan Ulama Salaf dan Ahlusunnah Wal-jama'ah ?


Set
elah al-Imam al-Asy'ari meninggalkan faham Mu'tazilah. dia mengikuti metodologi Abdullah bin Sa'id bin Kullab al-Qaththan al-Tamimi. Tesis ini telah menjadi kesepakatan kita dengan kelompok yang mengatakan bahwa pemikiran al-Asy'ari melalui tiga fase. Tetapi mereka berbeda dengan kita bahwa metodologi lbn Kullab sebenarnya sama dengan metodologi salaf, karena lbn Kullab sendiri termasuk tokoh Ahlussunnah Wal-jama'ah yang mengikuti metodologi salaf. Hal ini bisa dilihat dengan memperhatikan pernyataan para pakar berikut ini. 

Al-lmam Tajuddin al-Subki berkata: 

Bagaimanapun lbn Kullab
termasuk Ahlussunnah. . . Aku melihat al-lmam Dhiyauddin al-Khathib, ayah al-Imam Fakhruddin al-Razi. menyebutkan Abdullah bin Said bin Kullab dalam akhir kilabnya Ghayat al-Maram fi 'llm al-Kalam, berkata:
"Di antara teolog Ahlussunnah pada masa Khalifah al-Makmun adalah Abdullah bin Said al-Tamimi yang telah mengalahkan Mu'tazilah di majlis al-Makmun dan mempermalukan mereka dengan argumentasinya." (al-subki,thabaqat al-syafiiyyah al-kubra juz hal 300)

Al-Hafizh Ibn Asakir al-Dimasyqi berkata: 

Aku pernah membaca tulisan Ali bin Baqa‘ al-Warraq, ahli hadits dari Mesir, berupa surat yang ditulis oleh al-Imam Abu Muhammad Abdullah bin Abi Zaid al-Qairawani, seorang pakar fiqih madzhab al-Maliki dan tokoh terkemuka pengikut Imam Malik di Maroko pada masanya, kepada Ali bin Ahmad bin Ismail al-Baghdadi al-Mu'tazili sebagai jawaban terhadap surat yang ditulisnya kepada kalangan pengikut madzhab Maliki di Qairawan karena telah memasukkan pandangan-pandangan Mu'tazilah.
Surat tersebut sangat panjang sekali, dan sebagian isinya, Ibn Abi Zaid menjawab begini :

 "Anda telah menisbahkan Ibn Kullab terhadap bid'ah, padahal Anda tidak pernah menceritakan suatu pendapat dari Ibn Kullab yang membuktikan bahwa dia memang layak disebut ahli bid‘ah. Kami tidak pernah menemukan seorang ulama yang menisbatkan Ibn Kullab terhadap ajaran bid'ah. justru informasi yang kami terima, Ibn Kullab termasuk pengikut Ahlussunnah yang melakukan bantahan terhadap jahmiyah dan pengikut ahli bid'ah lainnya. (al-hafidz ibn asakir, tabyin kidz al-muftari. Hal 405)

Data historis yang disampaikan oleh aI-Hafizh lbn Asakir di atas memuat kesaksian yang sangat penting dan ulama sekaliber aI-lmam lbn Abi zaid al-Qailawani terhadap lbn Kullab,bahwa ia terrmasuk pengikut Ahlussunnah WaI-Jama'ah dan bukan pengikut ahli bid'ah. 

Al-hafidz ib asakir al-dimasyqi berkata :

Ibn Kullab adalah tokoh teolog yang paling dekat ke Ahlussunnah bahkan termasuk juru debat mereka. 

Pernyataan ad-dzahabi tersebut di pertegas oleh syekh syuaib al-arnauth yang mengomentarinya dengan mengatakan: 

lbn Kullab adalah pemimpin dan rujukan Ahlussunnah pada masanya.
Imam al-Haramain menyebutkan dalam kitabnya al-irsyad bahwa dia termasuk sahabat kami (madzhab al-Asyan'). 

Demikian pula al-Haf
idh Ibn Hajar al-‘Astqalani menyebutkan Ibn Kullab scbagai pengikut salaf dalam hal meninggalkan ta‘wil terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkajtan dcngan sifat Allah. Mereka juga disebut dengan golongan mufawiddhah (yang melakukan tafwidh) – Ibn Hajar, Lisan al-mizan juz 3 hal 291

Dari paparan di atas dapa
tlah disimpulkan bahwa al-Imam lbn Kullab termasuk ulama Ahlussunnah Wal-jama'ah dan konsisten dengan metodologi salaf yang saleh dalam pokok-pokok akidah dan keimanan. Madzhabnya menjadi inspirasi al-lmam Abu a|-Hasan al-Asy‘ari, perintis madzhab Asy'ari. 

Di sini mungkin ada yang bertanya, apakah m
etodologi lbn Kullab hanya diikuti oleh al-Imam al-Asy'ari? jawabannya adalah Tidak. Metodologi lbn Kullab tidak hanya diikuti oleh al-Imam al-asy’ari, akan tetapi juga diikuti oleh ulama besar, antara lain al-imam Bukhari pengarang Shahih bukhari,

Dalam konteks ini,al-Hafidz ibn Hajar berkata : 

Al-Bukhari dalam semua yang disajikannya berkaitan dengan penafsiran lafal-lafal yang gharib (aneh), mengutipnya dari pakar-pakar bidang tersebut seperti Abu Ubaidah, al-Nazhar bin Syumail, al-Farra' dan lain-lain.
Adapun kajian-kajian fiqih, sebagian besar diambilnya dari al-Syafi'i, Abu Ubaid dun sesamanya. Sedangkan permasalahan-permasalahan teologi (ilmu kalam), sebagian besar diambilnya dari al-Karabisi, Ibn Kullab dan sesamanya. (Ibn Hajar, Fath al-bari syarh shohih bukhori juz 1 hal 293) 

Pernyataan al-Hafizh Ibn Hajar tersebut menyimpulkan bahwa al-Imam Abdullah bin Said bin Kullab termasuk pengikut metodologi salaf dan Ahlussunnah Wal-jama'ah, oleh karena itu dia juga diikuti oleh al-Imam al-Bukhari, Abu al-Hasan al-Asy'ari dan lain-lain. 

Di sini mungkin ada yang bertanya, apabila Ibn Kullab termasuk tokoh salaf dan Ahlussunnah Wal-jama'ah yang diikuti oleh banyak ulama seperti al-Bukhari dan ulama lainnya, lalu mengapa Ibn Kullab dituduh menyimpang dari metodologi salaf?

Hal tersebut sebenarnya berangkat dari persoalan yang sepele, yaitu tentang pendapat apakah bacaan seseorang terhadap al-Qur'an termasuk makhluk atau tidak.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal dan pengikutnya berpandangnn untuk tidak menetapkan apakah bacaan seseorang terhadap al-Qur'an ilu makhluk atau bukan. Menurut imam Ahmad, pandangan bahwa bacaan seseorang terhadap al-Qur'an termasuk makhluk adalah bid'ah. Sementara al-Karabisi, Ibn Kullab, al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Bukhari, Muslim dan lain-lain benpandangan tegas, bahwa bacaan seseorang terhadap al-Qur'an adalah makhluk.

Berangkat dari perbedaan pandangan tersebut akhirnya kelompok Ahmad bin Hanbal menganggap kelompok Ibn Kullab termasuk ahli bid'ah, meskipun sebenarnya kebenaran dalam hal terscbut berada di pihak Ibn Kullab dan kelompoknya.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa Ibn Kullab bukanlah ulama yang menyimpang dari metodologi salaf dan Ahlussunnah Wal-Jama'ah, sehingga madzhabnya juga diikuti olch al-Bukhari, al-Asy‘ari dan lain-lain.

Sekarang apabila demikian, dari mana asal-usul pendapat bahwa al-Imam al-Asy’ari telah meninggalkan madzhab dan pendapat-pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab?

Pertanyaan ini mengajak kita untuk mengkaji tesis yang terakhir berikut ini.

  • Kitab al-lbanah an Ushul al-Diyanah 


Kitab al-lbanah an Ushul al-Diyanah diklaim sebagai argumentasi kelompok yang berpandangan bahwa pemikiran al-Asy'ari melalui tiga fase perkembangan dalam kehidupannya. Memang harus diakui. bahwa al-Asy'ari dalam kitab al-ibanah dan sebagian kitab-kitab lain yang juga dinisbahkan terhadapnya mengikuti metodologi yang berbeda dengan kitab-kitab al-Asy'ari yang pemah ditulisnya.


Dalam al-Ibanah al-Asyari mengikuti metodologi tafwidh yang diikuti oleh mayoritas ulama salaf berkaitan dengan ayat-ayat mutasyabihat. Berdasarkan hal ini, sebagian kalangan memahami bahwa al-Imam al-Asy'ari sebenamya telah mencabut madzhabnya yang semula mengikuti metodologi Ibn Kullab, dan kini beralih ke metodologi salaf. 

Di atas telah dipaparkan, bahwa Ibn Kullab bukanlah teolog yang menyalahi ulama salaf. Bahkan dia termasuk ulama salaf dan konsisten mengikuti metodologi mereka dalam masalah sifat Allah, yaitu metodologi tafwidh sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Lisan al-Mizan.

Paparan di atas sebenarnya telah cukup dalam membatalkan asumsi bahwa al-Asy’ari meninggalkan metodologi Ibn Kullab dan pindah ke metodologi salaf, karena Ibn Kullab sendiri termasuk ulama salaf yang konsisten dengan metodologi salaf. 

Lalu bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang menjadi dasar kelompok yang mengatakan bahwa al-Asy'ari telah mencabut pendapatnya yang mengikuti Ibn Kullab?

Di sini kita menjawab, bahwa Kitab al-lbanah an Ushul al-Diyanah yang asli justru membatalkan tesis bahwa al-Asy'ari telah mencabut pendapatnya yang mengikuti lbn Kullab,

Karena Kitab al-lbanah an Ushul al-Diyanah di tulis justru mengikuti metodologi ibn Kullab, sehingga tidak mungkin diklaim bahwa al-Asy'ari telah mcncabut pendapat tersebut.
Ada beberapa data historis yang menyatakan bahwa al-asy'ari menulis kitab al-ibanah mengikuti metodologi lbn Kullab, antara lain pernyataan al-Hafidzh lbn Hajar al-'Asqalani dalam lisan al-Mizan berikut ini: 

وعلى طريقته، يعني إبن كلاب، مشى الأشعري في كتاب الإبانة
“metodologi ibn kullab diikuti oleh al-asy’ari dalam al-ibanah”
(ibn hajar, lisan al-mizan juz 3 halaman 291)

Pernyataan al-Hafizh Ibn Hajar ini menambah keyakinan kita bahwa al-lmam lbn Kullab konsisten dengan metodologi salaf yang saleh dan termasuk ulama mereka, karena kitab al-lbanah yang ditulis oleh al-Asy'ari pada akhir hayatnya dan mengikuti metodologi salaf, juga mengikuti metodologi al-lmam lbn Kullab.

Hal ini mengantarkan pula pada kesimpulan bahwa metodologi salaf dengan metodologi lbn Kullab adalah sama, dan itu yang diikuti oleh al-lmam al-Asy'ari setelah keluar dari Mu'tazilah. 

Dengan demikian, pernyataan al-Hafizh lbn Hajar tersebut juga membatalkan tesis bahwa pemikiran al-Asy'ari mengalami tiga fase perkembangan. Bahkan pernyataan tersebut semakin menguatkan bahwa pemikiran al-Asy'ari hanya mengalami dua fase perkembangan saja,

yaitu fase ketika mengikuti faham Mu'tazilah, dan fase kembalinya al-Asy'ari ke metodologi salaf yang diikuti oleh Ibn Kullab, aI-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabii. al-Bukhari, Muslim, Abu Tsaur, al-Thabari dan lain-lain.Dalam fase kedua ini al-Asy'ari menulis kimbnya, at-Ibanah. 

Data lain yang mempertegas bahwa kitab al-Ibanah yang ditulis oleh al-Asy‘ari sesuai dengan metodologi Ibn Kullab adalah informasi sejarah yang menyatakan bahwa ketika al-Asy'ari menyodorkan kitab al-Ibanah tersebut kepada sebagian ulama Hanabilah di Baghdad yang sangat tekstualis, mereka menolaknya karena tidak setuju terhadap metodologi al-Asy'ari.
Dalam hal ini, al-Hafizh al-Dzahabi berkata: 

Ketika al-Asy'an' da
tang ke Baghdad, dia mendatangi Abu Muhammad al-Barbahari (pemuka madzhab Hanbali) dan berkata, "Aku telah membantah al-jubba'i. Aku telah membantah Majusi. Aku telah membantah Kristen." Abu Muhammad nwnjawab, "Aku tidak mengerti maksud perkataanmu dan aku tidak mengenal kecuali apa yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad." Kemudian al-asy'ari pergi dan menulis kitab al-ibanah. Ternyata al-Barbahari temp tidak menerima al-Asy'ari. (ad-dzahabi, siyar a’lam al-nubala juz 15 hal 90)

Data historis di atas menyimpulkan, bahwa al-Barbahari yang mewakili kelompok Hanabilah, tidak menerima konsep yang ditawarkan oleh al-Asy'ari. Kemudian al-Asy'ari menulis kitab al-Ibanah dan diajukan kepada al-Barbahari, ternyata ditolaknya juga. Hal ini menjadi bukti bahwa al-Ibanah yang asli ditulis oleh al-Asy'ari tidak sama dengan paradigma Hanabilah yang kini  diikuti oleh kaum Wahhabi.

Kitab al-lbanah yang asli justru mengikuti metodologi Ibn Kullab. 
Perlu diketahui pula, bahwa s
ebelum periode al-Asy’ari, kelompok Hambilah yang cenderung tekstualis itu telah menolak paradigma yang ditawarkan oleh lbn Kullab, al-Bukhari, Muslim, Abu Tsaur, al-Thabari dan lain-lain terkait dengan masalah bacaan seseorang terhadap al-Qur'an apakah termasuk makhluk atau bukan, serta paradigma penerimaan ilmu kalam dalam membantah kelompok-kelompok di luar Ahlussunnah Wal-Jama'ah. 

Sekarang apabila kitab al-Ibanah yang asli sesuai dengan metodologi Ibn Kullab, lalu bagaimana dengan kitab al-Ibanah yang beredar dewasa ini y
ang menjadi dasar kaum Wahhabi bahwa al-Asy'ari telah memjuk madzhabnya?

Berdasarkan kajian yang mendalam, para pakar berkesimpulan bahwa kitab al-Ibanah yang dinisbatkan terhadap al-Asy‘ari tersebut dan beredar dewasa ini penuh dengan tahrif, distorsi, pengurangan dan penambahan. Terutama kitab al-Ibanah yang diterbitkan di Saudi Arabia dan Lebanon. 

Memang ki
tab al-Ibanah juga dicetak di Mesir dengan ditahqiq oleh Fauqiyah Husain berdasarkan penelitian dari empat manuskrip. Hanya saja meskipun edisi Fauqiyah Husain ini merupakan edisi terbitan terbaik bagi kitab al-Ibanah, edisi tersebut belum sepenuhnya bersih dari distorsi, pengurangan dan penambahan. Hal ini dapat dilihat dengan membandingkan edisi tersebut dengan naskah al-Ibanah yang dikutip oleh al-Hafizh Ibn Asakir al-Dimasyqi dalam Tabyin Kidzb al-Muftari (hamad al-sinan dan fauzi al-anjari. Ahl al-sunnah al-asy’ariyyah syahadat ulama al-ummah wa addilatuhum hal 51-69)



Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Imam Asy'ari Mencabut Madzhabnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel