Hukum Seputar Tunangan Dalam Islam - Pertanyaan dan Jawaban

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tunangan


pict tunangan


”Duhai para pemuda, barang siapa diantara kalian mampu membayar mahar maka menikahlah. Karena sesungguhnya hal itu lebih menjaga pandangan dan kemaluan”. (Al Hadits)

Menikah merupakan Sunnah Nabi yang banyak didambakan oleh setiap orang. Sebab pahala orang yang menikah akan dilipat gandakan pada setiap ibadahnya. Nah, biasanya Setiap orang yang akan menikah terlebih dahulu melalui prosesi ”khitbah" (pertunangan). Berikut ini merupakan beberapa hal dalam hukum Islam berkaitan dengan tunangan yang saya baca dari buku karya DR Ali Ahmad Al- Qulaisy Yaman. 


Pertanyaan : Apakah tunangan itu? 

Jawab : Epistimologi tunangan, ”Yaitu suatu proses dimana seorang pria mengajukan permohonan kepada pihak wanita yang di dambakan untuk menjadi calon istrinya kelak. Permohonan ini diutarakan pada si wanita ataupun keluarganya.” 

Terkadang yang bersangkutan meminta sendiri atau juga mewakilkan pada orang. Tunangan sebenarnya merupakan sebuah janji untuk menikahi, bukan termasuk akad nikah dan tidak ada kaitan hukum seperti pernikahan. Setiap pihak boleh menggagalkan atau mengganti dengan orang lain. Walaupun telah disepakati perihal mahar ataupun pernikahannya. Hanya saja Makruh hukumnya melanggar janji tunangan dan termasuk maksiat jika digagalkan tanpa sebab. 

Pertanyaan : Apakah hikmah tunangan


Jawab : Sesungguhnya akad pernikahan termasuk salah satu prosesi yang sangat sakral serta mengandung hal-hal yang berat. Sebab hal ini menyangkut kehidupan manusia yaitu sual'u ikatan yang akan dijalin sehidup semati. Dan dalam Syariat Islam hukum tunangan memih'ki hukum tersendiri. (lihat: Ahwal S. Abi Huroiroh hal.28) 

Tata cara melamar ada dua cara yaitu: 

1. Tasrih: Dengan mengungkapkan secara terus terang mengenai maksud melamar pada si wanita. Contoh: ”Aku ingin menikahimu ”. 

2. Ta’rid: yaitu dengan cara sindiran kepada pihak wanita mengenai maksud melamar. Contoh: ”Seandainya Tuhan menakdirkan aku memiliki istri aku berharap seperti Anda”. 

Pertanyaan : Apakah hukum tunangan? 

Jawab : Seperti yang telah diterangkan di atas bahwa ini merupakan tradisi yang diperbolehkan sebelum pernikahan agar tidak didahului orang lain, namun seandainya tidak melalui proses tunangan juga tidak masalah (Mughni hal.135 juz.2). 

Sementara sebagian ulama lain mengatakan hukumnya sunnah, agar supaya sebelum pemikahan kedua belah pihak merasa betul-betul mantap untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya dan saling memahami (Mughni hal 135 juz 2).


Pertanyaan : Apa saja syarat diperbolehkannya melamar? 


Jawab : Pertama, tidak ada sesuatu yang menghalangi kedua Pihak dalam hal syan'at untuk melangsungkan pemikahan saat itu. Sebab tunangan adalah perantaraan menuju pemikahan.
Kedua, si wanita bukan mempakan tunangan orang lain. Sebab melamar tunangan orang lain hukumnya haram seperti Hadits Nabi yang artinya "Tuiaklah scseorang melamar tunangan saudaranya hingga ia menikahinya atau meninggalkamtya, " HR. Bukhari dan Nasa’i “

Oleh karena itu ulama melarang melamar wanita yang sudah dilamar orang lain dan diterima oleh pihak wanitanya serta belum ada proses pembatalan dari kedua belah pihak atau mengganti dengan orang lain. Jika pihak yang melamar merestui tunangannya dilamar orang lain maka hukumnya boleh. 

Yang dimaksud saudara disini adalah saudara sesama muslim, maka dikecualikan jika melamar tunangan orang kafir atau fasiq. (Nailul Awthor 122/6) 

Pertanyaan : Bagaimana hukum jika saat dilamar wanitanya diam saja (tidak menolak dan tidak juga menerima) apakah boleh bagi yang lain ikut melamar? 


Jawab : Qoul Azhar dalam Madhab Syafi'i memperbolehkan melamar diatas lamaran orang yang belum memberi kepastian (Qowanin Ahkam Syar'iyah Hal.217). Hal ini bertendensi dari kejadian 3 orang sahabat yang melamar Fatimah binti Qiis. Menunjukkan boleh jika si wanita belum memberi kepastian pada seseorang. 

Pertanyaan : Bolehkah melamar janda yang masih memiliki masa iddah? 


Jawab : Wanita janda terbagi menjadi 4 empat kriteria. Pertama, janda karena ditinggal mati maka masa iddahnya 4 bulan 10 hari. Kedua,janda yang sedang hamil baik dicerai ataupun ditinggal mati maka masa iddahnya hingga ia melahirkan. Ketiga, janda yang sedang menstruasi maka iddahnya 3 kali sucian. Keempat, janda yang tidak berhaid karena masih kecil atau sudah monopous. Maka iddahnya 3 bulan. 

Hukumnya melamar wanita yang ber-iddah sebab di talak roj'i (talak yang bisa dirujuk) adalah haram baik tasrih ataupun ta’rid menurut jumhur ulama. 

Sementara melamar wanita yang ber-iddah sebab ditinggal mati suaminya maka hukumnya haram jika dengan tasrih (terus terang) dan diperbolehkan dengan ta’rid (sindiran) menurut jumhur ulama. 

Hikmah dilarangnya melamar wanita janda adalah demi menghormati perasaan si suami beserta segenap keluarganya dan berterima kasih atas segala kebaikan suaminya. Sebab jika diperbolehkan akan menjadi perbincangan banyak orang dan dinilai dengan pandangan buruk. 

Hukumnya melamar wanita yang ditalak bain adalah haram secara tasrih menurut jumhur. Sementara melamar wanita yang ditalak bain bainunah kubro ulama syafi'iyah memperbolehkannya. Sementara yang ditalak bainuah sughro dilarang sebab suami masih bisa merujuk si wanita. (Badai' Shonai‘ Hal.2026/4) 


Pertanyaan : Bolehkan wanita melamar seorang pria? 


Jawab : Sebenamya hukum asal dalam melamar diperuntukkan bagi wanita sebab wanita biasanya cenderung malu untuk mengungkapkan. Sekaligus mengangkat derajat wanita. 

Namun bukan berarti wanita tidak boleh melamar laki-laki yang dia sukai jika sesusai kesetaraan dan kemuliaannya. Seperti yang telah dilakukan Sayyidatuna Khadijah yang melamar Sayyidina Rasulullah SAW. Begitu juga yang dilakukan Nabi Syuaib yang menawarkan putrinya untuk dinikahi Nabi Musa AS. dan dikalangan sahabat juga ada yang melakukannya seperti said bin musayyab. 

Pertanyaan : Apakah hukum melihat calon tunangan? 


jawab : Sebenamya syariat Islam melarang laki-laki melihat wanita sebagaimana wanita juga dilarang melihat laki laki. Sebab terkadang memandang wanita tanpa ada hajat bisa menimbulkan fitnah dan membangkitkan syahwat. 

Dikecualikan melihat wanita secara tidak sengaja. Oleh karena Islam tidak terlalu berat tapi juga tidak terlalu bebas. Saat orang lahiliah dahulu wanitanya tidak menutup auratnya maka para wanita memohon pada Nabi agar ada beda antara wanita Islam dan Iahiliyah, sehingga turunlah ayat hijab. 

Lalu setelah itu ketika ada hajat untuk melihat wanita dalam rangka proses belajar mengajar, pengobatan, atau bermaksud menikahinya. Syariat Islam kembali menghadirkan syariat mengenai kebolehan melihat wanita. 

jika seseorang bermaksud menikahi seorang wanita maka boleh baginya melihat wanitanya, seandainya membuatnya tertarik maka boleh baginya melamarnya. Seperti Hadits Nabi yang artinya : suatu ketika Nabi berkata pada seorang laki-laki yang ingin menikah. 

Beliau berkata, ”Apakah engkau telah melihatnya?” Dia berkata, ”Belum ya Rasul”. Rasul menjawab, ”Pergilah dan lihatlah dia” (Nailul Awtor hal. 24/6).

Pertanyaan : Apa saja yang diperbolehkan melihat dari anggota tubuhnya? 


Jawab : Diperbolehkan bagi lelaki untuk melihat wajah dan kedua telapak tangannya saja. Sebab wajah menunjukkan kadar kecantikannya, dan telapak tangannya menunjukkan ciri-ciri dari kurus atau gemuknya badannya. Atas dasar boleh memandang dalam kondisi dlorurot, maka dlorurot dikira-kira sesuai kadamya saja. Dalam kata lain tidak perlu lagi melihat pada anggota lainnya sementara Imam Abu Hanifah menambahkan boleh melihat telapak kakinya juga (Majmuk hal.289/15). 

Sementara Imam Ahmad bin Hanbal mempebolehkan melihat pada anggota yang biasanya terlihat saat ia bekerja yaitu wajah,telapak tangan, leher, kepala, telapak kaki ( Mughni ibnu Qudamah hal.554/6) 

Pertanyaan : Kapan waktu melihat calon tunangan? 


Jawab : Mayoritas ulama mengatakan saat ia bermaksud menikahi wanita itu disertai kemampuannya membayar mahar dan fisiknya. Sementara ulama Syafi’iyah mengatakan waktunya adalah saat ingin melamar. Dengan cara yang tanpa disadari si wanita jika kemudian si wanita memberikan keputusannya. 


Pertanyaan : Bolehkah berduan dengan tunangan atau keluar dengan tunangan? 


Jawab : Tidak diperkenankan berduaan bagi mereka tanpa ditemani mahromnya karena beberapa alasan: 1) Mencegah terjadinya fitnah; 2) Menjaga kemuliaan wanita agar tidak dianggap wanita murahan; 3) Begitu juga kemuliaan keluarganya; 4) Juga demi menjaga masa depan nama baik mereka berdua; 5) Menghindari maksiat dan perzinahan; 6) Sebagai pengamalan dari Syiar Islam. 

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya jika terlanjur menikahi tunangan orang? 


Jawab : Yang perlu diingat bahwa syariat Islam sangat mencegah terjadinya permusuhan sesama muslim. Oleh karenanya lumhur (sebagian besar ulama) mengatakan keharaman menikahi tunangan orang dan pelakunya mendapatkan dosa. Namun apabila sudah terlanjur maka hukum pemikahannya selama memenuhi syarat dan G mkunnya maka adalah Sah. (Bidayatul Mujtahid 3/2). 

Pertanyaan : Bolehkan mengganti calon tunangan? 


jawab : Memang benar bahwa pertunangan bukanlah akad pemikahan akan tetapi lebih kepada janji untuk menyatukan kedua pasangan dalam mahligai rumah tangga. Maka boleh saja jika mengganti dan' salah satu pihak hanya saja hukumnya makruh jika pergantian tersebut tanpa sebab. Hal itu termasuk melanggar janji dan ia bermaksiat. 

Pertanyaan : Bagaimana jika pihak pelamar telah terlanjur memberi mahar atau memberikan hadiah? 


Jawab : Hukumnya tafsil (terbagi) sebagai berikut : 

1. Jika berupa mahar maka pihak pelamar boleh meminta kembali mahamya. Apabila rusak mahamya maka harus mengganti dengan harga mahar tesebut. Hal ini berlaku bagi semua pihak sebab mahar tidaklah wajib sebelum pernikahan. 

2. Iika berupa hadiah maka ulama berbeda pendapat sebagian mengatakan wajib dikembalikan sebagian lainnya tidak. ltupun jika hadiahnya berupa sesuatu yang tidak rusak seperti Cincin atau uang. 

Pertanyaan : Apa saja kriteria calon istri yang dianjurkan agama? 


Jawab : Sesungguhnya seorang istn' merupakan tempatnya berbagi dan pasangan sehjdup semati yang akan menjadi ibu bagi segenap putra putrinya. Oleh karenanya dirasa perlu mencan' kriteria yang pas menjadi pendamping kita. Beberapa hal telah dijelaskan mengenai kriteria calon istri yang perlu diperhatikan: 

1.Taat beragama. Disini Islam sangat menganjurkan agar mencari istri yang taat beragama sebab agama yang menyelamatkan jiwa manusia dari ketergelinciran. Dan wanita yang taat beragama akan menanamkan dalam kesehariannya sesuai yang diperintahkan Islam serta menanmkan kepada anak anaknya ketakwaan dan kebajikan sejak diri. Selain itu wanita yang taat beragama akan menemaninya di Surga. Namun sebaliknya wanita yang suka bermaksiat akan menariknya ke Neraka. 

2.Kecantikan. Termasuk penilaian kecantikan juga saat seseorang menilai kecantikan dad sisi agamanya sehingga si laki-laki tidak akan mmoleh kepada yang lain. Kadur ukuran kecantikan itu 

sendiri relatif menurut setiap pria. Biasanya wanita tcrsobut jika dipandang tidak membosankan. 

3. Bisa memiliki keturunan. Sebab salah satu tujuan syariat Islam adalah memperbanyak keturunan umat Sayyidina Muhammad SAW kelak. 

4. Perawan. Petujuk syariat Islam memilih perawan sebab ia lebih mudah diatur dan mudah beradaptasi dengan suaminyA. Yang terpenting dalam dirinya tidak terkandung sisa-sisa seorang lelaki. Dan janda cenderung susah menghapus mantan suaminya. 

5. Kafa’ah (kesetaraan). Kesetaraan latar belakang juga terkadang mempengaruhi adanya pernikahan yang langgeng. Hal ini juga berkaitan dengan pemberian nafkah jika misalnya seorang yang sederhana menikahni orang kaya yang terbiasa mendapat perlakuan istimewa. Namun ulama lebih tepatnya mendahulukan sisi agama dari pada yang lainnya jika tidak ada yang memenuhi seluruh kriteria tersebut




Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Hukum Seputar Tunangan Dalam Islam - Pertanyaan dan Jawaban"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel