Syarh al-Hikam Ibn 'Athaillah - Bagian 1


أرح نفسك من التّدبير. فما قام به غيرك عنك لا تقم به لنفسك
“istirahatkanlah dirimu atau pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah di jamin di selesaikan oleh selain kamu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya”

Sejatinya, perkara rezeki sudah di atur oleh Allah semenjak engkau belum ada. 

Syekh Ibn ‘Athaillah berkata :

أرح نفسك من التّدبير

“istirahatkanlah dirimu atau pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu”

Syarh al-hikam bagian pertama - hujjah santri


Istirahatkanlah dirimu dari memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Yakni jangan banyak berangan-angan dan memikirkan hal-hal yang belum terjadi, seperti halnya memikirkan makanan apa untuk hari esok atau bulan depan. Karena Allah sudah mengira-ngirakan rezeki untukmu jauh sebelum engkau ada, begitu juga ajalmu, nikmat dan cobaan untukmu akan terjadi, sehingga pikiran dan angan – angan itu tidak berguna dan sia-sia belaka

Tidak pernahkah engkau berpikir, dulu sebelum engkau ada, engkau pun tidak pernah memikirkan dan tidak meminta pada Allah untuk mewujudkanmu, lalu Allah berkehendak untuk menampakanmu dengna kehendakNya sendiri bukan dengan adanya permintaanmu. Allah menampakanmu dengan kehendakNya sendiri melalui tulang rusuk kedua orang tuamu, lalu Allah memindahkan dalam kandungan ibumu, mulai dari segumpal darah selama 40 hari, lalu menjadi segumpal daging selama 40 hari, lalu Allah membentukmu menjadi laki-laki atau perempuan selama 40 hari dan memberinya minum. Kemudian, Allah menjadikan darah haid sebagai makanan dan minuman janin tersebut, dan Allah menetapkan ajal, rezeki, cobaan dan nikmat untuknya begitu pula keberuntungan muslihat atau kegagalan

Kemudian Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu (lahir), engkau pun berkeinginan untuk makan dan minum, saat itu engkau sangat lemah dan tidak berdaya untuk mengunyah. Sehingga Allah menjadikan air susu ibumu sebagai makanan dan minuman supaya engkau mampu bertahan. Engkau menjadi beban yang teramat menyusahkan, akan tetapi Allah menaruh rasa belas kasih pada hati kedua orang tuamu. Sehingga mereka mau merawatmu dengan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang. Mereka mengayun menimangmu dan menyiapkan kebutuhanmu, mulai engkau bayi sampai engkau besar. Lalu Allah memberi engkau kecerdasan, memberi akal sesuai kadarnya, memberi iman, ilmu dan lainnya. 

Apakah semua itu diperoleh sebab ikhtiyar dan permohonanmu kepada Allah? Atau karena angan-angan dan pemikiranmu? Tidak!

Semua itu terjadi atas kehendak qadla’ qadar dan belas kasih Allah. Jika begitu halnya, maka apalah guna engkau ikut serta mengangankan, memikirkan, dan mengira-ngirakan?

Karena orang yang ikut serta memikirkan perkara yang bukan menjadi urusannya itu tidak ada gunanya. Oleh karena itu Syekh Ibnu ‘Atha‘illah berkata: 

“Sebab apa yang sudah dijamin diselesaikan oleh selain kamu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya." 

Apa yang sudah diurus untukmu oleh Tuhanmu (Allah), janganlah engkau turut mengurusnya. 

Apa yang sudah ditanggung oleh Allah untukmu, apakah itu dalam hal-ihwal rezekimu serta lainnya, maka engkau jangan ikut serta mengurusnya, karena Allah berfirman: 

“Tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini kecuali Allah sudah menanggung rezekinya...” (QS. Hud [11]: 6) 

Andaikan seorang raja dunia sudah menanggung kebutuhan duniawi selama hidupmu, dia memberimu sebuah bukti berupa surat yang di dalamnya ada tanda tangan raja itu sendiri, bahwa beliau benar-benar sudah menanggung makanan dan pakaian untukmu sepanjang hidupmu, maka engkau akan benar-benar mau mempercayainya dengan adanya surat dari raja tersebut.

Nah, bagaimana bila yang menjamin dan menanggungnya adalah raja dari semua raja yang menguasai langit dan bumi, lebih-lebih Dia sudah menurunkan sebuah surat melalui kitab suci-Nya (Al-Qur’an). Lalu apakah engkau tidak mempercayainya dan engkau masih saja memikir-mikirkan masalah pangan dan sandangmu, dalam artian, tidak mempercayai janji Allah.

Maka dengan adanya imanmu yang seperti ini, sungguh amat hina dirimu. Jikalau engkau mau mempercayai janji raja dunia yang lemah tapi tidak mau mempercayai janji Allah, Dzat yang menguasai langit dan bumi, maka sungguh telah hilang keimanan pada dirimu, maka renungkanlah nasehat ini, wallahu a’lam. 

Ketahuilah, wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya sesuatu yang bisa menjadikan hilangnya tadbir (memikirkan suatu hal yang belum teriadi atas dasar keinginan nafsu dan syahwat) dan ikhtiyar ‘ adalah melihat pada 10 perkara: 

Pertama, ketahuilah bahwa Allah sudah mengatur urusanmu, sebelum engkau ada. 
Kedua, engkau akan mengetahui bahwasanya tadbir yang engkau lakukan itu karena engkau tidak mengetahui kebaikan Allah padamu. Seorang mukmin pasti tahu bahwa meskipun dia tidak men-tadbir urusan dirinya, Allah pasti memberikan yang terbaik baginya.
Apakah engkau tidak mendengar mman Allah di dalam Al-Qur’an? 

...Dan barang siapa yang berserah diri kepada Allah maka Allahlah Dzat  yang mencukupinya... (QS. Ath-Thalaq [65]: 3) 

Maka ketika engkau ingin mengurus suatu kebaikan untuk dirimu maka janganlah engkau mengurusnya lagi akan tetapi hanya berserah dirilah kepada Allah. 

Ketiga, ketahuilah bahwa sesungguhnya ketentuan (qadar) Allah itu tidak berjalan sesuai tadbirmu, bahkan kebanyakan hal yang terjadi pada dirimu itu adalah sesuatu yang tidak pemah engkau pikirkan dan rencanakan. 

Keempat, ketahuilah bahwasanya Allahlah yang menguasai segala kerajaan; 7 langit, 7 bumi, ‘arsy, kursy, dan tidak ada satupun yang ikut serta berkuasa. Kesemuanya itu tunduk pada apa yang diperintahkan Allah Swt. dan berserah diri pada tadbir Allah, maka lebih besar manakah antara kepala manusia dan langit beserta bumi seisinya? Sehingga engkau tidak mau menerima tadbir Allah dan engkau masih saja ikut serta mengurus dirimu. 

Kelima, engkau sudah mengetahui bahwa engkau adalah milik Allah, jika engkau sudah dimiliki Allah maka dirimu bukan lazi milikmu dengan dalil bahwa engkau tidak bisa membuat kesembuhan pada dirimu sendiri. Sehingga, sesuatu yang bukan menjadi milikmu maka tidak layak bagimu untuk mengurusnya, karena engkau akan meng-ghasab, sebab memerintah yang bukan milkmmu. Adapun sesuatu yang engkau miliki maka kepemilikan itu hanya menurut hukum syara’, bukan menurut hukum hakiki. Maka pahamilah!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Syarh al-Hikam Ibn 'Athaillah - Bagian 1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel