Syubhat Wahhabi : Maulidan Beragama Tradisi Dan Fanatik Agama


Sebagian mereka (ada) mengatakan bahwa umat Islam merayakan Maulid Nabi
telah "beragama Tradisi" atau "Fanatik Terhadap Tokoh Bid'ah"


وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya
mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat
petunjuk?" (QS. Al
Baqarah: 170).




Ayat diatas biasanya digunakan para pengingkar Maulid untuk menyudutkan orangorang yang mereka tuduh sebagai pelaku bid'ah.

Di dalam buku Ensiklopedia Bid'ah hal. 84 (buku wahabi) disebutkan begini, 

"Bila mereka diajak untuk mengikuti Kitab alQur'an dan Sunnah, dan diajak meninggalkan apa yang mereka kerjakan yang bertentangan dengan keduanya (alQur'an dan asSunnah) mereka berdalil (berargumen) dengan madzhabmadzhab mereka dan dengan pendapat guruguru, orang tua dan nenek moyang mereka."

Orang awam akan terhenyak mendengar ayat ini, lalu mereka akan membenarkan penjelasan kaum pengingkar Maulid, kemudian mengikuti pendapat mereka.

Padahal lagilagi mereka telah melakukan penipuan yang sangat fatal, yaitu:

(a). Ayat tersebut di atas berbicara tentang orang
orang kafir atau musyrikin penyembah berhala yang tidak mau diajak untuk hanya menyembah kepada Allah dengan alasan mengikuti keyakinan para leluhur dan nenek moyang mereka dalam menyembah berhala. Keterangan seperti ini bisa didapat di dalam kitab tafsir yang mana saja, dan itu berarti para ulama tafsir tidak ada yang berbeda pendapat tentang maksud ayat ini. Hanya pengingkar Maulid (wahabi) yang mengarahkan maksud ayat itu kepada umat Islam yang mereka tuduh sebagai ahli bid'ah, padahal penafsiran mereka yang semacam inilah yang lebih pantas disebut bid'ah.

Sebagai contoh, Imam Ibnu Katsir (Mufassir Madzhab Syafi’i) mengatakan tentang ayat tersebut didalam kitab tafsirnya :

“Allah berfirman ; “apabila dikatakan kepada orangorang kafir yang
musyrik itu, ‘ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul
Nya dan tinggalkan kebodohan yang kalian lakukan”,
mereka menjawab :

“tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang kami peroleh dari nenek moyang kami” yakni menyembah berhala dan tandingan tandingan Allah”.

“Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abi Muhammad, dari
Ikrimah atau Sa’id Ibnu Zubair, dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan
berkenaan dengan segolongan orang Yahudi yang diajak oleh Rasulullah untuk memeluk Islam, lalu mereka menjawab bahwa mereka hanya mau mengikuti apa yang mereka dapati dari apa yang nenek moyang mereka lakukan”

(b). Kaum pengingkar Maulid, dengan penafsiran ayat di atas, bukan hanya memfitnah orangorang muslim yang dituduh melakukan bid'ah saja, tetapi juga sekaligus memfitnah guruguru dan pendahulu mereka atau nenek moyang mereka yang Muslim lagi shaleh yang mengajarkan amalanamalan kebaikan seperti Maulid Nabi dan yang lainnya berdasarkan prinsip ajaran Islam.

Para guru (Masyayikh) dan pendahulu yang alim dan shaleh itu mereka anggap sebagai orangorang yang "tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk",

padahal ratusan bahkan ribuan jilid "kitab kuning" dalam berbagai
cabang ilmu agama telah mereka hasilkan dan telah menjadi hantaran petunjuk
bagi banyak orang dari zaman ke zaman.

Salahkah bila seorang muslim ditanya, "Kenapa kamu mengadakan Maulid ?" lalu ia menjawab, "Karena kami mengikuti apa yang telah dilakukan oleh guru guru kami dan orangorang tua kami sejak dahulu", sedangkan yang mengikuti dan yang diikuti samasama Muslim dan samasama memandang kegiatan tersebut sebagai sebuah kebaikan yang tidak bertentangan dengan prinsip Islam ?

Sungguh, hanya orang berpikiran picik saja yang menganggap sama antara orang Muslim yang mengikuti jejak pendahulunya yang muslim dengan orang kafir atau Musyrik yang mengikuti pendahulunya yang kafir atau musyrik juga.

(c). Dengan mengajukan ayat di atas sebagai dalil, kaum pengingkar Maulid seolah mendeklarasikan diri sebagai orangorang yang mengikuti " apa yang telah diturunkan Allah", sedang selain mereka tidak. Seharusnya mereka bertanya, apakah Allah menurunkan perintah untuk menyamakan orang Muslim dengan orang kafir atau musyrik?

Mereka juga seharusnya bertanya, apakah mereka benarbenar tidak mengikuti guruguru dan pendahulu mereka dalam sikap mereka yang sangat keterlaluan itu ?

Bila ternyata Allah tidak menurunkan perintahNya untuk menyamakan Muslim dengan kafir atau musyrik, dan bila sikap yang keterlaluan itu tidak pernah dicontohkan oleh para guru dan pendahulu mereka, maka ajaran siapakah yang mereka ikuti sehingga mereka merasa paling benar dan selain mereka dianggap salah atau sesat ? 

Selama ini, sebagaimana sudah diketahui secara umum, tidak ada yang mengajarkan arogansi seperti itu dalam hal apapun selain iblis, saat ia berkata,

“Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya (Adam), karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah" (QS. Shaad : 76)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel