Syubhat Wahhabi : Maulid Menambah-nambahi Perkara Agama



Tidak jarang kelompok salafi wahhabi membuat syubhat untuk menolak perayaan maulid. Mereka meyakini bahwa maulid itu perbuatan munkar yang wajib mereka perangi. Masya Allah..
Padahal jauh sebelum Muhamad bin Abdul wahhab lahir di muka bumi sebagai perusak aqidah, mayoritas ulama merayakan maulid dengan penuh suka cita dan kebanggaan.

Mereka juga menulis di buku mereka, sebagai berikut : "Jelaslah bahwa Islam adalah sempurna, mencakup segala aspek kehidupan, tidak perlu ditambah dan tidak boleh dikurangi" (lihat Ensiklopedia Bid'ah, hal. 20)

"Mengadaadakan hal baru dalam agama, seperti peringatan Maulid, berarti beranggapan bahwa Allah Swt. belum menyempurnakan agama Nya bagi umat ini" (lihat Ensiklopedia Bid'ah, hal. 8).



Assayyid Muhammad bin Alawi AlMaliki didalam kitab Maulidnya, mengatakan: 

“alasan (tuduhan) ini catat sebab tidak ada sama sekali dari orang Muslim baik dari kalangan orang awam pun yang berkeyakinan seperti itu, apalagi dari kalangan ulama. Dan bukan semua yang tidak dilakukan oleh Nabi dan para salaf, lalu dilakukan generasi setelahnya merupakan penyempuranaan terhadap agama dan penambahan terhadap syariat. Tidak dan sama sekali tidak. Jika seperti itu, lalu apa gunanya bab Masalah Ijtihad? 

Beliau berkata lagi : Lalu apa pendapat mereka tentang ribuan masalah Ijtihadiyah yang muncul setelah masamasa keemasan Islam (awal Islam).

Apakah semua itu mereka akan dianggap sebagai penyempurna terhadap agama ini ?

Agama Islam memang sudah sempurna, siapa pun orang Islamnya paham dengan hal itu. Melakukan amal kebajikan adalah perkara yang diperintahkan di dalam agama, meski bentuk kebajikannya tidak pernah ada di zaman Rasulullah dan para shahabat beliau yang penting sejalan dengan prinsipprinsip kebajikan menurut agama.

Bagi kaum pengingkar Maulid, umat Islam yang mengadakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad dituduh telah "menganggap agama Islam ini masih kurang" alias belum sempurna sehingga mereka tega "menambah nambahi agama ", bahkan dengan begitu mereka dituduh telah menganggap Rasulullah berkhianat dalam menyampaikan agama. Sungguh keji tuduhan ini !

Sesungguhnya, tidak seorang pun dari para Ulama dan umat pelaku Maulid itu berniat menambahnambahi agama, apalagi sampai menuduh Rasulullah berkhianat. Sungguh hal itu tidak pernah terbesit sedikitpun dalam benak mereka, yang ada hanyalah pikiranpikiran tentang mengupayakan peluang amal kebajikan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. 

Dengan begitu diharapkan setiap orang yang ikut serta dalam acaraacara tersebut mendapatkan pahala, ampunan, rahmat, dan pengkabulan do'a dari Allah.

Format acara yang memang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah atau para shahabat beliau hanyalah suatu wadah yang dibuat secara kreatif untuk melaksanakan amalanamalan yang sesungguhnya diperintahkan oleh Rasulullah sendiri, seperti: bersilaturrahmi, berdzikir, bershalawat, mendo'akan orang meninggal, bersedekah, mendengar nasihat atau ilmu, memupuk kecintaan dan pengagungan kepada Rasulullah berdo'a, berbagi rezeki, dan memelihara keimanan serta ketakwaan.

Bisa dibayangkan, tanpa acaraacara kreatif seperti itu, apa jadinya keadaan umat Islam di zaman belakangan ini yang notabene perhatiannya kepada akhirat sangat rendah ; cintanya kepada dunia sudah menguasai pikirannya; ditambah lagi acaraacara dunia dan maksiat sudah dikemas jauh lebih kreatif dan menarik.

Kreasi kebajikan yang digagas oleh para ulama itu pun tidak pernah diklaim sebagai "tambahan atas kekurangan agama", melainkan hanya sebagai kegiatan keagamaan yang ditradisikan sebagai adat atau budaya yang dilaksanakan dalam rangka syi'ar agama. Jadi tuduhan pengingkar Maulid adalah tuduhan berlebihan yang diadaadakan dan tidak ada kenyataannya, sedangkan ayat di atas yang selalu mereka bawakan hanyalah pernyataan dari Allah tentang kesempurnaan Islam, bukan berisi tuduhan menambahnambahi agama.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel