Syubhat Wahhabi : Maulid Berlebihan Dalam Agama


Syubhat wahhabi : berlebihan dalam agama

Tuduhan "berlebihan Dalam Urusan Agama". Kadang mereka menggunakan hadits dibawah ini untuk memfitnah umat Islam yang merayakan Maulid Nabi.

Rasulullah Saw. bersabda: "Jauhilah oleh kalian akan ghuluw (berlebihan) di dalam agama, karena telah binasa orang
orang sebelum kalian dengan sebab ghuluw (berlebihan) di dalam agama" (HR. Ahmad)




Kaum pengingkar Maulid biasanya menggunakan dalil ini untuk menuduh orang orang yang melakukan amalan Maulid dan lain sebagainya sebagai pelaku "ghuluw" (berlebihan) dalam beragama.

Sisi "berlebihan" yang mereka maksud di sini sepertinya adalah merasa tidak cukup dengan apa yang dicontohkan formatnya oleh Rasulullah dan para shahabat beliau, lalu membuat amalanamalan baru yang –menurut mereka—dimasukkan ke dalam agama.

Padahal seharusnya mereka bisa membedakan antara "amalan bernuansa agama" dengan "amalan di dalam agama".

Para ulama dan umat Islam yang melakukan amalanamalan tersebut
sesungguhnya tidak pernah menganggapnya bagian dari agama atau syari'at,
melainkan hanya sebagai kegiatan positif (amal shaleh) yang mengandung kebaikan dan maslahat bagi orang banyak.

Dan dalam mengupayakan kebaikan atau amal shaleh tidak ada kata "berlebihan", sebab rumusnya di dalam agama,

"Sesungguhnya Allah tidak menyianyiakan pahala orang yang berbuat baik" (QS. AtTaubah: 120).

Jadi, "semakin banyak kebaikan yang dilakukan, semakin besar pula pahala atau ganjaran yang diberikan". Orang yang banyak berdzikir
bahkan setiap waktu, atau orang yang bersedekah setiap hari, atau orang yang banyak melakukan shalat, mereka tidak bisa dikatakan "berlebihan di dalam agama", sebab semuanya itu diberi pahala sesuai dengan amalannya.
Para ulama hadis menafsirkan kata "ghuluw" (berlebihan) pada hadis di atas dengan makna bersikap keras atau melampaui batas.

Konotasinya –sebagaimana konteks hadis itu—adalah bersikap keras dan melampaui batas dalam hal mencaricari sesuatu di balik perkara agama yang sebenarnya mudah dipahami.

Hal ini bisa dipahami dari hubungan ghuluw di dalam hadis tersebut dengan ungkapan "telah binasa orangorang sebelum kalian".

Di antara gambaran yang paling umum adalah kasus Bani Israil yang ketika diperintah untuk menyembelih sapi betina, mereka malah mempersulit diri dengan banyak bertanya atau mencaricari perkara yang sangat mendetail dari sapi itu.

Makna seperti ini sesuai dengan riwayat hadis di atas yang berkenaan
dengan peristiwa melontar Jamratul
'Aqabah di Minasaat Rasulullah menyuruh Abdullah bin Abbas ra untuk mengambilkan batu melontar, yang tanpa bertanya lagi tentang ukurannya, segera ia ambilkan batu seukuran kerikil atau khadzaf (yang dapat dipegang dengan dua jari). Maka Rasulullah berkata, "Dengan (batu) yang seperti ukuran inilah hendaknya kalian melontar. Wahai sekalian manusia, jauhilah oleh kalian akan ghuluw (berlebihan) di dalam agama, karena telah binasa orangorang sebelum kalian dengan sebab ghuluw di dalam agama."

Maka, siapakah yang semestinya lebih pantas dibilang "berlebihan di dalam agama", apakah para ulama dan umat Islam yang berupaya melakukan kebaikan dan amal shaleh untuk orang banyak ; ataukah kaum pengingkar Maulid yang selalu mencaricari pembahasan tentang amalan umat Islam yang sebenarnya sudah dijelaskan oleh para ulama, kemudian mudah memvonis dan menuduh dengan vonis dan tuduhan yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah?

Perhatikanlah vonis
vonis "berlebihan" yang sering dilontarkan oleh kaum pengingkar Maulid tentang amalan Maulid, dan lain sebagainya, di mana mereka berkata: "Tidak ada pahalanya!", "sesat!", "siasia", "musyrik!", "kafir!", "masuk neraka!", "tidak ada dalilnya!", "menambahnambahi agama!", "mengadangada!", "haram!", "jangan bergaul dengan ahli bid'ah!", dan lain sebagainya.

Tidak cukup dengan itu semua, mereka juga membuat istilah khusus yang mencibir umat Islam yang senang berziarah kubur para wali dengan sebutan "Quburiyyun", bahkan lebih tega lagi ketika mereka menyindir umat Islam yang senang memuji dan menyanjung Rasulullah dengan sebutan "AbdunNabi" (hamba Nabi) yang mengesankan bahwa para penyanjung Rasulullah benarbenar telah menyembah beliau alias melakukan syirik (lihat Tafsir Seper Sepuluh Dari AlQur'an AlKarim, hal. 95, buku ajaran Wahabi yang dibagikan CumaCuma).

Perhatikanlah semua ungkapan itu, apakah Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menghukumi perkara yang tidak jelas larangannya dengan kalimatkalimat tersebut ?



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel