Syubhat Wahhabi : Bergembira Pada Wafatnya Nabi Tidaklah Jauh Lebih Baik Daripada Bersedih


Syubhat wahhabi :
Mereka mengatakan bahwa “perayaan maulid Nabi juga bertepatan dengan wafatnya Nabi Muhammad maka bergembira pada saat itu tidaklah lebih baik dari pada bersedih”



Syubhat tersebut sudah dijawab oleh AlImam AlHafidz Jalaluddin AsSuyuthiy didalam kitab Maulid beliau, dan kami kutip kembali jawaban AlImam AlHafidz tersebut ;

إن ولادته صلى الله عليه وسلم أعظم النعم علينا، ووفاته أعظم المصائب لنا، والشريعة حثت على

.إظھار شكر النعم، والصبر والسلوان والكتم عند المصائب
“Sesungguhnya kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم adalah paling agungnya kenikmatan bagi kita semua, dan wafatnya Beliau صلى الله عليه وسلم adalah
musibah yang paling besar bagi kita semua. Adapun syariat menganjurkan (menampakkan) untuk mengungkapkan rasa syukur dan kenikmatan. Dan bersabar serta tenang ketika tertimpa mushibah.

وقد أمر الشرع بالعقيقة عند الولادة، وھي إظھار شكر وفرح بالمولود، ولم يأمر عند الموت بذبح ولا غيره،
بل نھى عن النياحة وإظھار الجزع

“Dan sungguh syari’at memerintahkan untuk (menyembelih) beraqiqah ketika (seorang anak) lahir, dan supaya menampakkan rasa syukur dan bergembira dengan kelahirannya, dan tidak memerintahkan untuk menyembelih sesuatu atau melakukan hal yang lain ketika kematiannya, bahkan syariat melarang meratap (anniyahah) dan menampakkan keluh kesah (kesedihan).

فدلت قواعد الشريعة على أنه يحسن في ھذا الشھر إظھار الفرح بولادته صلى الله عليه وسلم دون إظھار
الحزن فيه بوفاته

“Maka (dari sini) jelas bahwa kaidahkaidah syariat menunjukkan yang baik baik (yang paling layak) pada bulan ini (bulan Maulid) adalah menampakkan rasa gembira atas kelahirannya (Nabi Muhammad )صلى الله عليه وسلمdan bukan (malah) menampakkan kesedihan (mengungkapkan) kesedihan atas wafatnya Beliau

وقد قال ابن رجب في كتاب اللطائف في ذم الرافضة حيث اتخذوا يوم عاشوراء مأتما لأجل قتل
الحسين: لم يأمر الله ولا رسوله باتخاذ أيام مصائب الأنبياء وموتھم مأتما فكيف ممن ھو دونھم

“dan sungguh telah berkata Ibnu Rajab di dalam kitab “alLathif” اللطائفtentang celaan terhadap ‘ArRafidlah’ bahwa mereka telah menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung (bersedih) karena bertepatan dengan hari (pembunuhan) wafatnya sayyidina Husain : Sedangkan Allah dan RasulNya tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan harihari mushibah dan kematian para Nabi sebagai hari bersedih, maka bagaimana dengan orang derajatnya berada dibawah mereka?”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel