Membantah Argument Syekh Utsaimin yang Mengharamkan Maulid



Perayaan maulid seperti sekarang ini berkembang sejak abad ke 5 Hijriah – bukan pada waktu zaman nabi – akan tetapi para ulama ahli hadits dari berbagai madzhab,seperti al-hafidz ibnu dihyah al-kalbi, ibn Hajar al-Atsqalani, al-Hafidz ibnul Jauzi, al-Hafidz ibn Taimiyyah (ulama yang menjadi rujukan utama wahhabi), al-Hafidz as-sakhawi, al-Hafidz as-Suyuti, dan ratusan ulama-ulama ternama lainnya memfatwakan positif terhadap perayaan maulid.



Namun sayangnya, yang sudah pernah saya bahas sebelumnya, ulama sekaliber yang di sebutkan di atas saja di katakan sesat  hanya karna Utsaimin memfawatkan haram merayakan maulid secara membabi buta.

Fatwa nyleneh dari utsaimin pun akhirnya menuai banyak kritik tajam dari ulama kontemporer yang jelas lebih luas khazanah kelimuannya dan di akui dunia, seperti halnya syekh al-Buthi, syekh Alwi al-Maliki dan lain lain

Di antara alasan utsaimin melarang maulid Nabi adalah pernyataannya sebagai berikut :
   
  •           Malam kelahiran Rasulullah tidak di ketahui secara qath’i (pasti) bahka sebagian ulama kontemporer menguatkan pendapat yang mengatakan bahwasanya ia terjadi pada malam ke 9 rabiul awal dan bukan malam ke 12. Jika demikian maka peringatan maulid Nabi Muhamad yang biasa di peringati pada malam ke 12 rabiul awal tidak ada dasarnya, bila di lihat dari sisi sejarahnya

Tanggapan kami untuk argument syekh Utsaimin :

Alasan bahwa malam kelahran Rasuullah tidak di ketahui secara qath’i tidak bisa di jadikan argumentasi menolak kebolehan perayaan maulid Nabi, karena beberapa alasan. 

Pertama, para ulama membolehkan dan bahkan menganjurkan merayakan Maulid Nabi Muhamad shalallahu alaihi wa sallam tidak berargumentasi bahwa malam kelahiran Rasulullah telah di ketahui secara pasti. 

Kedua, dalam menetapkan suatu hukum dalam ilmu fiqih, tidak selalu di dasarkan pada dalil yang qath’i. Bahkan sebagian besar ijtihad para ulama, termasuk ijtihad syeikh Utsaimin sendiri, cukup di dasarkan pada dalil yang zanni (dugaan kuat saja dan tidak pasti). 

Adanya perselisihan dalam penetapan malam kelahiran Nabi shallahu alaihi wasallam tidak menjadi persoalan dalam menentukan hukum bolehnya merayakan maulid Nabi Muhamad shallahu alaihi wa sallam.

  •       Dilihat dari sisi syar’i, maka peringatan maulid Nabi juga tidak ada dasarnya. Jika sekiranya acara peringatan maulid Nabi di syariatkan dalam agama kita, maka pastilah acara maulid ini telah di adakan oleh Nabi atau sudah barang tentu telah beliau anjurkan kepada ummatnya,

Tanggapan kami untuk argument syekh Utsaimin :

Alasan yang dikemukakan oleh syaikh al-ustaimin di atas sangat menga-ada. Menurutnya, peringatan mauli Nabi shalallahu alaihi wa sallam tidak ada dasarnya. Pernyataan ini jelas keliru. 

Para ulama yang memfawatkan boleh dan menganjurkan perayaan maulid Nabi Muhamad shalallahu alaihi wa sallam telah mengajukan banyak dalil dari al-Qur’an, hadits dan qiyas, akan tetapi syaikh utsaimin tidaak membaca dan tidak menanggapinya . 

berikut ini akan kami paparkan beberapa dasar para ulama ahli yang menganjurkan maulid Nabi shalallahu alaihi wa sallam

Allah berfirman :


وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

“dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta alam (QS. Al-anbiya :107)

Dan Rasulullah telah bersabda :

“aku hanyalah rahmat yang di hadiahkan”
     
Dengan demikian, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah ar-rahmatul uzma (rahmat teragung) bagi umat manusia. Sedangkan Allah SWT telah merestui kita untuk merayakan lahirnya rahmatitu. Dalam hal ini Allah Berfirman :

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ

“katakanlah karunia Allah dan rahmatNya hendaklah dengan itu mereka bergembira” (QS.Yunus :58)

Ibn Abbas menafsirkan ayat ini dengan “dengan karunia Allah (yaitu ilmu) dan rahmatNya (yaitu Muhamad) hendaklah dengan itu mereka gembira
Allah juga berfirman :

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ


“dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah dating kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS.Hud : 120)

Ayat ini menegaskan bahwa penyajian kisah-kisah para rasul dalam al-qur’an adalah untuk meneguhkan hati Nabi Muhamad. Dan tentu saja kita yang lemah dewasa inii lebih membutuhkan peneguhan hati daripada beliau melalui penyajian sirah dan biografi beliau

Sisi lain dari perayaan maulid Nabi shalallahu alaihi wasallam mendorong kita untuk memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau sesuai dengan firman Allah :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatya bershalawat untuk Nabi. Hai orang – orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS.Al-ahzab :56)

Dan sesuai dengan kaedah yang telah di tetapkan, bahwa sarana yang dapat mengantar pada anjuran agama, juga di anjurkan sebagaimana di akui oleh utsaimin dalam al-ibda (halaman 18) sehingga perayaan maulid menjadi perayaan

Ibn Taimiyah mengatakan :

فتعظيم المولد وإتّخاذه موسما قد يفعله بعض النّاس، و يكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده و تعظيمه لرسول الّله كما قد مته لك

“mengagungkan maulid dan menjadikannya sebagai hari raya setiap musim, dilakukan oleh sebagian orang, dan ia akan memperoleh pahala yang sangat besar dengan melakukannya karena niatnya yang baik dan karena mengagungkan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sebagaimana telah aku sampaikan (Ibn Taimiyyah, iqtila’us siratil mustaqim halaman 297)

lanjut ke part 2




Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel