Mauludan Sa'lawase


Pengertian maulid

          Kata maulid adalah zaman dari lafadz walada – yalidu – wilaadatun yang artinya masa/waktu kelahiran. Sedangkan kata maulud adalah isim maf’ulnya, yang mempunyai arti “orang yang di lahirkan”

Mayoritas ulama ahli sejarah islam sepakat bahwa bulan kelahiran Nabi kita adalah pada bulan rabi’ul awal. Itulah sebabnya bulan ini menurut orang jawa di sebut bulan maulid atau bulan maulud.



Peringatan maulid Nabi Muhamad shallahu alaihi wa sallam itu sebetulnya merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur dan senangnya kaum muslimin atas anugerah Allah berupa kelahiran serta terutusnya Nabi Muhamad shallahu alaihi wa sallam di jagat raya ini. 

Pengungkapan rasa gembira itu pada prinsipny memang di anjurkan bagi setiap orang yang mendapat anugerah Allah SWT. Dalam al-qur’an di sebutkan :

قل بفضل الله و برحمته فبذلك فليفرحوا هو خير ممّا يجمعون

“katakanlah (Hai Muhamad), sebab anugerah Allah dan sebab rahmatNya kepada kamu, maka bergemberilah kamu (QS.Yunus : 85)

Maka dari itu, kita melihat setiap bulan rabi’ul awal kaum muslimin merayakannya dengan beraneka ragam.

Berkumpul dalam rangka memperingati maulid Nabi hanyalah sebuah tradisi dan sama sekali bukanlah bentuk ibadah. Inilah yang kami yakini dan kami pertanggung jawabkan kepada Allah

Dalam setiap acara, pertemuan dan perayaan,bahwa pertemuan dalam format demikian adalah sekedar tradisi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah. Setelah penjelasan ini. Masihkah tersisa penolakan dari orang yang ingkar dan bantahan dari orang yang menentang?

Namun musibah terbesar sesungguhnya adalah ketidak mengertian. Oleh karena itu, Imam Syafi’i berkata :


ما جادلت عالما إلّا غلبته، ولا جدلت جاهلا إلّا غلبني

“saya tidak pernah berdebat dengan orang berilmu kecuali saya mengalahkannya, dan saya tidak pernah berdebat dengan orang bodoh kecuali ia mengalahkanku”

Para pencari kebenaran dengan kualitas awam pun bisa mengetahui perbedaan antara tradisi dan ibadah serta substansi keduanya.
Walhasil : berkumpul untuk memperingati maulid Nabi hanyalah urusan tradisi. Namun, ia adalah salah satu tradisi positif yang mengandung banyak manfaat untuk masyarakat karena memang manfaat – manfaat tersebut satu persatu di anjurkan oleh syara’

Betapa banyak pahala kebaikan yang didapat oleh orang yang banyak mengucapkan shalawa Nabi, sehingga Rasulallah saw. sendiri menjanjikan sepuluh kali lipat balasan do’a beliau bagi orang dari umatnya yang ber- shalawat kepada beliau.

Dalam peringatan Nabi itu pasti mencakup uraian mengenai riwayat-riwayat beliau, mu’jizat-mu’jizat beliau, sejarah kehidupan beliau dan pengenalan beliau akan berbagai segi kemuliaan beliau.

Bukan- kah kita diharuskan mengenal beliau dan dituntut supaya berteladan kepada beliau serta mengimani Al-Qur’an sebagai mu’jizat yang besar dan mem- benarkannya? Dikitab-kitab maulid banyak memaparkan semuanya itu.

Dengan selalu mengenal/mengingat keagungan perangai beliau serta mu’jizat-mu’jizat dan pembinaan serta tuntunan beliau pasti akan lebih menyempurnakan keimanan kita kepada beliau saw.

Mengenal keadaan beliau dan menyakini tiada sesuatu (makhluk) yang lebih indah, lebih sempurna dan lebih utama daripada semua sifat yang ada pada beliau saw.

pasti semuanya ini akan menambah kecintaan kita dan lebih menyempurna- kan keimanan kita pada beliau sebagai Nabi dan Rasul. Kedua-duanya itu merupakan tuntunan syara’ dan upaya/jalan untuk bisa mencapai dua hal itu wajib kita lakukan.

Allah swt berfirman: “Dan semua kisah dari para Rasul, Kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu”. (QS Hud: 120)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel