Hujjah Maulid


Kaum anti maulid menuduh perayaan maulid itu tanpa dalil, amalan yang di ada-ada dan termasuk tindakan munkar yang harus di berantas. Maka tidak heran mereka salafi wahabi seringkali melakukan aksi sweeping ketika ada acara maulidan atau hanya sekedar lewat tulisan-tulisan mereka di media sosial



Mirisnya, tulisan –tulisan mereka justru terlihat betapa minimnya pengetahuan mereka akan ilmu agama, karna pada dasarnya kaula-kaula muda wahabi tidak pernah ada background pesantren barang sebentar.

Soal hujjah dalam ahlussunah wal jama’ah, kami memiliki segudang dalil dari berbagai amalan-amalan kami yang oleh salafi wahhabi di tuduh sebagai bid’ah. Tidak terkecuali Maulid Nabi

Hujjah Maulid Nabi telah mendapat legalitas dari para ahli hadits.
Ketahuilah bahwa gelar al-imam itu hanya di berikan kepada ulama yang agung dan sangat di akui otoritas keulamaannya. Al-hafidz gelar untuk orang yang menghafal al-qur’an dan hadits dengan sangat baik dalam jumlah banyak. Juga al-hujjah di berikan untuk orang yang menghafal lebih dari 300.000 hadits dengan sanad dan matannya, jarh dan ta’dilnya
Perhatikan baik-baik. Ulama sekaliber ini mereka hinakan dengan argumen ulama yang sangat minim ilmu.

Syeikhul islam al-imam al-hafidz Abu Fadl Ahmad Ibn Hajar berkata :

أصل عمل المولد بدعة لم تنقل عن أحد من السلف الصالح من القرون الثلاثة، ولكنھا مع ذلك قد
اشتملت على محاسن وضدھا، فمن تحرى في عملھا المحاسن وتجنب ضدھا كان بدعة حسنة

“Asal amal Maulid adalah bid’ah, tidak pernah ada perkataan (perbincangan) dari salafush shaleh dari kurun ke tiga, dan akan tetapi bersamanya mencakup (mengandung) kebaikankebaikan dan keburukan keburukan. Maka barangsiapa yang mengambil kebaikan kebaikannya pada amal Maulid dan menjauhi keburukannya maka itulah bid’ah Hasanah (khusnul maqaasid fi amali maulid halaman 16)


قال: وقد ظھر لي تخريجھا على أصل ثابت، وھو ما ثبت في الصحيحين من أن النبي صلى الله عليه
وسلم قدم المدينة فوجد اليھود يصومون يوم عاشوراء فسألھم؟ فقالوا: ھو يوم أغرق الله فيه
فرعون ونجى موسى فنحن نصومه شكرا تعالى، فيستفاد منه فعل الشكر  على ما َ م َّ ن به في
يوم معين من إسداء نعمة أو دفع نقمة، ويعاد ذلك في نظير ذلك اليوم من كل سنة، والشكر
يحصل بأنواع العبادة كالسجود والصيام والصدقة والتلاوة، وأي نعمة أعظم من النعمة ببروز ھذا
النبي نبي الرحمة في ذلك اليوم

“(Juga) berkata (Imam Ibnu Hajar) : “Dan sungguh telah jelas bagiku
bahwa apa yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal penetapan (hukum
Maulid), sebagaimana yang ditetapkan didalam Ash
Shahihayn (Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam Muslim) bahwa sesungguhnya Nabi datang ke Madinah, maka (beliau) menemukan orang Yahudi
berpuasa pada hari Asyura’, Rasulullah bertanya kepada mereka (tentang puasa tersebut)? Maka mereka menjawab : “Padanya adalah hari dimana Allah telah menenggelamkan Fir’aun dan menyelamatkan (Nabi) Musa, maka kami berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Yang Maha Tinggi (atas semua itu)”. Maka faidah yang bisa diambil dari hal tersebut adalah bahwa (kebolehan) bersyukur kepada Allah atas sesuatu (yang terjadi) baik karena menerima sebuah kenikmatan yang besar atau penyelamatan (terhindar) dari bahaya, dan bisa diulang
ulang perkara (syukuran) tersebut pada hari (yang sama) setiap tahun. Adapun syukur kepada Allah dapat dilakukan dengan bermacammacam Ibadah seperti sujud (sujud syukur), puasa, shadaqah dan tilawah (membaca alQur’an). dan sungguh adakah nikmat yang paling agung (besar) dari berbagai nikmat (yang ada) selain kelahiran Nabi (Muhammad) Nabi yang penyayang pada hari (peringatan Maulid) itu ?”

AlImam AlHafidz AsSuyuthiy mengatakan didalam kitab beliau (Husnul Maqshid), senada dengan apa yang juga dijelaskan oleh AlImam AlHafidz Ibnu Hajar Al‘Asqalaniy ;

وقد ظھر لي تخريجه على أصل آخر، وھو ما أخرجه البيھقي عن أنس أن النبي صلى الله عليه
وسلم عق عن نفسه بعد النبوة، مع أنه قد ورد أن جده عبد المطلب عق عنه في سابع ولادته،

“dan sungguh sangat jelas bagiku yang dikeluarkan (diriwayatkan) atas asal yang lain (dari pendapat Imam Ibnu Hajar) yaitu apa yang diriwayatkan oleh AlImam AlBaihaqiy dari Anas bahwa sesungguhnya Nabi mengaqiqahkan dirinya sendiri sesudah (masa) kenabian, (padahal) sesungguhnya telah dijelaskan (riwayat) bahwa kake beliau Abdul Mutthalib telah mengaqiqahkan (untuk Nabi) pada hari ke tujuh kelahirannya”

Pada permulaan Husnul Maqshid fi ‘Amalil Maulid yang juga tercantum didalam kitab AlHawi AlFatawi pada halaman 189, kitab
I’anatut Thalibin Juz 3 Hal. 415 Cet. Dar Al
Fikr, dan Tuhfatul Muhtaj karangan AlImam Ibnu Hajar Al Haitamiy. AlImam AlHafidz AsSuyuthiy menjawab sebuah pertanyaan tentang hukum Maulid Nabi menurut syara’ serta beliau menegaskan bahwa orang yang merayakan Maulid Nabi mendapat pahala disisi Allah. Berikut redaksinya :

فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شھر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وھل ھو :
محمود أو مذموم؟ وھل يثاب فاعله أو لا؟

“dan sungguh telah datang pertanyaan tentang amal Maulid Nabawi pada bulan Rabi’ul awwal, bagaimana hukumnya menurut syara’ dan apakah termasuk mahmudah atau madzmumah serta apakah diberi pahala bagi pelakunya atau tidak ?”

:الجـــــواب

عندي أن أصل عمل المولد الذي ھو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار
الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات

Jawaban :
“Bagiku (Imam As
Suyuthiy) bahwa asal (pada dasarnya) amal Maulid
adalah berkumpulnya manusia, membaca beberapa ayat al
Qur’an,
meriwayatkan “al
Akhbar” (haditshadits) tentang permulaan sejarah Nabi dan tentang tandatanda (kejadiankejadian) yang mengiringi kelahirannya”.

ثم يمد لھم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك ھو من البدع الحسنة التي يثاب عليھا
صاحبھا لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظھار الفرح والاستبشار بمولده
الشريف

“kemudian disajikan beberapa hidangan bagi mereka selanjutnya mereka bubar setelah itu tanpa ada tambahantambahan lain, itu termasuk kedalam Bid’ah Hasanah (bid’ah yang baik) yang diberi pahala bagi orang yang merayakannya. Karena perkara didalamnya adalah bagian dari pengagungan terhadap kedudukan Nabi ( )صلى الله عليه وسلمdan merupakan penampakan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran yang Mulya (Nabi Muhammad)”.

وأول من أحدث فعل ذلك صاحب اربل الملك المظفر أبو سعيد كوكبرى بن زين الدين علي بن بكتكين
أحد الملوك الأمجاد والكبراء الأجواد، وكان له آثار حسنة، وھو الذي عمر الجامع المظفري بسفح
قاسيون

“dan yang pertama mengadakan hal semacam itu (perayaan besar) adalah penguasa Irbil, Raja alMudhaffar Abu Sa’id Kaukabri bin Zainuddin Ali Ibnu Buktukin, salah seorang raja yang mulya, agung dan demawan. Beliau memiliki peninggal yang hasanah/baik ( ),آثار حسنةdan beliau lah yang membangun alJami’ alMudhaffariy dilembah Qasiyun”.

AlImam AlHafidz AsSuyuthiy menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah Hasanah dan orang yang merayakannya akan mendapatkan pahala. Dan yang pertama mengadakan perayaan semacam itu adalah Raja alMudhaffar.

Pengingkar Maulid Nabi juga tidak segansegan memutar balikkan fakta
(berbohong) atas nama Al
Imam Ibnu Katsir saat mengatakan mengenai yang merayakan Maulid Nabi, bahwa yang pertama merayakan Maulid adalah Daulah Fathimiyyun yang dibangun oleh seorang budak yang bernasab ke kaum Yahudi.

Sejatinya yang merayakan adalah Raja alMudhaffar, dan berikut komentar Imam Ibnu Katsir mengenai Raja ini, AlHafiz AlImam Ibnu Katsir didalam kitab beliau ‘AlBidayah wan Nihayah” juz
13 halaman 136, cetakan Maktabah al
Ma’arif berkata tentang Raja al
Mudhaffar seraya memujinya, yang mana redaksinya sebagai berikut :

“..Raja alMudhaffar Abu Sa’id Kaukabri adalah salah seorang dermawan, pemimpin yang besar, serta raja yang mulya yang memiliki peninggalan yang baik. Dan dia menyelenggarakan Maulid yang mulya di bulan Rabi’ul awwal secara besarbesaran. Ia juga seorang raja yang berotak cemerlang, pemberani kesatria, pandai, dan adil – semoga Allah mengasihinya dan menempatkannya ditempat yang paling baik.”

Kemudian dia melanjutkan ; “Ia (Raja alMudhaffar) membelanjakan
hartanya sebesar 3000 dinar (emas) untuk perayaan Maulid Nabi
Al
Imam AdzDzahabi didalam kitabnya “Siyaru al‘Alamin anNubala’ jilid 22 halaman 336 ketika menyebutkan tentang biografi Raja alMudhaffar ;

Ia adalah seorang raja yang rendah hati, baik hati, sunni (ahlus sunnah
wal jamaah) dan mencintai para Ulama dan Ahli Hadits”.

didalam kitab I’anath AthThalibin, Juz 3 Hal. 415 Cet. Dar AlFikr dan kitab Sirah AlHalabiyah :

قال السخاوي: إن عمل المولد حدث بعد القرون الثلاثة ثم لا زال أھل الاسلام من سائر الاقطار
والمدن الكبار يعملون المولد، ويتصدقون في لياليه بأنواع الصدقات، ويعتنون بقراءة مولده الكريم،
ويظھر عليھم من بركاته كل فضل عميم

“Berkata (Al
Imam) AsSakhawiy : “sesungguhnya amal Maulid adalah baru setelah kurun ke 3, kemudian bagi seluruh umat Islam seluruh penjuru daerah dan kotakota besar mengamalkan Maulid (Nabi), dan bershaqadah pada malammalam hari dengan berbagai macam shadaqah, meramaikan dengan pembacaaan Maulid Nabi, dan begitu jelas keberkahan bagi mereka”
saya rasa cukup sudah hujjah dari para imam hadits di atas. Dan perlu di ketahui juga, walaupun kami memiliki segudang dalil untuk merayakan maulid. Tapi ketika hati mereka sudah tertutup oleh rasa benci dan fanatik madzhab, maka dalil kami pun menjadi tiada artinya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel