Dialog Seputar Maulid


Wahabi: Mengapa Anda merayakan hari kelahiran Nabi ? Sunni: Karena kami mencintai Nabi. 

Wahabi: Mengapa Anda tidak berpuasa saja pada hari Senin seperti yang dilakukan Nabi? 



Sunni: Memangnya kalau kami ekspresikan kecintaan kami dengan bersalawat, memuji Baginda dan sedekah makanan, tidak boleh? 

Wahabi: Ya tidak boleh. 

Sunni: Mana dalil yang melarang? 

Wahabi: Hadis ”semua bidah adalah sesat”. 

Sunni: Dalil Anda hanya satu. Semua persoalan Anda Iihat 

dari kacamata hadis tersebut, hasilnya ya bidah semua. Coba Anda belajar agama lebih mendalam, insya Allah akan sadar. 

Mengekspresikan kebahagiaan dan kecintaan dengan bersalawat, memuji sambil bermain musik, jelas boleh berdasarkan hadis sahihh berikut ini: 

عن بريدة بن الخصيب، قال : رجع رسول اللّه من بعض مغازيه، فجاءت جارية سوداء، فقالت : يا رسول اللّه ! إنّي نذرت إن ردّك اللّه سالما أن أضرب على رأسك بالدّف، فقال رسول اللّه صلى اللّه عليه: إن كنت نذرت، فقعد رسول اللّه فضربت بالدّف

Sahabat Buraidah bin al-Husaib berkata: Suatu ketika Rasulullah pulang dari sebagian peperangan, Ialu seorang budak perempuan berkulit hitam berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernazar, jika Allah mengembalikanmu dengan keadaan selamat, aku akan menabuh rebana di atas kepalamu.” Rasulullah shalallahu alaih bersabda: ”Jika kamu bernazar, maka Iakukanlah. Jika tidak bernazar, maka tidak usah kamu Iakukan.”
Wanita itu berkata: ”Sesungguhnya aku telah bernazar.” Lalu Rasulullah duduk, Ialu wanita itu menabuh rebana.” (Hadis sahih riwayat ahmad (23011) dan ibn hibban (4386)

Dalam hadis di atas, wanita itu mengekspresikan kebahagiaan dan kecintaannya dengan menabuh rebana di atas kepala Rasulullah & dan ternyata Baginda menyuruh wanita tersebut untuk melakukannya.
Baginda tidak bersabda: “Tidak boleh mengekspresikan kebahagiaan dan kecintaan kepadaku dengan menabuh rebana, tapi cukup berpuasa saja pada hari Senin”. Berarti mengeskpresikan kebahagiaan dan kecintaan dengan cara yang lain seperti membaca salawat, sirah nabawiyah, memuji Baginda dan bersedekah makanan juga dibolehkan. 

wahhabi     : Mengapa kalian merayakan hari kelahiran Nabi, padahal tanggal kelahirannya diperselisihkan di kalangan ulama? 

sunni                   : Dalam ilmu fikih, pengamalan berdasarkan dugaan yang dianggap kuat itu dibolehkan. Mayoritas ulama berpendapat hari kelahiran Nabi adalah Senin 12 Rabiul Awal. 

Di sini ada pertanyaan buat Anda: ”Seandainya para ulama sepakat tentang kepastian hari dan tanggal kelahiran Baginda Nabi. apakah kalian akan membolehkan perayaan Maulid? 

wahabi       : Perayaan Maulid bertentangan dengan hadis Nabi :

 لقد أبد لنا اللّه بعبدين عيد الفطر و عيد الأضحى

Sungguh Allah benar-benar telah memberikan ganti kepada kita dengan dua hari raya, yaitu hari raya Fitri dan hari raya Adha. 

Berarti mengadakan perayaan Maulid menambah hari raya yang ditetapkan oleh hadis tersebut.

Sunni                   : Dalam kaedah UsaluI-Fiqh disebutkan: 


ذكر بعض أفراد العام الموافق له في الحكم لا يقتضي التخصيص

Menyebutkan sebagian satuan kandungan teks yang umum yang sesuai dengan hukum, tidak menuntut pembatasan terhadap satuan tersebut. 

Maksudnya, meskipun dalam hadis tersebut ada penyebutan dua macam hari raya, bukan berarti membatasi hari raya pada dua tersebut. Buktinya, hari Jumat juga disebut hari raya dan lebih utama daripada hari raya Fitri dan hari raya Adha. Sahabat Ibnu abbas berkata, Rasulullah bersabda: 

إنّ هذا عيد جعله اللّه للمسلمين، فمن جاء الجمعة فليغتسل، وإن كان عنده طيب فليمسّ منه، وعليكم بالسّواك

Sesungguhnya hari (Jumat) ini hari raya yang dijadikan oleh Allah untuk kaum Muslimin. Barangsiapa yang hendak mendatangi Jumat, maka hendaklah mandi. Apabila ia memiliki parfum, maka hendaklah mengusapkan padanya. Dan Iakukanlah siwak.(HR Ibn Majah (80 dan 83) dan di nilai hasan oleh alhafidz munziri dalam at-targhib wat tarhib (1063)

wahabi       : Perayaan Maulid itu mengandung keserupaan dengan orang-orang Nasrani. Kita kaum Muslimin dilarang menyerupai orang-orang kafir. 

sunni          : Mengagungkan Allah dan para rasul itu termasuk ciri khas agama samawi yang punya kitab dari wahyu. Hanya saja kaum Nasrani memiliki ciri khas, mengagungkan nabi mereka sampai pada batas menyamakan nabi dengan Tuhan. Hal Inilah yang dimaksud larangan menyerupai orang-orang Nasrani, yaitu memposisikan nabi pada posisi seperti Tuhan. 

Sedangkan ciri khas lain yang tidak sampai pada batas tersebut, seperti mengucapkan Tiada Tuhan selain Allah, berpuasa, salat dan sedekah yang mereka lakukan, kita juga harus melakukan meskipun serupa dengan mereka. Karena perbuatan tersebut memang benar. Kebenaran itu tidak akan berubah menjadi Iarangan, hanya karena dilakukan oleh orang-orang yangjahat. 

*** 

wahabi       : Perayaan Maulid itu bidah yang pertama kali dilakukan oleh Syiah Fatimiyyah, mengapa kalian mengikuti mereka? 

sunni                   : Ada beberapa jawaban terhadap gugatan Anda: 

Pertama, kami tidak setuju bahwa orang yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah Syiah Fatimiyyah. Justru yang pertama kali mengadakan adalah Raja Muzaffar Abu Sa’id Kaukabri, Raja lrbil di Irak yang terkenal sebagai orang Sunni. Beliau bersama Sultan Saléhuddin al-Ayyubi memerangi kaum Sa‘libis. Dan perayaan yang mereka Iakukan, tidak ada protes dari para ulama pada masa tersebut. 

Kedua, seandainya kami menerima bahwa orang yang pertama kali merayakan Maulid itu orang Syiah Fatimiyyah, apakah berarti hukumnya haram karena mereka aliran sesat? Padahal di dalam agama kita banyak contoh-contoh hukum-hukum agama yang diambil dari agama dan tradisi sebelum Islam, 

misalnya: 

a) Dalam kasus puasa Asyura, Nabi melakukan dan menganjurkan karena orang-orang Yahudi di Madinah melakukannya sebagai perayaan kemenangan Nabi Musa  dan Bani Israil menghadapi Raja Firaun. 

b) Dalam kasus ruqyah (mantra-mantra dan jampijampi), Nabi membiarkan beberapa ruqyah yang berasal dari orang-orang Arab jahiliah selama isinya tidak mengandung syirik. 

c) Pembuatan mihrab di masjid-masjid, awal mul dilakukan oleh kaum Ahli-Kitab sebelum Islam. 

d) Penyusunan buku-buku, awal mula dilakukan oleh kaum AhIi-Kitab sebelum Islam. Sampai sekarang terus berjalan.



Wahabi      : Kalian membuat bidah baru dalam agama, yaitu perayaan Maulid Nabi.

Sunni                   : Bidahnya dari segi apa? 

Wahabi      : Menetapkan ibadah dalam waktu-waktu tertentu, jelas melanggar aturan syariat. 

sunni                   : Itu karena Anda tidak mengerti macam-macam ibadah. Ibadah dilihat dari aspek waktunya terbagi menjadi dua. 

Pertama, ibadah yang waktunya ditentukan, seperti salat, puasa dan lain-lain. 

Kedua, ibadah yang waktunya mutlak alias bebas, di mana usia manusia menjadi waktu untuk melaksanakannya, seperti membaca al-Quran, belajar ilmu agama, membaca salawat, zikir, takbir, tahlil dan lain-lain. 

Kaitan pembagian ibadah tersebut dengan Maulid Nabi adalah sebagai berikut: 

Pertama, perayaan Maulid Nabi pada dasarnya bukan ibadah, akan tetapi tradisi atau adat istiadat. Sedangkan tradisi atau adat boleh dilakukan inovasi atau membuat cara baru, karena termasuk perkara mubah. Hukum asal dalam setiap perkara yang bermanfaat adalah mubah. Hal ini tidak ada umat Islam yang mengingkarinya. Semuanya setuju. 

Kedua, tujuan dari perayaan Maulid Nabi adalah mensyukuri nikmat Allah kepada kita berupa Iahirnya Rasulullah  dengan cara mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah yang mutlak, atau bebas waktu pelaksanaannya, seperti zikir, doa, memuji Nabi , memberi makan banyak orang, memberi hidangan istimewa kepada keluarga, mengingatkan kaum Muslimin tentang sirah Nabi, dan lain-Iain. lbadah-ibadah mutlak ini semuanya sunah. 

Ketiga, dengan demikian perayaan Maulid Nabi pada hukum asalnya adalah mubah, sedangkan tujuannya yang berupa ibadah mutlak adalah sunah.
Kaedah fikih mengatakan: 

الوسائل لها حكم المقاصد

Wasilah atau sarana itu mengikuti hukum tujuannya. 

Berarti merayakan peringatan Maulid Rasulullah hukumnya sunah. Ini adalah hujjah kami. 

Wahabi      : Ibadah mutlak yang Anda katakan, tetapi setelah Anda tentukan hari atau bulan pelaksanaannya, justru menjadi ibadah yang waktunya tertentu. Ini jelas bidah. 

sunni                   : Ibadah yang waktunya tertentu, hanya dapat ditentukan oleh syaraiat saja. Sedangkan penetapan para ulama atau umat Islam terhadap ibadah mutlak di atas pada hari atau bulan tertentu, tldak mengubahnya menjadl ibadah yang waktunya tertentu. Penetapan waktu secara tertentu tersebut hanya dimaksudkan agar dapat melakukan ibadah mutlak tersebut secara terus menerus. Hal ini sesuai dengan petunjuk Rasulullah a untuk kita Iakukan.

Dalam hadis sahih diriwayatkan:

أحبّ الأعمال إلى اللّه ما دوام عليه العبد وإن قل.

Amal kebajikan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus menerus dilakukan oleh seorang hamba meskipun sedikit. (HR. Al-Bukhari). 

Sebenarnya kalian kaum Wahabi juga membuat tradisi baru dalam agama, seperti pekan Syaikh Muhammad bin ’Abdul-Wahhab an-Najd, pendiri Wahabi, dan peringatan mengenang wafatnya Syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baz, mufti Wahabi.

Apa bedanya tradisi ulama Anda dengan Maulid Nabi Anda jangan mengikuti hawa nafsu, akhi. 

wahabi       : ltu hanya dilakukan satu kali, dan pada tahun-tahun berikutnya tidak dilakukan lagi. 

sunni                   : Berarti tradisi kebaikan yang Anda lakukan tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah yang menganjurkan melakukan kebaikan terus menerus tanpa henti dalam hadis:

أحبّ الأعمال إلى اللّه ما دوام عليه العبد وإن قلّ

Amal kebajikan yang paling dicintai oleh Allah adalah Mal yang terus menerus dilakukan oleh seorang hamba meskipun sedikit. (HR. Al-Bukhari). 


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel