Kenapa Ulama Indonesia Tidak Menerapkan Syariat Islam Secara Kaffah?



         Pernyataan bahwa umat islam di indonesia tidak menerapkan syariat islam secara kaffah adalah pernyataan kurang tepat. Sebab, ketidakmungkuninan menerapkan beberapa hukkum seperti qishash, rajam dan semisalnya, yang pada hakikatnya termasuk bagian dari penerapan syariat secara kaffah.


Seperti halnya permasalahan dalam shalat, dalam shalat mushalli haruslah berdiri, ketika orang tersebut tidak mampu berdiri, syriat yang berlaku baginya adalah shalat dengan cara duduk, tidak perlu memaksakan berdiri. Bahkan bila hal itu memaksakan akan menimbulkan bahaya, maka haram. 
Seperti yang di terangkan dalam tuhfah al-muhtaj oleh imam ibn Hajar al-Haitamy juz 2 hal 20 :

صل قائما فإن لم تستطع فعلى جنب........ ثم هل يقال : إذا علم او غلب على ظنّه ذلك يجب عليه القعود لما في قيامه من المفسدة؟ محل نظر. ويأتي نظيره في الأتية وهي أولى بالواجب البصري، ولعل الثانى الخ سيأتي في شرح ولو عجز عن القيام وصرح الاول

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman :
لا يكلّف اللّه نفسا إلّا وسعها 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya” (QS. Al-baqarah : 286)

 Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فافعلوا منه ما استطعتم (روه البخاري و مسلم)

“Apa yang aku larang kepada kalian, maka jauhilah. Dan apa yang aku perintahkan kepada kalian maka laksanakanlah selama kalian mampu”

Ayat al-qur’an dan hadits di atas menjadi dasar salah satu kaedah penting dalam agama, bahwa kewajiban melaksanakan perintah agama itu berkaitan dengan terpenuhinya kemampuan kita untuk melaksanakan, ketika kemampuan untuk melaksanakan perintah tersebut tidak terpenuhi, maka kewajiban tersebut gugur dengan sendirinya

Sama halnya ketika kita berkewajiban mendirikan khilafah, ketika kita tidak mampu dan tidak mungkin mendirikan khilafah maka kewajiban tersebut gugur dengan sendirinya
Justru ketika penerapan syariat islam secara kaffah tetap di paksakan, maka hanya akan menimbulkan bencana bagi keagungan islam yang terkenal dengan rahmatan lil ‘alaminnya

Mungkin bagi sebagian orang yang merasa paling tahu soal khilafah sangat siap mental lahir batin menerapkan syariat islam, Sudah pasti sangat siap ketika mereka berzina, langsung di rajam, ketika mencuri di potong tangannya

Tetapi bagaimana dengan orang-orang awam yang jumlahnya jauh lebih besar daripada yang mengerti syariat islam secara kaffah? Seperti anak-anak gelandangan, preman pasar, pengusaha yang tidak belajar agama. Tetapi mereka semua statusnya sebagai orang islam???

Mau tidak mau karna mereka orang islam jadi terkena praktek qishas dan rajam.
 
Hal inilah yang akan menjadikan mereka lari dari islam, ketakutan akan syariat islam yang belum siap mental untuk menghadapinya

Dalam kaidah fiqih di sebutkan :

ما لا يدرك كلّه لا يترك كلّه
“perkara yang tidak dapat di jangkau secara keseluruhan, tidak di tinggalkan seacra keseluruhan”

Syeikh Taqiyyudin al-Hishni dalam kifayah al-akhyar juz 1 hal 485 mengatakan :

سرق شخص طعاما في وقت القحط والمجاعة فإن كان يوجد عزيزا بثمن غال قطع وإن كان لا يوجد ولا يقدر عليه فلا قطع و على هذا يحمل ما جاء عن عمر رضي اللّه عنه لا قطع في عام المجاعة

“bila orang mencuri makanan di waktu pancklik dan masa krisis, maka apabila pelaku merupakan orang yang enggan membayar harga mahal maka di hukum potong tangan, dan apabila bukan orang yang demikian dan tidak mampu membayar dengan harga mahal, maka tidak di hukum potong tangan. Pada konteks inilah di pahami riwayat dari Umar ra : tidak ada hukuman potong tangan pada masa krisis”

Keterangan al-Hishni menunjukan, tidak selamanya had haruss di terapkan. Tidak perlu memaksakan hukuman had bila tidak memungkinkan untuk di lakukan, sebagaimana teladan yang di lakukan oleh Umar radliallahu anhu. Khalifah lebih memilih menghindarkan bahaya yang lebih besar berupa teranamnya nyawa di bandingkan dengan dampak negatif meninggalkan had pencurian yang berorientasi pada penjagaan terhadap harta.

Dalam salah satu kaidah fiqih juga di sebutkan :
درء المفاسد مقدّم على جلب المصالح

“menolak kerusakan itu di dahulukan daripada menarik kebaikan”

Artinya ketika perbuatan yang baik (menegakan khilafah) itu hanya akan menjadikan rusaknya islam dan semakin di jauhi bagi orang-orang yang akan memeluk islam dalam masa sekarang, itu harus di hindarkan, karna bahaya yang akan timbul kelak phobia terhadap islam dan belum siapnya mental masyarakat indonesia untuk menegakkan syariat islam secara kaffah seperti yang sudah d jelaskan di atas

Semoga bermanfaat...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel