Generasi NU Berada Diantara Pemikiran Orang-Orang Radikal Dan Orang Liberal



Tulisan ini di tujukan untuk orang-orang yang mau berfikir dan menanggapi secara objektif. jika pembaca membaca tulisan ini sampai akhir insya Allah pembaca akan menemukan benang merah yang mana akan membuat ghirah bagi diri kita dalam memperjuangkan Nahdlatul Ulama


Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan umat islam yang terbentuk pada 31 januari 1926. Awalnya, kalangan pesantren pada tahun 1916 berupaya untuk melawa kolonialisme dengan membentuk sebuah organisasi pergerakan,dengan nama Nahlatul Wathan. Kemudian, pada tahun 1918 didirkan taswirul afkar atau juga di sebut nahdlatul fikr. 


NU namanya harum dimana-mana, terkenal di seluruh dunia sebagai penyebar akidah bermanhaj ahlussunah wal-jama’ah. Dan kita juga sering mendengar kaedah popular dari organisasi NU yaitu “al-muhafadzatu ‘ala qodimis sholih wal akhdu bil jadidil ashlah (mempertahankan tradisi yang baik, dan mengambil tradisi yang lebih baik)

Tetapi seiring berjalannya waktu nampaknya NU sedang di hantam badai. Yang mana banyak generasi penerus NU tidak percaya diri lagi dengan pemikiran para pendiri NU dan banyak anak muda yang malu mengaku NU bahkan tidak sedikit yang antipati dan keluar dari NU. Sehingga menurut ssaya fenomena generasi NU sekarang boleh di bilang “an-nahdliyin baina al-mutasyaddidin wa al-libraliyyin”

Biasanya generasi pemuda NU yang belajar sembarangan dari medsos, elektronik dan teryata situs aliran radikal, atau dari sekolah, kampus radikal di dalam atau luar negeri dan di doktrin oleh mereka untuk menjadi "Al-Mutasyaddidun”. Beda lagi dengan generasi yang memiliki pemikiran kreatif yang berlebihan, terlalu mendewakan logika, lantas belajar pada pemikiran barat dan filsafat cenderung akan menjadi ”AI-Liberaliyyun.” 

Beberapa orang yang notabene pemuda NU keturunan sudah banyak yang sekarang beralih pemikiran menjadi HTI, Wahabi-Salafi, dan Liberal. Kebanyakan mereka adalah mahasiswa berprestasi di dalam maupun luar negeri yang sedang menempuh proses pencarian jati diri. Sedangkan tempat mereka belajar setiap hari memberikan materi tugas yang sama sekali bertolak belakang dengan NU, atau juga bisa jadi karena mereka sudah tidak percaya diri lagi mengaku Nahdliyyin.


Perang argument sesama kalangan pemuda Nahdliyin di medsos sudah jadi sarapan setiap hari. Seperti yang dikatakan sebuah pribahasa ”al- muasharoh muashiroh (pergaulan itu mempengaruhi)”
pemuda NU yang sering bergaul dengan kalangan mutasyaddidun pemikirannya akan menjadi radikal, dan yang sering berkumpul dengan akademisi cenderung berfikir lebih liberal. Namun perlu di ingat, ini tidak bisa dianggap menjadi kesalahan NU seutuhnya. 

Karena setiap generasi NU sekarang lebih kritis dan lebih bersifat ingin tahu dari sebelumnya. Dan setiap pemuda ingin memberikan kontribusi perubahan bagi NU. Bedanya mutasyaddidun ingin merubah dengan cara menghancurkan pondasi akar NU sementara libraliyun ingin memberikan inovasi yang sensasional dan terkesan bertolak belakang dengan syariat Islam 

Meskipun keduanya bukan justru memperbaiki NU tapi malah membuat NU berantakan. Barangkali mereka ingin menerapakan kaedah poluler NU Yang ”al-mutasyaddidun” ingin mengembalikan Islam kepada masa masa awal dengan dalih, al muhafadzoh ’ala qodimis sholih (mempertahankan tradisi yang baik) sehingga mudah membid’ahkan orang yang melakukan hal baru atau juga terlalu idealis dengan ideologi dan tidak realistis terhadap realita

Sementara dilain sisi ”aL Iibraliyyun” ingin memberikan inovasi untuk NU dengan menerapkan kaedah al-akhdu bil jadidil ashlah (mengambil inovasi baru yang lebih baik) sehingga hal baru yang menurut logika mereka baik menjadi ukurannya dan menganggap kuno pemikiran lama dan harus ditinggalkan. Mungkin ini akibat dari penerapan akidah yang se -separuh. 

Mereka yang lazim disebut dengan al-mutasyaddidun (orang-orang radikal) yang tidak memperhatikan aspek maslahat menyeluruh bagi umat, mereka juga suka menyalahkan tanpa memperhatikan dalil yang ada. Kerap kali orang mutasyaddidun mempermasalahkan masalah furu’iyah (cabangan agama) lalu masalah cabangan ini mereka jadikan tolak ukur inti agama antara orang tersebut beriman atau tidak.

Tidak jarang mereka menganggap masalah furu’iyah ini sebagai hal paten yang tidak bisa ditolerir dengan merasa paling benar sendiri. 


Simplenya generasi NU sedang diperebutkan oleh dua pemikiran yang sama sekali berbeda dengan NU agar keluar dari manhajnya yang utama, bahkan sebagian orang tidak hanya menarik dari luar, akan tetapi ikut bermain dan mendoktrin dari dalam NU. 


Kalau mereka kebablasan maka bisa menjadi sangat ekstrim dan bahayanya jika sampai mengkafirkan orang lain, mereka disibukkan dengan perkara furu'iyah padahal kadar ukuran kekafiran seseorang adalah jika menyalahi masalah ushuliyah (pokok agama).
Berikut 17 keyakinan yang menjadi perbedaan pemahaman antara Mutasyaddidun dan Nahdiyyin: 

1. Mensifati bahwa Allah memiliki ruang (tempat).
2. Menganggap Madzhab Ash’ary memiliki banyak kekurangan.
3. Mengingkari 4 empat Madzhab Fikih (Abu Hanifah, Maliki, Syafi'i, Ahmad bin Hanbal).
4. Mendahulukan fatwa tanpa memiliki spesialisasi 8: tidak memiliki kaedah yang beraturan.
5. Memiliki pehamaman yang dangkal dalam memaknai bid’ah
6. Mengharamkan tawassul.
7. Mengharamkan sholat di Masjid yang ada kuburannya dan mereka berfatwa wajib untuk menghancurkan masjid tersebut.
8.  Melarang mengambil berkah (tabarruk) pada orang sholih.
9. Melarang perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
10.Mengharamkan ziarah kubur juga ziarah ke Makam Rasulullah SAW.
11.Menganggap orang yang mengharap pertolongan kepada Nabi adalah syirik kecil. 12.Menganggap orang tua Nabi ahli neraka.
13.Menganggap mayyit tidak bisa merespon peziarahnya.
14.Tidak setuju dzikir dan wiridan berjama’ah.
15.Menganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
16.Menilai penampilan luar dari pakaian.
17. Bertindak tanpa berpikir dan mencampur aduk antara nasehat dan ilmu. 

Di Indonesia beberapa tambahan yang sering mereka perselisihkan seperti pelarangan tahlil, melarang qunut, mengajak mendirikan khilafah, melarang istighotsah dan manaqib.

Beda lagi dengan cara al-liberaliyyun yang semakin hari semakin tumbuh subur di indonesia. Statement dan komentar mereka di televisi dan sosmed hampir kita temui setiap hari dan selalu menjadi trending topic. Biasanya mereka membawa bendera keadilan dan hak asasi manusia (HAM)

mereka menawarkan pembaharuan Islam yang toleran tanpa ada batasan, bahkan dalam sebuah pernyataan seorang Liberal dari Mesir bemama ”Islam Buhairi” misalnya dia mengatakan: ”Kita wajib membuang pemikiran Islam dari kitab salaf.” "Kita boleh menafsirkan Al-Qur’an semau kita." . "Pemikiran yang kita utarakan memang untuk merusak akal orang-orang yang beriman dan membuatnya menjadi ragu, sebab keraguan adalah keyakinan yang seutuhnya.” . ”Kita harus melepaskan diri dari ulama sejak abad kedua” (dia menganggap selama 1200 tahun kita semua berada dalam kesesatan). ”Kitab salaf adalah sampah busuk yang harus kita kubur sedalam dalamnya.” Dan banyak lagi statement kontroversialnya. Itu baru satu di Mesir. 
 
Di Inggris lain lagi ada seorang wanita bernama ”Mrs. Aminah Wadud” yang memperbolehkan wanita menjadi Imam Sholat dan Khotib Jum’at, dsb. Semoga kita dijauhkan dari pemikiran seperti ini. 

Liberal Indonesia juga tidak mau ketinggalan, inilah contoh kutipan yang menurut saya liberal. Diantaranya: Tuhan membusuk; Boleh haji diluar bulan haji; Al-Qur’an adalah budaya manusia, oleh karena itu Al-Qur’an boleh diinjak; Kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) harus kita dukung, Boleh menikah antara Orang muslim dengan seorang kafir selain ahli kitab, Semua agama itu Sama; Yang paling tahu mengenai tafsir A1~Qur’an hanya Allah dan RasulNya; dan Mengkritisi pemikiran ulama sufi seperti Imam Chozali, dan lain-lain.

jenis pemikiran yang seperti ini banyak diminati oleh kalangan aktivis mahasiswa sebab kebanyakan orang saat ini lebih suka ilmu Yang instan dan sensasional, apalagi dibarengi dengan gaya bawaan yang modern dan bahasa kontemporer, sehingga sangat mudah sekali untuk menjadi liberal dan mencari sensasi di media. Padahal kajiannya terbatas pada substansi judul tertentu saja.
Hal semacam ini bagi kalangan pemuda NU yang di pesantren sangat mudah bagi mereka untuk mematahkannya. Sebab kalangan liberal tidak memiliki manhaj khusus seperti pemikiran mutasyaddidin, dasar pemikirannya berdasarkan logika, filsafat dan trend yang ada saja. 

Seminar yang berderet, kajian dan buku telah banyak dicetak yang katanya untuk menyelamatkan Nadlatul Ulama sudah dilakukan, jangan lupakan relefansi NU sebagai organisasi pemersatu, kita perlu menyatukan kembali pemikiran kita agar generasi NU kita tidak tertular dua virus yang berbahaya ini. 

Menjadi Nahdliyyin bukan hanyak soal ikut dan memilih Rois Tanfidziyah dan Syuriahnya lalu bertengkar dengan orang yang berbeda pilihannya, atau ikut-ikutan memperkeruh konflik internal yang justru akan menambah kekecewaan banyak orang. Tapi NU adalah manhaj kehidupan kita dalam menempuh jalan kepada Allah SWT dan ridlo Rasulullah SAW. 

NU tidak dibatasi oleh sebuah garis tertentu, akan tetapi filosofi lambang NU adalah bumi bulat yang di ikat dengan tali persatuan. Menunjukkan bahwa NU sangat universal dari segala lapisan masyarakat yang memiliki live skiil dan interpersonal skill yang berbeda bersatu padu mencari barokah di dalam NU. ”Bintang songo” 9 bintang (wali songo) adalah lambang ulama panutan bagi Nahdliyyin. Pemuda NU merindukan sosok baru penerus KH Wahid Hasyim yang juga turut memberikan kontribusi bagi Negara Indonesia, bagaimana dengan generasi pemuda NU sebagai calon ulama Indonesia jika akidahnya tidak benar? 

Penyair berkata:
يا علماء الإسلام يا ملح البلاد * كيف يطيب الطعم إذا الملح فسد

”Duhai para ulama Islam yang diibaratkan garam (pejuang) bagi Negara, bagaimana mungkin rasa suatu'makanan (negara) akan nikmat jika garamnya rusak." 

Akan tetapi saudaraku sekalian, NU ini ibarat mobil eksekutif dan mahal yang bisa mengantarkan kita kepada tujuan yang utama dengan cepat dan aman. 

Oleh karenanya jikalau NU mengalami sedikit gangguan kerusakan, maka hanya orang bodoh saja yang akan meninggalkan dan membuangnya, seharusnya kita service dan kita ganti dengan spare part yang baru agar bisa kita gunakan kembali. 

Yang sering saya dengar dari para masyayikh NU di Indonesia ”Bicara NU, bicar perjuangan.” Semua orang yang masuk ke dalam NU ingin berjuang mengabdi untuk Bangsa, Negara dan Agama. Oleh karena itu bisa kita lihat orang NU berjuang dimana saja sesuai profesinya. 

Yang terakhir semoga kita para generasi pemuda tetap istiqomah menjadi Nahdliyyin dan semoga apa yang menjadi perjuangan kita telah sesuai harapan para muassis dan mendapat Ridlo Allah SWT. 

Semoga bermanfaat...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel