Faktor Yang Mengharuskan Umat Muslim Mengikuti Salah Satu Dari Madzhab 4 atau Taqlid



al-Qur'an dan hadis bukanlah berisi hukum jadi seperti pasal-pasal dalam undang-undang. ia adalah sumber dasar hukum yang masih bersifat umum (bahan dasar) sehingga diperlukan peralatan untuk menyusunnya menjadi hukum jadi yang mapan. ia bagaikan bambu yang perlu dianyam dahulu agar menjadi besek, tampah, dan iain-ialn. Selain itu, juga dibutuhkan pula keahlian menganyam bambu. Karena, meskipun memiliki peralatan yang lengkap, kalau tidak memiliki keahlian, tentunya tidak akan berhasil. 



Maka, bagi orang yang memiliki peralatan lengkap serta keahlian dalam menggali hukum-hukum dari al-Qur'an dan hadis, ia diperbolehkan untuk merumuskan hukum langsung dari sumbernya. Namun, bagi yang tidak memenuhi kriteria tersebut, ia tidak boleh memberanikan diri melakukan penggalian hukum dari sumbernya, sebab besar potensi kesalahannya. 



la diharuskan mengikuti (taqlid) kepada pakar hukum yang dengan penuh keikhlasan telah menelaah dan mendalami ai-Qur'an dan hadis yang selamat dari akidah sesat. Kewajiban taqlid sesuai firman Allah dalam surah al-Nahl ayat 43: 

فاسأ لوا أهل الذكر إن كمتم لا تعلمون


Maka, bertanyalah kalian kepada ahli dzikir jika kalian tidak mengetahui. 

Baca juga : Bahaya Mencampuradukan Madzhab

Dalam hal taqlid ini, pendapat ulama yang akurat dan diakui validitasnya adalah empat ulama yang telah mendirikan madzhab empat, yaitu Imam al-Hanafl, Imam al-Maliki, Imam al-Syafi'i, dan Imam al-Hanbali.

Sebab, hanya rumusan hukum keempat madzhab inilah yang bisa terbukukan dan terjaga validitas informasinya dari masa ke masa. Keempat madzhab inilah yang telah teruji dan diakui oleh ulama-ulama Ahlus Sunnah wal jamaah, seperti Imam al-Nawawi, Imam al-Raffi, dan Imam al-Ghazali. Ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bughyah aI-Mustarsyidin halaman 8. 

(مسألة : ش) نقل البن الصلاح الإجماع على أنه لا يجوز تقليد غير الأربعة، أي حتى العمل لنفسه فضلا عن القضاء و الفتوى، لعدم الثقة بنسبتها لأربابها بأسانيد تمنع التحريف والتبديل، كمذهب الزيدية المنسوبين إلى الامام زيد بن علي بن الحسين السبط رضوان اللّه عليهم.....إلخ

Artinya: Ibnu Shalah mengutip kesepakatan ulama, bahwasanya tidak diperbolehkan taqlid kepada selain empat madzhab, meskipun hanya untuk diamalkan diri sendiri, apalagi kalau sampai difatwakan. Sebab, selain keempat madzhab tersebut, validitasnya kurang diakui sehingga memungkinkan adanya pengubahan dan penggantian dari para penyampai berita. Seperti madzhab Zaidiyah, pengikut Imam Zaid bin Ali bin Husain, cucu Nabi. 

Meskipun sebenarnya Imam Zaid adalah seorang imam yang alim dan saleh, namun para pengikutnya dianggap sebagai orang-orang yang menggampangkan dan pendapatnya kurang akurat, karena mereka kurang maksimal dalam meneliti dan menjaga keakuratan madzhab tersebut. Berbeda dengan empat madzhab yang para pembesarnya telah mengerahkan segala kemampuannya untuk menjaga keakuratan pendapat-pendapat dalam madzhabnya dan menjelaskan yang valid dan yang kurang valid, sehingga imam-imam keempat madzhab ini bersih dari pengubahan dan bisa mengetahui pendapat yang kuat dan yang lemah.

Ahlus Sunnah mengikatkan diri pada salah satu imam madzhab empat.

Pada pertengahan abad ke-4 H, himmah ulama untuk berijtihad mutlak dengan merujuk pada sumber hukum islam, al-Qur'an dan sunnah, mulai mengendor, kemampuan untuk berijtihad mutlak semakin menurun, perubahan situasi politik dan menurunnya moral juga telah membunuh jiwa kemandirian ulama dalam berfikir dan menjadi penghalang semangat mengkaji hukum syari'at dari sumber aslinya, yakni al-Qur'an dan sunnah.

Mereka mencukupkan diri dengan fikih hasil rumusan imam terdahulu, seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syaii'i, imam Ahmad bin Hanbal, dan imam-imam lain yang satu abad. Mereka mengharamkan diri untuk keluar dari batas fikih imamnya, dengan memfokuskan pikirannya untuk mengkaji 'ibarat-'ibarat imamnya, bukan pada sumber aslinya.
Sehingga, fanatisme mereka terhadap hasil rumusan imamnya sampai tahapan seperti ungkapan Abu Hasan al-Kurhi dari ulama Hanafiyyah: Jika ada ayat atau hadis yang bertentangan dengan pendapat ulama kami, maka dalil tersebut merupakan dalil yang interpretatif (muawwal) atau mansukh (telah diubah). Dengan demikian, berhentilah gerakan ijtihad.

Penyebab berhentinya aktifitas ijtihad serta tren mencukupkan diri dengan mengikuti rumusan mujtahid sebelumnya, setidaknya dipengaruhi empat faktor.
Pertama, terpecahnya kaum Muslimin dalam sekat-sekat negara (daulah) yang masing-masing berdiri sendiri, dan tidak terjalin hubungan harmonis antara negara-negara tersebut. Yang terjadi di antara mereka justru saling berebut kekuasaan. Mereka disibukkan dengan urusan pertahanan kekuasaan dan perluasan wilayah, sehingga orientasi memajukan keilmuan syari'at menjadi melemah.

Kedua, imam mujtahid telah menjadi kelompok-kelompok yang mempunyai madrasah dan santri (murid) yang fanatismenya amat kental. Para santri ini berusaha memperkuat legalitas pendapat imamnya masing masing dengan mencari dalil-dalil al-Qur'an dan hadis, bukan pencapaian derajat mujtahid mutlak. Bahkan, jika terdapat ayat al-Qur'an atau hadis yang secara lahir bertentangan dengan rumusan imamnya, maka mereka menganggap ayat atau hadis tersebut yang interpretatif (muawwal) harus dita'wil dengan makna lain atau dalil yang mansukh (yang dirombak).

Ironisnya, imam mujtahid yang tidak memiliki banyak pendukung, tidak ada yang membukukan pendapatnya untuk dijadikan rujukan, seperti madzhab Al-Auza'i, Dawud alZhahiri, Sufyan al-Tsauri, dan lain-lain. Inilah yang dimaksud dengan madzhab yang tidak mudawwan (terbukukan).

Ketiga, penutupan pintu ijtihad oleh sebagian ulama bermula dari tidak adanya rumusan baku tentang persyaratan melakukan ijtihad ketika pintu ijtihad masih terbuka lebar, sementara kemampuan berijtihad di kalangan kaum Muslimin relatif menurun dari masa ke masa. Maka, ijtihad dilakukan oleh sembarang orang dengan kemampuan seadanya. Akibatnya, terjadi kerancauan di antara beragam hasil ijtihad apalagi jika hal ini diterapkan dalam tataran kebijakan publik. Bahkan, tidak jarang dapat menghilangkan nyawa dcngan mengatasnamakan ayat al-Qur'an dan hadis Rusulullah. Belum lagi adanya gejala interfensi kepentingan politik dan kekuasaan sehingga ijtihad dijadikan sarana untuk bersembunyi di balik kedok legalitas syari'at.

Setelah kejadian ini pada ahir abad ke-4 H, para ulama mengukuhkan atas tertutupnya pintu ijtihad dan mengembalikannya pada rumusan yang sudah ada yang diperkuat dengan dalil-dalil yang di kaji para santri mereka.

Keempat, menyebarnya “Virus akhlak" atau krisis moral di kalangan sebagian Muslimin, seperti sifat takabbur, ananiyyah (egoisme) dan hasud serta menurunnya moralitas ulama, sehingga jika ada orang yang memproklamirkan dirinya sebagai mujtahid, maka dia dituduh sebagai orang yang mencari popularitas dan dihujani berbagai pertanyaan dari para ulamalain.

Syaikh Jalal al-Din al-Suyuti misalnya, begitu mengikrarkan diri sebagai mujtahid, segera saja dihujani pertanyaan oleh para ulama. Akhirnya beliau memilih ber-taqlid kepada Imam al-Syafi'i. Maka, dalam rangka menghindar dari tuduhan tersebut, orang yang berfatwa hukum akan berhati-hati, dengan mengatakan “Saya hanya mengutip pendapat ulama terdahulu yang telah populer dan diterima di kalangan masyarakat."

Dengan latar belakang ini, para ulama sepakat mendeklarasikan tertutupnya pintu ijtihad untuk membuntu pintu masuk sejumlah oknum yang ingin menyalahgunakan, dan mengharuskan pengambilan hukum kembali kepada fatwa imam mujtahid yang dinilai valid dalam fatwa dan periwayatannya.
Dalam hal ini, ada imam mujtahid empat, yakni Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam as-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. 

Baca juga : Pernyataan Ulama Tentang Sudah Tidak Adanya Imam Mujtahid

Maka, pantaslah Ahlus Sunnah wal Jamaah sampai zaman sekarang ini telah mengikatkan diri kepada imam mujtahid empat. Hal ini setidaknya dilatarbelakangi empat faktor sebagai berikut:

1. Kemampuan berijtihad mutlak saat ini hampir tidak mungkin sehingga yang menjadi standar amaliah fikih bagi setiap orang adalah taqlid.

2. Dalam ber-taqlid, orang harus selektif memilih tokoh panutan (muanIad) yang memiliki kapasitas memadahi.

3. Selain imam madzhab empat yang telah populer, tidak ada ulama mujtahid yang memiliki kapasitas intelektual yang memadai untuk segala permasalahan yang ada jaminan validitas periwayatan dan keshahihannya.

4, Karena banyaknya pengikut madzhab empat yang selalu melestarikan madzhabnya dengan menggiatkan berbagai aktifitas penulisan karya mereka.

Beberapa faktor inilah yang menjadi jaminan bahwa periwayatan madzhab empat adalah valid dan dijamin keshahihannya

semoga bermanfaat..

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel