Bahtsul masaa'il Sidogiri





1. Ahli Waris Beda Agama

Apakah seseorang anak tetap mempunyai hak waris jika antara keyakinan anak dan orang tua berbeda (beda agama)?

JAWAB:

Harta warisan tidak dapat diwariskan apabila salah satu dari pewaris dan ahli warisnya non-Muslim. Jika kedua-duanya Muslim, atau sama-sama non-Muslim, maka harta warisan itu dapat diwariskan. Kasus kedua (sama-sama non-Muslim bisa saling waris-mewariskan) dapat terjadi karena agama mereka sama-sama batalnya.

Lihat: Hasyiyah Jamal, XV/326

2. Anggota Tubuh Terputus, Wajib Dimandikan?

Salah satu anggota tubuh yang terputus misalnya kaki apa itu sama seperti mayyit (wajib dimandikan, dll)?

JAWAB:
Anggota tubuh yang terputus dari orang yang masih hidup itu tidak sama dengan mayit, artinya tidak wajib dimandikan, dll. Apabila anggota tersebut terputus dari orang Islam yang jelas-jelas sudah mati maka hukumnya sama dengan mayatnya, yaitu wajib dimandikan dishalati dll.

Lihat: Mughni al-Muhtaj, I/346

3. Bacaan Pelan dalam Qunut

Dalam doa qunut salat subuh, imam membaca pelan ketika sampai pada bacaan "fainnaka taqdhi wala yuqdha ‘alaika...". Adakah sumber atau dalil yang menjelaskan demikian?


JAWAB:

Kitab yang menerangkan bahwa ketika bacaan qunut sampai pada pujian (fainnaka taqdhi wala yuqdha ‘alaika) yang baik dibaca pelan, itu terdapat di setiap kitab fiqih. Di antaranya adalah kitab al-Majmu’ karya Imam an-Nawawi juz III hlm 501.

Sebenarnya dalam semua qunut yang dibaca imam–apakah bacaannya dikeraskan atau dipelankan, masih terdapat perselisihan di kalangan ulama. Namun yang dipilih oleh ulama asal Irak dengan berlandaskan pada Hadits Sahih Bukhari, adalah dibaca keras, tentunya untuk salat subuh. Sedangkan makmum yang mendengar bacaan qunut imam cukup mengamininya saja, dan bagi yang tidak mendengar sunat membaca qunut sendiri.

Lihat: I’anatuth-Thalibin, I/186; al-Majmu’ syarh Muhadzdzab, III/501.

4. Basuh Najis Anjing dengan Sabun

Di tempat saya ada sabun namanya sabun mandi herbal thaharah, komposisi sabun itu terbuat dari tanah liat, minyak zaitun, minyak kelapa sawit, susu sapi, dll. Bisakah sabun itu digunakan untuk mensucikan najis besar (najisnya anjing) sebagai pengganti tanah?

JAWAB:

Tata cara membasuh najis anjing yang dijelaskan dalam kitab fiqih adalah membasuh tempat yang terkena najis dengan tujuh kali basuhan, salah satunya dicampur dengan debu.

Apabila debu tersebut diganti dengan yang lain semisal sabun, maka terjadi perbedaan di kalangan ulama sebagai berikut:

Pertama, sabun tersebut bisa menggantikan posisi debu (bisa dibuat campuran) sebagaimana batu dalam istinjak bisa diganti dengan benda yang lain yang sepadan.

Kedua, sebun tersebut tidak bisa menggantikan posisi debu sebagaimana tidak bisanya debu diganti dengan benda yang lain ketika tayammum.

Ketiga, apabila masih ada debu, maka yang lain tidak bisa menggantikan posisinya. Sedangkan apabila tidak ada debu maka sabun bisa menggantikan posisi debu.

Lihat: Kifayatul-Akhyar, I/71; al-Muhadzdzab, I/48

5. Bisnis dengan Orang Kafir

Bolehkah kita mengadakan kerja sama dalam bisnis dengan orang yang berbeda akidah dengan kita? Halalkah upah yang didapat?


JAWAB:

Menjalin hubungan dengan non Muslim tidak semuanya dilarang. Sepanjang kerjasama antara orang Islam dan non Muslim berkaitan dengan urusan duniawi dan tidak menyangkut keyakinan atau ritual ibadah serta tidak merugikan kepada umat Islam, maka diperbolehkan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah melakukan hubungan bisnis dengan orang Yahudi Khaibar. Disebutkan dalam Hadis:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم دَفَعَ إِلَى يَهُوْدِ خَيْبَرَ نَخْلَ خَيْبَرَ وَأَرْضَهَا ، عَلَى أَنْ يَعْتَمِلُوهَا مِنْ أَمْوَالِهِمْ، وَلَهُمْ شَطْرُ ثَمَرِهَا. رواه مسلم.

Dari Ibnu Umar Sesungguhya Rasululah shallallahu alaihi wasallam menyerahkan pohon kurma Khaibar dan tanahnya kepada orang Yahudi Khaibar untuk dikelola dengan harta mereka dan sebagian dari hasil buahnya untuk mereka.” (HR. Muslim)

Lihat: Tafsir Murahul-Labîd, l/63, Bulûghul-Marâm, 178

6. Cara Mengqadha'i Puasa

1. Apakah dalam mengqadha'i puasa harus berurutan ataukah boleh dipisah-pisah? Semisal kita punya hutang 5 hari, apakah harus puasa 5 hari berturut-turut ataukah boleh dipisah yang penting lengkap 5 hari?
2. Apa kewajiban orang yang punya hutang puasa dan tidak mengqadha’i hingga lewat Ramadhan berikutnya?


JAWAB:

1. Meninggalkan kewajiban puasa, adakalanya karena ada uzdur, adakalanya tidak karena uzur. Orang yang tidak berpuasa disebabkan ada uzur seperti sakit, bepergian, dll maka dia tidak wajib bersegera dalam mengqadha’inya dan tentunya juga tidak wajib berurutan. Dan apabila tidak karena uzur maka dia wajib bersegera dalam mengqadha’inya dan harus berurutan.

2. Orang yang tidak mengqadha’i puasanya hingga sampai pada bulan Ramadhan tahun berikutnya, di samping berkewajiban mengqadha’i puasanya, sekaligus wajib mengeluarkan 1 mud (6,75 ons) makanan pokok sebagai ganti dari setiap hari Ramadhan yang ia tinggalkan (tidak puasa). Jadi umpama tanggungan puasanya 5 hari maka kewajibannya adalah 5 mud. Apabila sampai dua kali Ramadhan maka untuk 1 hari kewajibannya 2 mud, dan begitu seterusnya.

Lihat: Kifayatul Akhyar, I/214; Tuhfatul-Muhtaj, XIV/20

7. Facebook-an dengan Ajnabiyah

Saat ini facebook sudah bisa dikatakan sebagai "oksigen". Mulai dari anak kecil, remaja dan orang dewasa pun sebagian besar keranjingan facebook. Nah, bagaimana hukumnya berkomunikasi dengan ajnabiyah (perempuan yang bukan mahram) di facebook? Kenapa?

JAWAB:

Berkomunikasi dengan seorang perempuan, melalui media dalam bentuk apapun, seperti HP, Internet (yang sedang marak pada saat ini adalah facebook) dll, pada dasarnya sama saja dengan berkomunikasi secara langsung. Jika menimbulkan syahwat atau fitnah (dorongan dalam hati untuk bersetubuh) maka tidak diperbolehkan alias haram. Sebab hal ini menjadi penyebab untuk melakukan larangan-larangan syariat yang lebih jauh lagi, seperti khalwah, bermesraan atau bahkan sampai pada perzinaan. Na’udzubillah.

Al-Alusi ketika menafsiri ayat “walâ taqrabuz-zinâ”, beliau berkata: “Jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang menjadi penyebab zina, baik penyebab yang jarang sekali menyebabkan perzinahan, ataupun yang sering (menyebabkan perzinahan), apalagi sampai melakukannya.”

Namun jika ada kebutuhan, maka komunikasi tersebut diperbolehkan sesuai dengan kadar kebutuhannya. Wallahu A'lam.

Lihat: Is’adurrafiq, II/93; I’anatuth-Thalibin, III/260; Tafsir al-Alusi, X/443. (Maktabah Syamilah Ishdar 2)

8. Haid, Cukur Rambut sebelum Mandi Besar

Bagaimana seandainya ada orang haid/nifas sebelum berhenti masa haidnya/nifasnya dia keramas, dan rambutnya ada yang rontok. Pertanyaannya, bagaimana hukumnya rambut yang rontok itu dan juga hukum mandinya, padahal haidnya belum tuntas dan belum mandi besar. Tolong kasih penjelasan sekaligus kitabnya!

JAWAB:
Sebenarnya bagi wanita yang sedang mengalami haid atau nifas dianjurkan tidak memotong kuku, rambut dan lain-lain dari anggota badan, bukannya tidak boleh. Sebab ada sebagian keterangan yang menjelaskan anggota badan yang belum disucikan kelak di akhirat akan kembali ke pemiliknya masih dalam keadaan janabah (belum disucikan). Akan tetapi bila ada yang terlanjur dipotong, maka yang wajib dibasuh adalah tempat bekas anggota yang dipotong saja, bukan potongan dari anggota itu.
Lihat: Hasyiyah al-Bujairami ‘alal-Khathib, II/307; Fathul Mu’in, bab Ghusl

9. Hukum Bayi Tabung

Bagaimana hukumnya bayi tabung yang spermanya dari selain suami?
Mansur Yusuf, gleno_on@ymail.com


JAWAB:
Mengenai hukum proses bayi tabung adalah haram kecuali bila:
· Sperma yang diproses milik suami-istri yang dikeluarkan dengan cara yang halal.
· Dimasukkan ke rahim istri (bukan wanita lain)

Catatan : Maksud keluarnya sperma yang halal antara lain dengan cara ihtilam (mimpi basah) dan onani yang menggunakan tangan istrinya. Sedangkan yang dimaksud dengan keluarnya sperma yang tidak halal antara lain yaitu dengan cara onani dengan tangannya sendiri atau dengan tangannya orang lain (bukan istrinya), bersetubuh dengan wanita lain, wathi dubur (sodomi) dan melihat atau berhayal tentang hal-hal yang diharamkan.
Lihat: Faidhul-Qadir, V/611; al-Bujairami, IV/77; al-Bujairami, XIV/293 (Maktabah Syamilah)

10. Hukum Merebonding Rambut

Bagaimana hukumnya merebonding rambut?

JAWAB:

Merebonding rambut termasuk perbuatan mengubah penciptaan (taghyîrul-khilqah) yang dilarang, kecuali bila dikerjakan oleh seorang istri untuk menyenangkan suaminya dan tentunya mendapat izin dari suaminya.
Lihat: Nihayatul-Muhtaj, II/128.

11. Hukum Pewarna Kuku dan Tato

1. Bolehkah menggauli istri yang baru bersih dari haid, sementara dia belum mandi besar?
2. Bagaimana hukumnya memakai pewarna kuku, dan bagaimana juga hukumnya memakai tato?
3. Bagaimana hukumnya memotong/mencukur alis mata dan bulu mata?


JAWAB:
1. Pendapat yang kuat dalam mazhab asy-Syafii tidak diperbolehkan, demikian ini berlandaskan pada penggalan ayat ke-222 surat al-Baqarah (artinya):
“Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci”
“Sebelum mereka suci” dalam ayat ini diartikan dengan “sebelum mereka mandi”, tidak diartikan dengan “sebelum berhenti keluar darah”, meskipun ada pendapat yang mengarahkan kepada arti kedua ini.
lihat: I ‘anatut-Thalibin, I/89.

2. Memakai pewarna kuku untuk laki-laki hukumnya haram karena ada unsur menyerupai wanita. Sedangkan untuk perempuan hukumnya masih terdapat beberapa peninjauan:
a. Sunat: 1) Bagi istri, dengan bertujuan untuk menyenangkan suaminya, dan dengan seizinnya; dan 2) Bagi wanita yang sedang ihram, yaitu tangan sampai pergelangan, untuk menutupi warna kulitnya.
b. Makruh: bagi wanita yang tidak mempunyai suami dan tidak karena ihram, bahkan bisa sampai pada tingkatan haram jika bertujuan untuk menyenangkan laki-laki yang bukan mahram.

Sedangkan memakai tato hukumnya haram, karena tato–sebagaimana pendapat Imam Hasan al-Bashri, termasuk mengubah ciptaan Allah (taghyiru khalqillah) yang dilarang dalam al-Qur’an, dan dapat menyebabkan salat tidak sah, sebab pemilik tato dianggap membawa benda najis.
Lihat: al-Majmu‘, I/296; Tafsir Ibni Katsir, II/415; I‘anatut-Thalibin, I/127.

3. Tidak diperbolehkan karena termasuk mengubah ciptaan Allah, kecuali jika tumbuhnya alis tersebut panjang maka memotongnya tidak sampai haram, tetapi makruh.
Lihat: Syarh an-Nawawi ala Shahih Muslim, VII/241; al-Majmu‘, I/290.

12. Hukum Utang-Piutang, Jual Beli Tokek, Jual Beli Kucing Anggora

1. Sebuah organisasi yang menghutangkan uang kepada anggotanya dengan syarat penghutang harus memberi bunga. Bagaimana hukum Utang Piutangnya ?
2.  Bagaimana hukum Jual beli Tokek ?
3.  Bagaimana hukum Jual beli Kucing Anggora ?
4.  Kalau tidak boleh, bagaimana solusinya ?
JAWAB:
1) Dijelaskan dalam fikih bahwa yang bisa bisa memberi hutangan adalah orang yang bisa ber-tabarru' (mukallaf, baligh, aqil, miliknya sendiri), sedangkan organisasi tidak masuk ke dalam katagori ini. Karena itu kita tidak boleh berhutang pada uang organisai kecuali jika ada persetujuan dari seluruh anggota organisasi tersebut. Sedangkan hutang dengan sistem mengambil bunga tetap dihukumi riba yang haram dilakukan.
2) Jual beli tokek dalam madzhab Syafii tidak diperbolehkan karena termasuk hasyarat (sebangsa serangga). Solusinya adalah dengan memberi persen kepada orang yang mempunyai tokek tersebut atas jerih payahnya mencari tokek, atau mengikuti madzhab lain. 
3) Menjual kucing anggora hukumnya boleh sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Raudhatuth-Thalibin, III/115. Beliau menjelaskan bahwa menjual kucing yang jinak hukumnya boleh-boleh saja, yang tidak diperbolehkan adalah menjual kucing liar.

13. Jual Beli Buku Bajakan

Bagaimana sebenarnya hukum menggandakan dan memperjual-belikan buku bajakan?
JAWAB:

Di antara ulama kontemporer yang tegas mengharamkan pembajakan dan memperjual belikannya adalah Syekh DR Sa’id Ramadhan al-Buthi. Menurut beliau perbuatan ini termasuk ghashab, atau lebih pasnya mencuri hak orang lain.
Lihat: Qadhâyâ Fiqhiyyah Mu’âshirah, 79-100.   

Berbagai forum bahstul masail yang membahas masalah ini selalu berujung perbedaan pendapat. Namun ada secercah titik temu kata sepakat yang bisa dipadukan, yaitu apabila hasil karya tersebut telah terdaftar pada lembaga yang berwenang sehingga dilindungi oleh undang-undang, maka membajak karya tersebut haram hukumnya, baik bertujuan untuk dikomersilkan atau tidak, karena tunduk dan patuh pada aturan perundang-undangan negara hukumnya wajib, selama tidak bertentangan dengan Syari’at Islam.


Lihat: Bughyatul-Mustarsyidin, 91; Tuhfatul-Muhtaj, III/71.'

14. Keramas Saat Haid
Bagaimana sebenarnya hukum keramas pada saat haid, sebab saya mendengar tidak diperbolehkan. Sementara itu, saya tidak tahan dengan kotoran yang ada di rambut?

JAWAB:
Orang yang sedang haid atau nifas tidak dilarang mandi keramas untuk membersihkan rambutnya. Yang tidak diperbolehkan adalah mandi dengan niat menghilangkan hadas haid dan nifasnya, padahal haid atau nifasnya belum selesai, sebab ia berarti telah bermain-main dalam ibadah (talâ’ub).
Kemungkinan, rumor tidak bolehnya keramas bagi wanita haid atau nifas itu muncul karena khawatir ada rambut yang lepas pada saat rambut tersebut dalam status hadas dan tidak ikut disucikan ketika haid atau nifas telah putus. Rumor tersebut tidak benar, sebab menghilangkan rambut atau kuku pada saat haid atau nifas tidak sampai dilarang. Ulama hanya menganjurkan bagi orang yang sedang junub agar tidak menghilangkan bagian dari tubuhnya dengan sengaja sebelum mandi junub dilakukan.
Lihat: Nihâyatuz-Zain, 31

15. Kerja Berat, Boleh Tidak Berpuasa ?

Bagaimana hukumnya tidak berpuasa karena bekerja berat?

JAWAB:
Jika ketika bekerja terdapat masyaqqat (kesengsaraan/bahaya) yang parah maka diperbolehkan berhenti berpuasa namun wajib mengganti di hari yang lain, baik bekerja milik dirinya sendiri atau milik orang lain. Bagi para pekerja tetap wajib berniat berpuasa di malam harinya, dan jika kenyataannya pada waktu bekerja ternyata tidak kuat berpuasa maka boleh berhenti. Dengan kata lain, dia tidak boleh berhenti berpuasa sebelum bekerja dimulai, juga tidak boleh berhenti jika ia masih kuat berpuasa.
Lihat: I’ânatut-Thâlibîn, II/267-268.

16. Khawariqul Adah
1. Saya mau tanya tentang batasan Khowariqul Adah yang haram. Apakah yang dilakukan dalam acara The Master itu termasuk sihir yang haram? Kalau itu haram, kenapa sesuatu yang mubah kok jadi Haram? Di mana letak keharamannya?

JAWAB:
1. Syekh Zakariyya al-Anshari dalam Fathul-Wahhab II/151 menjelaskan bahwa sihir banyak modelnya, di antaranya adalah melakukan gerak batin dengan membaca mantera-mantera untuk minta pertolongan kepada ruh-ruh. Sehingga dengan gerak batin ini kemudian Allah I membisakan pelakunya untuk mengerjakan sebagian hal yang menyalahi kebiasaan, seperti bisa berjalan di atas air, dll. Hal seperti ini menurut Syekh Zakariyya boleh-boleh saja asalkan memenuhi beberapa syarat berikut:
1. Penggunanya termasuk orang yang disiplin Syariat
2. Mantera yang digunakan tidak menyalahi Syariat
3. Tidak menimbulkan efek negatif (dharar)
4. Jika meminta bantuan kepada jin maka jinnya harus beragama Islam
Apabila salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi maka pelakunya berdosa bahkan bisa kafir apabila punya keyakinan akan kehalalannya.
Melihat dari kenyataan pada umumnya bahwa dari aneka ragam bentuk hipnotis (termasuk praktek dalam The Master)rupanya tidak ada yang memehui persyaratan di atas.
Karena itu, kita dapat menyimpulkan bahwa hipnotis termasuk bagian dari sihir yang dilarang.

Lihat: Is’âdurrafîq, II/93

17. Pacaran via HP
Berkomunikasi dengan lawan jenis melalui HP dsb, jelas dianggap berkomunikasi langsung. Tapi kenapa dalam masalah perwakilan dalam Masalah Wali Nikah kok ada ulama yang tidak membolehkan lewat HP? Kalau alasan Ikhtilath, bukankah lewat HP lebih Ihtiath ketimbang surat yang bisa disalahgunakan.
Berkomunikasi dengan lain jenis, melalui media dalam bentuk apapun, seperti HP, Internet (yang sedang marak pada saat ini adalah Facebook) apabila dalam rangka bermesraan, memang tidak diperbolehkan alias haram. Sebab hal ini menjadi penyebab untuk melakukan larangan-larangan syariat yang lebih jauh lagi, seperti khalwah, bermesraan atau bahkan sampai pada perzinaan. Na’ûdzubillâh. Al-Alusi ketika menafsiri ayat ”Walâ taqrabuz-zinâ”, beliau berkata ”Jangan sekali-kali melakukan perbuatan yang menjadi penyebab zina baik penyebab yang jarang sekali menyebabkan perzinahan atau sering terjadi, apalagi sampai melakukannya.”
Jangankan dalam rangka bermesraan, tidak bermesraan saja namun ketika mendengarkan suara perempuan ada perasaan ladzdzat atau menimbulkan fitnah (keinginan untuk berzina dan hal-hal yang berkaitan dengan zina seperti berciuman, bersentuhan, dll) tetap diharamkan. Jadi tidak diperbolehkannya bermesraan lewat alat komunikasi ini untuk menutup jalan sama sekali menuju perbuatan yang lebih jauh, yaitu perzinahan, atau yang biasa dikenal dengan saddudz-dzarâ’i’.
Sedangkan tidak diperbolehkannya akad nikah melalui HP juga karena dalam rangka hati-hati. Dalam akad pernikahan antara wali, suami dan saksi disyaratkan harus kumpul dalam satu majlis dan tidak cukup hanya mendengar suaranya saja.

I'ânatuth-Thâlibîn III/260; Tafsîr al-Alûsî, X/443.

18. Lansia Tak Kuat Puasa
Bagaimana hukum dan dendanya orang lansia yang tidak kuat perpuasa karena sakit?


Jawab:

Sebenarnya orang lansia yang memang tidak kuat untuk melakukan puasa boleh saja untuk ifthar (tidak melakukan puasa) akan tetapi dia wajib mengganti/membayar denda 1 mud (6, 75 ons) untuk 1 hari puasa yang ditinggalkan, diberikan kepada fakir-miskin.

Referensi:
Hasyiyah al-Bujairami ‘alal-Khathib, VI/499

19. Manfaatkan Barang Gadaian, Boleh ?

Bolehkah memakai atau memanfaatkan barang gadaian?

JAWAB:

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diperinci terlebih dahulu:

Apabila syarat pemanfaatan barang gadaian ini diucapkan ketika terjadi transaksi (fi shulbil-aqdi) maka hukumnya tidak boleh, sebab akad gadaian model ini dianggap batal.

Apabila syarat pemanfaatan barang gadaian tersebut tidak diucapkan dalam akad, dan di tempat itu sudah menjadi tradisi bahwa setiap barang gadaian pasti digunakan oleh penerima gadaian (murtahin) maka terjadi perselisihan pendapat, namun mayoritas ulama tetap menghukumi boleh karena sebuah tradisi tidak bisa disamakan dengan syarat.

Lihat: Hasyiyah al-Bujairami alal-Khathib, VIII/36; al-Asybah wan-Nazha’ir, I/192.

20. Membeli Barang Curian

Bagaimanakah hukumnya membeli barang curian?

JAWAB:

Di antara syarat sahnya jual beli adalah barang yang dijual harus merupakan hak milik orang yang menjual. Jika bukan hak milik orang yang menjual, seperti barang curian dll maka transaksinya tidak sah/batal.

Namun apabila pembeli tidak tahu bahwa barang yang dibeli merupakan barang curian maka ia boleh menerimanya serta halal menggunakannya dengan catatan orang yang menjual barang tersebut secara zhahir adalah orang yang baik. Jika secara zhahir dia bukan orang yang baik, maka pembeli tetap akan mendapat tuntutan di akhirat, sekalipun transaksinya sah. Karena itu kita harus hati-hati menerima sesuatu dari orang zhahirnya jahat, baik menerima dalam rangka membeli, diberi, atau lainnya.

Lihat: Fathul Mu’in; I’anatuth-Thalibin, III/13

21. Mengqodho’i Shalat Orang Mati

Adakah keterangan yang memperbolehkan orang hidup mengqodho’i shalatnya orang yang telah meninggal dunia?

JAWAB:

Shalat merupakan ibadah yang dilakukan seorang hamba secara pribadi langsung dengan Allah Sang Pencipta. Maka pertanggungjawabannya kepada Allah jelas harus secara pribadi juga.

Mengenai shalat yang pernah ditinggalkan oleh orang yang mati, maka tidak ada kewijaban qodho’ bagi ahli warisnya. Mereka juga tidak berkewajiban menebusnya dengan harta yang ditinggalkan mayyit.

Namun sebagian ulama Syafi’iyah ada yang berpendapat bahwa shalat yang ditinggalkan si mayit boleh diqodho’i oleh ahli warisnya; baik si mayit telah berwasiat akan hal itu sebelum meninggal dunia atau tidak. Atau ahli waris bisa mengganti dengan membayar fidyah satu mud (675 gram) untuk setiap shalat yang ditinggalkan si mayit.

Pendapat di atas dha’if (lemah) dan hanya boleh diamalkan sendiri, tidak untuk difatwakan kepada orang lain.

Lihat: I’anatuth-Thalibin, I/24; Hasyiyatul Bujairami, II/83.

22. Menjadi Pelayan Non-Muslim

Bagaimana hukumnya orang Islam menjadi pembantu orang non-Muslim?

JAWAB:
Islam melarang umatnya untuk menghinakan diri di hadapan orang kafir, sebab bagaimanapun posisi orang Islam selamanya harus berada di atas posisi non-Muslim. Menjadi pelayan/pembantu merupakan salah satu perbuatan yang menyebabkan hinanya diri di hadapan orang yang dilayani. Karena itu hukum menjadi pembantu orang non-Muslim adalah Haram secara mutlak (baik dengan melalui akad atau tanpa akad). Demikian sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Sulaiman al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Jamal.

==
Abdulloh Munawwir

23. Onani untuk Hindari Zina

Apakah berdosa orang yang mengerjakan onani? Katanya ada imam yang memperbolehkan apabila untuk menghindari zina?


JAWAB:

Onani dengan menggunakan tangan sendiri merupakan perbuatan yang dilarang dalam agama, alias haram. Demikian ini karena mengacu pada firman Allah azza wajalla dalam Surah al-Mukminun:

والّذين هم لفروجهم حافظون ، إلاّ على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم

Dan orang-orang yang menjaga terhadap kemaluannya, kecuali kepada istri-istri mereka atau budak yang dimilikinya.

Sebenarnya memang ada pendapat dari salah satu Imam Mazhab yang memperbolehkan onani dalam keadaan tertentu, yaitu apabila onani merupakan jalan satu-satunya untuk menghindari perzinahan. Maksudnya apabila seseorang dihadapkan pada salah satu dari dua pilihan, antara zina dan onani. Jika dia tidak melakukan onani maka akan terjerumus pada perbuatan zina, dan apabila dia melakukan onani maka perbuatan zina bisa dihindari.

Lihat: Hasyiyah Bujairami alal-Khathib, III/282

24. Puasa Sunah dan Yang Diharamkan

Puasa apa saja yang disunahkan selain puasa Senin-Kamis dan hari apa yang diharamkan berpuasa?


JAWAB

A. Puasa yang sangat disunahkan selain Senin-Kamis banyak sekali, di antarnya:

1. Puasa Hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzul Hijah) untuk selain orang yang sedang melakukan ibadah haji.

2. Puasa Hari ‘Asyurâ’ (tanggal 10 Muharam).

3. Puasa 6 hari di bulan Syawal (Tidak ditentukan tanggal berapa, bahkan bisa dipisah-pisah. Akan tetapi yang lebih utama dilaksanakan secara berurutan setelah Idul Fitri)

4. Puasa di ‘Hari-Hari Terang’ (tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan Qamariyah/Jawa)

5. Dll.



B. Hari-hari yang diharamkan melakukan puasa ada 5:

1. Hari Raya Idul Fitri

2. Hari Raya Idul Adha

3. Hari Tasyrîq (tanggal 11 s.d 13 Dzul Hijah)



Referensi: Kifâyatul-Akhyâr I/209, 214

25. Qodho' Shalat, Tak Tahu Hitungannya

Bagaimana cara mengqodho’ shalat fardhu yang ditinggalkan semenjak baligh sampai sekarang dan tidak tahu secara pasti berapa salat yang telah ditinggalkan?

JAWAB:

Mengenai cara mengqodho’ salat yang tidak jelas hitungannya, ada dua pendapat di kalangan ulama. Al-Qadhi Husain, Imam Ibnu Hajar dan Imam Ramli berpendapat bahwa orang tersebut harus mengqodho’ seluruh salat yang jelas ditinggalkan maupun yang masih ragu-ragu dikerjakannya. Sedangkan Imam al-Qaffal berpendapat bahwa orang tersebut hanya berkewajiban mengqodho’ semua salat yang yakin/jelas ditinggalkan.

Lihat: Bughyatul-Mustarsyidîn hal. 36, Tuhfatul-Habîb juz I hal. 356.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel