Thaharah Sebagai Kunci Sahnya Shalat - Bagian 1




Thaharah secara harfiah artinya adalah bersih atau suci dari segala kotoran. Tapi sebagai istilah syara’ thahârah adalah mengerjakan sesuatu yang menyebabkan seseorang diperbolehkan untuk mengerjakan shalat seperti menghilangkan hadas dan najis.

Dapat disimpulkan, suci diartikan dalam dua arah: suci secara dzahir (kongkrit), sebagaimana suci dari najis dan kotoran, juga suci secara ma’nawi (abstrak), sebagaimana suci dari hadas.
Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
 
Artinya: “…sesungguh-nya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih.” (QS al-Taubah [09]: 108).
 


Allah juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang banyak bertaubat dan senang (pula) kepada orang-orang yang bersih” (QS al-Baqarah [02]: 222)

Dalam sebuah hadits disebutkan, suci adalah kunci shalat.

مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ الطُّهُورُ

Artinya: “Kunci shalat adalah suci.”

Bersuci memainkan peranan penting dalam ibadah, mayoritas ulama fiqih dalam menyusun kitabnya lebih mengutamakan membahas bab thaharah sebelum membahas bab lainnya, seperti bab shalat,zakat,haji dan seterusnya
Dasar al-qur’an yang menjelaskan alat bersuci berupa air adalah :

إِذْ يُغَشِّيكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً مِنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). QS.al-anfal.11

Di dalam ayat tersebut terdapat lafadz مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ dimana lafadz  ماء merupakan isim nakiroh yang berada dalam merupakan isim nakiroh yang berada dalam susunan kalimat mutsbat (kalimat positif)

Dalam kaidah ushul fiqh di jelaskan apabila ada isim nakiroh berada dalam susunan kalimat manfi (kalimat negative) maka isim nakiroh berfaedah ‘am. Dan apabila isim nakiroh berada dalam susunan mutsbat (kalimat positif) maka tidak berfaedah ‘am. Akan tetapi, jika isim nakiroh berada dalam susunan kalimat mutsbat dan bermakna imtinan (mengandung pengertian pemberian anugerah Allah kepada hambaNya) maka isim nakiroh tersebut berfaedah ‘am.

Sehingga dapat di pahami bahwa lafadz ماء dalam surat al anfall tersebut termasuk dalam kategori lafadz yang berfaedah ‘am. Sebab meskipun ماء  berada dalam susunan kalimat mutsbat namun ayat ini mengandung imtinan. 

Dengan faedah ‘am yang di miliki ماء  dalam surat al anfal, para ulama fiqih berkesimpulan bahwa semua jenis air selama masih dalam keadaan asli yang bersumber dari bumi atau yang turun dari langit dapat di gunakkan untuk bersuci

Semoga bermanfaat...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel