Dalil HTI "Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian. Lalu Nabi diam"



Assalamualaikum..

Beberapa hadis yang menjadi tolak ukur untuk pembenaran dalil wajibnya mengakkan khilafah ala HTI seolah olah sudah menjadi dalil qath'i dilalah. tanpa menganalisis esensi dari hadis tersebut.

sehingga menjadi fatwa yang bisa merongrong keutuhan dan kejayaan suatu negri. tanpa melihat penduduk negri tersebut mampu atau tidak.

di antaranya hadis :

   “.....kemudian akan datang kerajaan yang menggigit dalam waktu yang Allah kehendaki. Kemudiian Allah mengangkatnya apabila menghendakinya dan di ganti dengan kerajaan yang memaksakan kehendaknya. Kemudian akan datang khilafah sesuai dengan jalan kenabian. Lalu Nabi diam” (HR. Ahmad no 17680)

Walaupun Ahli hadits yng menyatakan bahwa hadits di atas adalah hadits dlo’if, karna Imam Bukhari sendiri menilai cacat perawi hadits yang bernama Habib bin Salim.

Tetapi pihak dari HT tidak berhenti sampai disitu dan tetap menguatkan hadits tersebut sebagai hadits yang shohih dan di jadikan dalil yang kuat.



Baiklah, kami jawab :


Penggalan kalimat terakhir yang di jadikan dalil kuat oleh HT sudah terlaksana,. Berikut penjelasannya

a)      Bisyarah khilafah al-nubuwwah sudah terjadi,yaitu dalam masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Penguasa kedelapan dari bani Umayyah (karna sebelum masa pemerintahan beliau adalah para raja,bukan khalifah)

Hal ini di tegaskan oleh perawi hadits itu sendiri yang bernama Habib bin salim. Beliau berkata :

“ Sesungguhnya aku berharap bahwa amirul mu’minin Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah yang mengikuti minhaj al-nubuwwah sesudah kerajaan yang menggigit dan memaksakan kehendak” kemudian suratku mengenai hadits ini di sampaikan kpda Umar bin Abdul Aziz,dan ternyata beliau merassa senang dan kagum dengan hadits ini.



Di antara Ulama2 yang menyatakan bahwa maksud khalifah dlam hadits di atas adalah Umar bin Abdul Aziz adalah Imam Ahmad bin Hanbal (musnad ahmad bin hanbal Hadis no 22030), Abu Bakar al-Bazzar (albahr azzahr  no 2429) , Abu Dawud al-thayalisi (musnad abu dawud no 433), al-Hafidz Baihaqi (dalail annbuwwah no 2843), al hafidz ibn Rajab (jami’u ulum wa alhikam juz 28), alhafidz Jalaluddin Suyuthi (al khasais al kubra juz 2 hal 179),Syekh Yusuf Taqiyyudin al-Nabhani -Kakek pendiri HT- (hujjah Allah ‘ala al-‘alamin fi mu’jizat sayyid al-mursalin (beirut,darl fikr hal  528)


b)      Khalifah / imam merupakan kalimat mutarradif, praktek Khalifah sudah pernah di terapkan di indonesia, yaitu pada masa kepemerintahan Presiden Soeharto, yang mengangkat adalah ahlu halli wal ‘aqdi, dalam hal ini MPR
 Jika HTI masih bersikeras menolak dua poin di atas, maka HTI juga tidak bisa membenarkan matan hadits di atas untuk dalil khilafah. Sebab, dalam hadits dia atas Nabi tidak bersabda : “Tegakkanlah khilafah nubuwwah itu” akan tetapi Nabi hanya bersabda “akan ada khilafah Nubuwwah” yang berarti hadits tersebut hanya sebatas bisyarah tentang nubuwwah sesudah beliau wafat. Hal ini sudah di jelaskan pada poin pertama

Pernyataan Ekstream Pendiri Hizbut Tahrir - Taqiyyudin al-Nabhani



dalam al-syakhsiyyah al-islamiyyah juz 2 halaman 19 beliau mengatakan :
 
والقعود عن إقامة خليفة للمسلمين معصية من أكبر المعاصي، لأنّها قعود عن القيام بفرض من أهمّ فروض الإسلام، بل يتوقّف عليه وجود الإسلام في معترك الحياة.

 “berpangku tangan dari usaha mendirikan seorang khilafah bagi kaum muslimin adalah termasuk perbuatan dosa yang paling besar, karena hal tersebut berpangku tangan dari melaksanakan di antara kewajiban islam yang paling penting, dan bahkan wujudnya islam dalam kancah kehidupan tergantung pada adanya khilafa  

Pernyataan an-nabhani sangatlah ekstream, pernyataan tersebut mengandung beberapa kesimpulan 

Pertama, tidak ikut andil dalam perjuangan terangkatnya seorang khalifah termasuk dosa terbesar.
Pandangan ekstream pendiri HT tersebut bertentangan dengan mayoritas ulama.

Imam al-hafidz Abu amr al-dani berkata :

وإقامة الإمام مع القدرة واللإكان : فرض على الأمة لا يسعهم جهله، والتخلف عنه، وإقامته إلى أهل الحلّ و العقد من الأمّة دون النصّ من رسوله صلى اللّه عليه و سلّم

“mengangkat seorang imam ketika mampu dan memungkinkan di hukumi wajib bagi umat islam,yang harus mereka ketahui dan tidak boleh di tinggalkan, pengangkatan tersebut berdasarkan keputusan ahlul halli wal ‘aqdi dari umat, bukan berdasarkan nash dari Rasulullah shallahu alaihi wa sallam

Pernyataan di atas sangat berbeda dengan pandangan ekstream HT, dalam hal ini al-nabhani yang mewajibkan mengangkat khalifah tanpa meninjau mampu atau tidak. Pandangan ekstream al-nabhani tersebut tentu bertentangan dengan kaedah syariat yang di sepakati oleh para jumhur ulama.

Kewajiban mengangkat seseorang imam itu berlaku ketika kita mampu dan bisa melaksanakan. Ketika kita tidak mampu dan tidak mungkin melaksanakan, maka kewajiban tersebut gugur dengan sendirinya.

Kedua, an-nabhani mengeluarkan pernyataan lebih ekstream lagi, bahwa apabila seluruh umat islam tidak memperjuangkan khilafah, maka seluruh umat islam di seluruh dunia menanggung dosa besar.
Padahal pendapat mayoritas ulama mengatakan yang berdosa hanya dua kelompok, yaitu ahlul halli wal ‘aqdi dan mereka yang layak menjadi imam

Ketiga,pernyataan al-nabhani bahwa tidak ikut andil dalam perjuangan terangkatnya seorang khalifah termasuk dosa terbesar, merupakan fatwa yang salah fatal, belum pernah di ucapkan oleh ulama manapun dan bertentangan dengan hadits2 shahih
 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel