Tanggapan Buku "Catatan 37 Masalah Populer" (Buku Bantahan Versi Wahhabi) - Bagian Keenam



Pada halaman 25 penulis buku tersebut mengatakan :

Tafwidh bukanlah metode salaf, bahkan diingkari oleh mereka, karena konsekuensinya sangat fatal. Hal itu karena Allah Menurunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab yang jelas dan dipahami oleh orang Arab.

Tanggapan :


Mereka mengatakan dengan begitu bangganya bahwa ta’wil dan tafwidh merupakan distorsi dan penyimpangan ayat ayat al-qur’an dan dengan begitu lancangnya membawa nama ulama salaf demi kepentingan agenda mereka.

mereka menuduh mayoritas ulama dari zaman sahabat sampai sekarang telah menyimpang
Takwil tafsili ini selain diterapkan mayoritas ulama khalaf, juga diterapkan oleh sebagian ulama salaf di antaranya :

     1.       Ibnu Abbas
Beliau mentakwil beberapa ayat shifat di antaranya : beliau mentakwil saq (betis) (QS. 68 : 42) dengan kesusahan yang sangat berat, telah disebutkan dalam kitab Fath al-Bari : 13/428 :
“ Adapun Saaq maka telah datang riwayat dari Ibnu Abbas tentang firman Allah “ Dihari Allah menyingkap betis “, Ibnu Abbas mengatakan “ Maksudnya kesusahan yang sangat berat “, sedangkan orang Arab mengatakan “ Telah tegak peperangan itu di atas betis maksudnya di atas kesusahan yang sangat berat, di antara (syair mereka) adalah : “ Telah memulai kawan-kawanmu dengan menghunuskan pedang ke leher-leher. Dan telah tegak pada kami peperangan-peperangan di atas betis “. (Fath al-Bari : 13/428)

Juga disebutkan dalam kitab Jaami’ul bayan fi Ta’wil al-Quran : 23/554. Dan beliau juga mentakwil Kursi (QS. 2 : 255) dengan ilmunya Allah (Jaami’ al-Bayan fi ta’wil al-Quran, Ibnu Jarir ath-Thabarai : 5/399). Mentakwil aydin (beberapa tangan) dengan kekuatan dan kekuasaan Allah (al-Jami’ li ahkam al-Quran, alQurthubi : 17/52)

    2.       Mujahid dan as-Suddi
Al-imam Mujahid dan as-Suddi, dua pakar tafsir dari generasi tabi’in juga mentakwil lafadz janb (QS. 39 : 56) dengan perintah Allah. (Jami’ al-Bayan fi ta’wil al-Quran : 21/314)

   3.       Sufyan ast-Tsauri dan Ibnu Jarir ath-Thabari
Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan istiwa (QS. 2 :29) dengan memiliki dan menguasai, bukan bergerak dan berpindah. (al-Jami’ li ahkam al-Quran, al-Qurthubi : 1/430) Sedangkan imam Sufyan ats-Tsauri mentakwilnya dengan berkehendak menciptakan langit. (Mirqat al-Mafatih syarh Misykat alMashabih, Ali al-Qari : 2/17)
    
    4.       Malik bin Anas
Al-Imam Malik bin Anas, juga mentakwil turunnya Tuhan dalam hadits sahih pada waktu tengah malam dengan turunnya perintah-Nya, bukan bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kitab Siyar disebutkan :
“ Maka pendapat kami dalam hal itu adalah mengakuinya dan membiarkannya serta menyerahkan maknanya kepada pengucapnya yang jujur lagi ma’shum, Berkata Ibnu Adi, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Harun bin Hassan, telah menceritakan pada kami Shaleh bin Ayyub, telah menceritakan pada kami Habib bin Abi Habib, telah menceritakan padaku imam Malik ia berkata “ Allah Ta’aala turun “ maksudnya perintah-Nya adapun Allah sendiri maka Dzat yang maha ada dan tak pernah musnah “.Siyar A’lam an-Nubala, Adz-Dzahabi : 8/105

    5.       Ahmad bin Hanbal
Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali melakukan takwil terhadap beberapa tesk yang mutasyabihat, antara lain ayat tentang datangnya Tuhan (QS. 89 : 22) beliau takwil dengan datangnya pahala Tuhan, bukan datang dalam arti bergerak dan berpindah. Berikut redaksi yang disampaikan oleh alHafidz Ibnu Katsir yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi :
“ Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Hakim dari Abi ‘Amr ibnu as-Sammaak dari Hanbal : “ Bahwasanya Ahmad bin Hanbal telah mentawil firman Allah Ta’ala :
“ Dan telah datang Tuhanmu “, beliau mentakwilnya dengan “ Telah datang pahala Tuhanmu “, kemudian imam Baihaqi mengatakan “ Isnad ini tidak ada debu sama sekali atasnya (sangat jelas) “. (al-Bidayah wa an-Nihayah juz 10 halaman 354)
Dan mayoritas ulama lainnya..


Pada halaman 25 penulis buku tersebut mengatakan :
Tafwidh bukanlah metode salaf, bahkan diingkari oleh mereka, karena konsekuensinya sangat fatal. Hal itu karena Allah Menurunkan al-Qur’an dengan bahasa Arab yang jelas dan dipahami oleh orang Arab.
Tanggapan :
Mereka mengatakan dengan begitu bangganya bahwa ta’wil dan tafwidh merupakan distorsi dan penyimpangan ayat ayat al-qur’an dan dengan begitu lancangnya membawa nama ulama salaf demi kepentingan agenda mereka.
mereka menuduh mayoritas ulama dari zaman sahabat sampai sekarang telah menyimpang
Takwil tafsili ini selain diterapkan mayoritas ulama khalaf, juga diterapkan oleh sebagian ulama salaf di antaranya :
     
     1.       Ibnu Abbas
Beliau mentakwil beberapa ayat shifat di antaranya : beliau mentakwil saq (betis) (QS. 68 : 42) dengan kesusahan yang sangat berat, telah disebutkan dalam kitab Fath al-Bari : 13/428 :
“ Adapun Saaq maka telah datang riwayat dari Ibnu Abbas tentang firman Allah “ Dihari Allah menyingkap betis “, Ibnu Abbas mengatakan “ Maksudnya kesusahan yang sangat berat “, sedangkan orang Arab mengatakan “ Telah tegak peperangan itu di atas betis maksudnya di atas kesusahan yang sangat berat, di antara (syair mereka) adalah : “ Telah memulai kawan-kawanmu dengan menghunuskan pedang ke leher-leher. Dan telah tegak pada kami peperangan-peperangan di atas betis “. (Fath al-Bari : 13/428)
Juga disebutkan dalam kitab Jaami’ul bayan fi Ta’wil al-Quran : 23/554. Dan beliau juga mentakwil Kursi (QS. 2 : 255) dengan ilmunya Allah (Jaami’ al-Bayan fi ta’wil al-Quran, Ibnu Jarir ath-Thabarai : 5/399). Mentakwil aydin (beberapa tangan) dengan kekuatan dan kekuasaan Allah (al-Jami’ li ahkam al-Quran, alQurthubi : 17/52)
    
     2.       Mujahid dan as-Suddi
Al-imam Mujahid dan as-Suddi, dua pakar tafsir dari generasi tabi’in juga mentakwil lafadz janb (QS. 39 : 56) dengan perintah Allah. (Jami’ al-Bayan fi ta’wil al-Quran : 21/314)
  
    3.       Sufyan ast-Tsauri dan Ibnu Jarir ath-Thabari
Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari menafsirkan istiwa (QS. 2 :29) dengan memiliki dan menguasai, bukan bergerak dan berpindah. (al-Jami’ li ahkam al-Quran, al-Qurthubi : 1/430) Sedangkan imam Sufyan ats-Tsauri mentakwilnya dengan berkehendak menciptakan langit. (Mirqat al-Mafatih syarh Misykat alMashabih, Ali al-Qari : 2/17)
    
     4.       Malik bin Anas
Al-Imam Malik bin Anas, juga mentakwil turunnya Tuhan dalam hadits sahih pada waktu tengah malam dengan turunnya perintah-Nya, bukan bergerak dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam kitab Siyar disebutkan :
“ Maka pendapat kami dalam hal itu adalah mengakuinya dan membiarkannya serta menyerahkan maknanya kepada pengucapnya yang jujur lagi ma’shum, Berkata Ibnu Adi, telah menceritakan pada kami Muhammad bin Harun bin Hassan, telah menceritakan pada kami Shaleh bin Ayyub, telah menceritakan pada kami Habib bin Abi Habib, telah menceritakan padaku imam Malik ia berkata “ Allah Ta’aala turun “ maksudnya perintah-Nya adapun Allah sendiri maka Dzat yang maha ada dan tak pernah musnah “.Siyar A’lam an-Nubala, Adz-Dzahabi : 8/105
  
     5.       Ahmad bin Hanbal
Al-Imam Ahmad bin Hanbal, pendiri madzhab Hanbali melakukan takwil terhadap beberapa tesk yang mutasyabihat, antara lain ayat tentang datangnya Tuhan (QS. 89 : 22) beliau takwil dengan datangnya pahala Tuhan, bukan datang dalam arti bergerak dan berpindah. Berikut redaksi yang disampaikan oleh alHafidz Ibnu Katsir yang diriwayatkan oleh imam Baihaqi :
“ Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Hakim dari Abi ‘Amr ibnu as-Sammaak dari Hanbal : “ Bahwasanya Ahmad bin Hanbal telah mentawil firman Allah Ta’ala :
“ Dan telah datang Tuhanmu “, beliau mentakwilnya dengan “ Telah datang pahala Tuhanmu “, kemudian imam Baihaqi mengatakan “ Isnad ini tidak ada debu sama sekali atasnya (sangat jelas) “. (al-Bidayah wa an-Nihayah juz 10 halaman 354)

Dan mayoritas ulama lainnya..
pandai padailah memilah ulama yang berhujjah dengan hujjah syubhat demi kepentingan mereka

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel