Tanggapan Buku "Catatan 37 Masalah Populer" (Buku Bantahan Versi Wahhabi) - Bagian Keempat



Pada halaman 20 dalam buku tersebut di katakan begini :

“Apakah anda menetapkan sifat ‘mendengar’ dan ‘melihat’ bagi Allah?” Kalau dia tidak menetapkannya, berarti dia telah mengingkari ayat di atas. Dan apabila dia menetapkannya, berarti dia telah bersikap kontradiktif karena makhluk juga mempunyai sifat mendengar dan melihat. Kalau dia berkata “kita tetapkan sifat melihat dan mendengar bagi Allah tetapi tidak sama seperti makhluk-Nya”, kita jawab, “Demikian pula kita tetapkan istiwa’ Allah tetapi tidak sama seperti makhluk-Nya.” Mengapa kalian menetapkan sebagian sifat, tetapi tidak menetapkan sifat lainnya, padahal sama-sama berlandaskan dalil yang shahih? Sungguh ini suatu kontradiksi yang ajaib sekali!!!


Kemungkinan besar penyanggah belum mengetahui betul definisi tempat dan arah yang erat kaitannya dengan makna istawa.

Sangat jauh di analogikan dengan sifat Allah melihat dan mendengar
Melihat dan mendengar kaitannya dengan sifat ma’ani, bahkan bukan hanya mendengar dan melihat saja, antara lain berbicara,berkuasa, dan lain lain sifat Allah yang ada pada makhluk, tapi tidak di batasi dengan arah dan tempat dan bukan merupaka sifat Allah yang berjisim (jisim itu sifatnya makhluk yang melekat)

Sedangkan bertempat atau bersemayam adalah sifat yang mustahil bagi Allah,karena jika Allah bertempat maka akan di batasi arah dan tempat atau ruang atau dalam arti Allah berjisim
Beberapa contoh tentang ungkapan secara majazi atau kiasan di dalam Al-Qur’an:

Allah menggunakan kata Karim untuk mensifati diri-Nya. Dalam surat An-Naml (27): 40;
“Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.
Allah swt. berfirman tentang Rasul-Nya dalam surat Al Haaqqah (69):40;

‘Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia’

Sesungguhnya kata Karim (Yang Mulia), ketika disifatkan kepada Allah itu maka itu merupakan arti literal atau arti sebenarnya. Dan ketika disifatkan kepada Rasulallah arti disana mengandung arti kiasan. 

Apakah kita ber- anggapan Allah telah syirik. karena Allah telah memberikan sifat yang sama kepada selain-Nya.?

Allah swt. menerangkan bahwa Rasulallah saw. juga bersifat Rahiim/Penyayang terhadap sesama mukminin, sebagaimana firman-Nya dalam: 

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min”. (S. At-Taubah: 128)

Kata-kata Rahiim adalah sifat Allah swt. yang literal atau sebenarnya, dan ketika disifatkan pada Rasul-Nya mengandung arti majazi/kiasan.

Buktinya masih banyak dalam ayat AlQur’an, yang tidak tercantum semua disini, bahwa Allah swt. memberikan anugerah pada para Rasul-Nya dengan mensifati mereka dengan sifat-Nya diantaranya:

‘Qawi/kuat adalah sifat Allah, dan Al-Qur’an juga mengatakan bahwa Rasulallah saw. juga
mempunyai sifat Qawi.
’Alim adalah sifat Allah swt., yang mana Nabi Ismail as juga dikenal dengan
sifat Alimnya.
Haliim adalah sifat Allah swt., Nabi Ibrahim dan Ismail a.s. juga dikenal dengan sifat
Halimnya
Syakur adalah sifat Allah swt., Nabi Nuh as dikenal dengan sifat Syakurnya’.

Semoga bisa di pahami...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel