Tanggapan Buku "Catatan 37 Masalah Populer" (Buku Bantahan Versi Wahhabi) - Bagian Ketiga



Bukti aqidah wahabi mujassimah

Seperti yang sudah saya katakan di awal, buku bantahan versi wahhabi untuk Ustadz Abdul Somad justru akan menjadi duri tersendiri pada tubuh salafi wahhabi..

simak sampai selesai..

Sudah menjadi tradisi kaum sawah,untuk mengelabui pengikutnya, salafi wahabi sering menafikan adanya paham tajsim yang mereka yakini, ada yang tegas menolaknya (walaupun pada kenyataannya di berbagai kajian atau buku yang mereka karang sering kali menunjukan aqidah asli mereka,tajsim) ada pula yang menolak dengan cara paradoks
Sepandai apapun mereka menyembunyikan kebathilan, Allah yang akan memisahkan kebathilan dengan kebenaran

Contoh yang mereka mengatakan dengan cara paradks bathil (memberikan teka teki rumit dan kerumitannya membuahkan hasil kebathilan)

Pada halaman 20, penulis buku tersebut mengatakan :

Jadi, kita menetapkan sifat-sifat Allah seperti istiwa’ bagi Allah sebagaimana Dikabarkan oleh Allah tanpa menyerupakannya dengan makhluk. Apabila ada yang mengingkarinya dengan alasan “kalau kita tetapkan berarti kita menyerupakannya dengan makhluk”, maka alasan ini bathil (tidak bisa diterima)

Tanggapan :

Kata “istawa”mereka artikan secara literal atau dhahiriyah atau apa adanya ayat, tetapi mereka mengingkari kalau istiwa yang di maksud oleh mereka berebeda dengan istiwanya makhluk.

Coba pahami baik – baik

Istiwa yang mereka artikan adalah bertempat atau bersemayam
Sedangkan definisi dari tempat dan arah dalam literatur bahasa arab menurut ulama dan para pakar bahasa  adalah sebagai berikut : 

 1. Ahli bahasa terkemuka (al-Lughawiy) Abul Qasim al-Husain bin Muhammad yang dikenal dengan sebutan ar-Raghib al-Ashbahani (w 502 H) berkata:

المكان عند أهل اللغة الموضع الحاوي للشىء
“Tempat (al-Makân) menurut ahli bahasa adalah ruang yang meliputi bagi sesuatu” Al-Mufradat Fi Gharib al-Qur’an, h.alaman 471
    
    2.   al-Lughawiy Majduddin Muhammad bin Ya’qub al-Fairuzabadi, penulis kitab al Qâmûs, (w 817H) :
المكان: الموضع، ج: أمكنة وأماكن
“Tempat (al-Makân) adalah ruang, bentuk jamaknya Amkinah dan Amâkin” (Al-Qamus al-Muhith, h. 1594)
    3.   Al-‘Allâmah Kamaluddin Ahmad bin Hasan al-Bayyadli al-Hanafi (w 1098 H) berkata:
المكان هو الفراغ الذي يشغله الجسم
Tempat (al-Makân) adalah ruang yang dipenuhi oleh benda” (Isyarat al-Maram, h. 197)

    4.   Al-Imâm al-Hâfizh al-Muhaddits al-Faqîh al-Lughawiy; Sayyid Muhammad Murtadla az-Zabidi alHanafi (w 1205 H) berkata:
المكان: الموضع الحاوي للشىء
““Tempat (al-Makân) adalah ruang yang meliputi bagi sesuatu” (Taj al ‘Arus, j. 9, h. 348)
   5.   Asy-Asy-Syaikh Salamah al-Qudla’i al-‘Azami asy-Syafi’i (w 1376 H) menuliskan:
لمكان هو الموضع الذي يكون فيه الجوهر على قدره، والجهة هي ذلك المكان
“Tempat (al-Makân) adalah ruang yang ada di dalamnya suatu benda yang mencukupinya, dan arah (al-Jihah) adalah tempat tersebut” Furqan al-Qur’an, h. 62 (Dicetak bersama kitab al Asma’ Wa ash Shifat karya al-Bayhaqi)

Dari definisi tempat saja sudah menunjukan kesalahan fatal paham mereka yang menolak takwil juga tafwidh, sebab al-Qur’an di turunkan dengan bahasa arab, Rasulullah tau betul selak beluk bahasa arab yang mana jika di pahami secara literal ayat-ayat mutasyabihat maka akan sangat terjadi banyak kontradiksi dengan ayat – ayat lain.
Sebab fungsi ayat muhkamat adalah untuk memperjelas ayat mutasyabihat
ليس كمثله شيء
Adalah ayat muhkamat yang tidak bisa bertentangan dengan ayat manapun,

jika ayat tersebut bertentangan dengan ayat lain, maka itu bukan al-qur’an
karena dalam al-qur’an tidak aka nada pertentangan sama sedikitpun
jika ayat tersebut bertentangan dengan ayat lain, maka Allah bukan lagi dzat yang Esa yang suci dari penyerupaan dengan makhluknya

demikian definisi dari tempat, yang mana annti akan saya kemukakan dalil dari mayoritas ulama dari zaman sahabat tentang kesucian Allah dari arah dan tempat setelah saya memaparkan definisi dari arah

kemudian mari simak baik – baik definisi arah dari ahli bahasa juga ulama terkemuka.

Saya akan paparkan secara detail dan gamblang.

1.   Ahli bahasa terkemuka; asy-Syaikh Muhammad bin Mukarram al-Ifriqiy al -Mishriy yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnul Manzhur (w 711 H), seorang ulama terkemuka pakar Nahwu, pakar bahasa, dan pakar sastra, berkata:


والجِهةُ والوِجْهةُ جميعًا: الموضع الذي تتوجه إليه وتقصده
“Al-Jihah dan al-Wijhah (arah) memiliki makna yang sama, yaitu suatu tempat yang kamu menghadap kepadanya dan yang kamu tuju” (Lisan al ‘Arab, j. 13, h. 556)
2.   Al-‘Allâmah asy-Syaikh Kamaluddin Ahmad bin Hasan yang dikenal dengan sebutan alBayyadli (w 1098 H), pernah memangku jabatan hakim wilayah kota Halab (Aleppo), berkata:

والجهة اسم لمنتهى مأخذ الإشارة ومقصد المتحرك فلا يكونان إلا للجسم والجسمانيّ، وكل ذلك مستحيل ـ أي على االله
“Definisi al-Jihah (arah) adalah nama bagi penghabisan dari sebuah isyarat, penghabisan tempat bagi sesuatu yang bergerak kepadanya; maka demikian dua sifat ini tidak terjadi kecuali hanya pada benda dan sifat benda saja. Itu semua adalah perkara mustahil bagi Allah” (Isyarat al Maram, h. 197)
3.   Al-‘Allâmah asy-Syaikh Abdul Ghaniy an-Nabulsiy (w 1143 H) berkata:
والجهة عند المتكلمين هي نفس المكان باعتبار إضافة جسم ءاخر إليه
“Definisi al-Jihah (arah) menurut para ahli teologi adalah sama dengan tempat dengan melihat adanya suatu benda yang bersandar kepadanya (berada padanya)” (Ra’ihah al Jannah Syarh Idla’ah ad Dujinnah, h. 49)
Demikian definisi dari arah dan tempat.. 
Kemudian saya akan memaparkan dalil dari hadits maupun dari ulama yang mensucikan Allah dari arah dan tempat
Ketahuilah, bahwa para ulama ahli hadits, ahli fiqih, ahli tafsir, ahli bahasa, ahli nahwu, ahli ushul, dan seluruh ulama empat madzhab dari madzhab Syafi’i, madzhab Hanafi, madzhab Maliki dan madzhab Hanbali -kecuali mereka yang disesatkan oleh Allah dalam keyakinan tajsîm-, dan para ulama ahli tasawuf sejati; mereka semua berkeyakinan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Ini berbeda dengan keyakinan kaum Musyabbihah sesat yang mengatakan bahwa Dzat Allah bertempat di arsy. Naudzubillah..
  •     Al-Imâm asy-Syaikh Abdul Qahir bin Thahir at Tamimiy al-Baghdadi (w 429 H) menuliskan:
وأجمعوا ـ أي أهل السنة والجماعة ـ على أنه ـ أي االله ـ لا يحويه مكان ولا يجري عليه زمان
“Dan mereka semua (Ahlussunnah Wal Jama’ah) telah sepakat bahwa Dia (Allah) tidak diliputi oleh tempat dan waktu tidak berlaku bagi-Nya”  Al Farq Bain al Firaq, h. 333 

  • Imam al-Haramain Abdul Malik bin Abdullah al Juwaini asy-Syâfi’i ( w 478 H) berkata:
ومذهب أهل الحق قاطبة أن االله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيّز والتخصص بالجهات
““Madzhab Ahlul Haqq (Ahlussunnah Wal Jama’ah) seluruhnya adalah bahwa Allah maha suci dari bertempat dan dari menetapa pada segala arah”. Al Irsyad, h. 58 

  • Al-Imâm al-Mufassir asy-Syaikh Fakhruddin ar Razi (w 606 H) menuliskan:
إنعقد الإجماع على أنه سبحانه ليس معنا بالمكان والجهة والحيّز
“Telah terjadi kesepakatan (Ijma’) bahwa Allah bersama kita bukan dalam makna tempat dan arah” Tafsir ar Razi yang dikenal dengan nama at Tafsir al Kabir, j. 29, h. 216

Dan berikut penegasan dari Rasulullah,sahabat,tabi’in dan jumhur ulama salaf maupun khalaf

     1.   Hadits shahih dari sahabat Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
"أقربُ ما يكونُ العبدُ مِن ربّه وهو ساجد، فأكثروا الدُّعاء"
“Makna harfiahnya: “Keadaan paling dekatnya seorang hamba kepada Tuhan-nya adalah saat dia sujud, maka perbanyaklah doa (saat sujud)”. (HR. Muslim) Shahih Muslim, Kitab as Shalat, Bab Ma Yuqalu Fi ar Ruku’ wa as Sujud

Al-Hâfizh Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syâfi’i berkata: “Al-Badr ash-Shahib dalam kitab Tadzkirah-nya berkata: Dalam hadits ini terdapat isyarat dalam menafikan arah dari Allah”
    

    2.   Seorang sahabat Rasulullah yang sangat agung, al-Khalîfah ar-Râsyid, Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:

كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ، وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْه كَان
“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang Azaliy; ada tanpa tempat” Abu Manshur al-Baghdadi, al-Farq Bayn al Firaq, halaman 333
Kemudian beliau juga berkata :
إنّ االلهَ تـَعَالىَ خَلَقَ الْعَرْشَ إظْهَارًا لِقُدْرَتهِ لاَ مَكَانًا لِذَاتِه
““Sesungguhnya Allah menciptakan arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” Abu Manshur al-Baghdadi, al-Farq Bayn al Firaq, halaman. 333
   
   3.   Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama Salaf terkemuka perintis madzhab Hanafi, berkata:

وَاالله تـَعَالىَ يـُرَى فيِ الآخِ رَة، ويـَرَاهُ الْمُؤْمِنـُوْنَ وَهُمْ فيِ الجَْنّةِ بِأعْينُ رُؤُوْسِ هِمْ بِلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَكَمِّيّة، وَلاَ يَكُوْنُ بَينَهُ وَبـَينْ خَلْقِهِ مَسَافَة
““Allah di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)” Lihat al-Fiqh al-Akbar karya al-Imâm Abu Hanifah dengan penjelasannya karya Mulla Ali al-Qari, h. 136-137 al-Fiqh al-Akbar karya al-Imâm Abu Hanifah dengan penjelasannya karya Mulla Ali al-Qari, halaman. 136-137  
    
   4.   Al-Imâm al-Mujtahid Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, berkata:

إنّهُ تـَعَالىَ كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيَّةِ كَمَا كَانَ قـَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يجَوْزُ عَلَيْهِ التـَّغْيِيـْرُ فيِ ذَاتهِ وَلاَ التّبْدِيْلُ فيِ صِفَاتهِ
“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, lalu Dia menciptakan tempat dan Dia tetap pada sifat-Nya yang Azaliy ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. tidak boleh bagi-Nya berubah pada Dzat-Nya, atau berubah pada sifat-sifat-Nya” Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn, juz 2, halaman 24

   5.   Al-Imâm al-Mujtahid Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid, mensucikan Allah dari tempat dan arah, bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzîh. Dalam pada ini asy-Syaikh Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:
وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشىء سن الجهة أو نحوها فكذب وجهتان وافتراء عليه
“Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menyandarkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau (Ahmad ibn Hanbal) telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, h. 144
    6.   Pimpinan Ahlussunnah Wal Jama’ah al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari (w 324 H) mengatakan sebagai berikut:
كان االله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج إلى مكان، وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه

“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan arsy dan Dia tidak membutuhkan kepada tempat. Setelah Dia menciptakan tempat Dia ada seperti sedikala sebelum ada makhluk-Nya ada tanpa tempat” Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 150

7.   Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H) dalam karyanya Kitâb at-Tauhîd menuliskan:

إن االله سبحانه كان ولا مكان، وجائز ارتفاع الأمكنة وبقاؤه على ما كان، فهو على ما كان، وكان على ما عليه الان، جل عن التغير والزوال والاستحالة

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tampat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat Dia tetap ada tanpa tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain” Kitâb at-Tauhîd, h. 69

    8.   Al-Hâfizh al-Imâm Muhammad ibn Hibban (w 354 H), penulis kitab hadits yang sangat mashur; Shahîh Ibn Hibbân, dalam pembukaan salah satu kitab karyanya menuliskan sebagai berikut:

الحمد الله الذي ليس له حد محدود فيحتوى، ولا له أجل معدود فيفنى، ولا يحيط به جوامع المكان ولا يشتمل عليه تواتر الزمان
“Segala puji bagi Allah, Dzat yang bukan merupakan benda yang memiliki ukuran. Dia tidak terikat oleh hitungan waktu maka Dia tidak punah. Dia tidak diliputi oleh semua arah dan tempat. Dan Dia tidak terikat oleh perubahan zaman” at-Tsiqât, j. 1, h. 1

    9.   Al-Imâm al-Qâdlî Abu Bakar Muhammad al-Baqillani al-Maliki al-Asy’ari (w 403 H), seorang ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah yang sangat giat menegakan akidah Asy’ariyyah dan memerangi akidah sesat, dalam kitab al-Inshâf menuliskan sebagai berikut:

ولا نقول إن العرش له- أي االله- قرار ولا مكان، لأن االله تعالى كان ولا مكان، فلما خلق المكان لم يتغيرعما كان

“Kita tidak mengatakan bahwa arsy adalah tempat bersemayam Allah. Karena Allah Azaliy; ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah Dia menciptakan tempat ia tidak berubah (karena perubahan adalah tanpa makhluk)” al-Inshâf Fîmâ Yajib I’tiqâduh Wa Lâ Yajûz al-Jahl Bih, h. 65

   10.               Al-Imâm al-Hâfizh Abu Zakariya Muhyiddin ibn Syaraf an-Nawawi asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 676 H) berkata:


إن االله تعالى ليس كمثله شىء , منزه عن التجسيم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق

“Sesungguhnya Allah tidak menyerupai sesuatu apapun. Dia maha suci dari bentuk dan ukuran, maha suci dari sifat perpindahan, maha suci dari bertempat pada arah, dan maha suci dari segala sifat makhluk” Syarh Shahîh Muslim, juz 3, halaman 19
   11.               Al-Imâm al-Hâfizh Walyyuddin Abu Zur’ah Ahmad ibn Abdirrahim al-‘Iraqi (w 826 H) menuliskan sebagai berikut:
وقوله ـ أي النبي ـ "فهو عنده فوق العرش" لا بد من تأويل ظاهر لفظة "عنده" لأن معناها حضرة الشىء واالله تعالى منزه عن الاستقرار والتحيز والجهة، فالعندية ليست من حضرة المكان بل من حضرة الشرف، أي وضع ذلك الكتاب في محل مُعظّم عنده

“Sabda Rasulullah “Fa Huwa ‘Indahu Fawq al-‘Arsy” mestilah dari takwil zahir kata “’Indahu”; karena makna literalnya adalah “tempat sesuatu”, padahal Allah maha suci dari bertempat (bersemayam) dan berada pada arah. Maka kata “’Inda” di sini bukan dalam pengertian tempat tetapi dalam pengertian “kemuliaan”; artinya bahwa kitab itu ditempatkan pada tempat yang diagungkan (dimuliakan) oleh Allah” Tharh at-Tatsrib, juz 8, halaman 84

    12.               Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 852 H) dalam karyanya sangat mashur Fath al-Bâri menuliskan:

ولا يلزم من كون جهتي العلو والسفل محالا على االله أن لا يوصف بالعلو، لأن وصفه بالعلو من جهة المعنى، والمستحيل كون ذلك من جهة الحس، ولذلك ورد في صفته العالي والعلي والمتعالي، ولم يرد ضد ذلك وإن كان قد أحاط بكل شىء علما جلّ وعز

“Bahwa arah atas dan arah bawah adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah, hal ini bukan berarti harus menafikan salah satu sifat-Nya, yaitu sifat al-‘Uluww. Karena pengertian sifat tersebut adalah dari segi maknawi, bukan dari segi indrawi. (Dengan demikian makna al- ‘Uluww adalah Yang maha tinggi derajat dan keagungan-Nya, bukan dalam pengertian berada di arah atas). Karena mustahil pengertian al-‘Uluww ini secara indrawi. Inilah pengertian dari beberapa sifat-Nya; al-‘Âli, al-‘Alyy dan al-Muta-â’li. Ini semua bukan dalam pengertian arah dan tempat, namun demikian Dia mengetahui segala sesuatu” Fath al-Bâri, j. 6, h. 136

Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang pembahasan Hadîts an-Nuzûl al-Imâm alHâfizh Ibn Hajar menuliskan sebagai berikut:
استدل به من أثبت الجهة وقال هي جهة العلو، وأنكر ذلك الجمهور لأن القول بذلك يفضي إلى التحيز، تعالى االله عن ذلك

“Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah, yaitu arah atas. Namun demikian kayakinan mayoritas276 mengingkari hal itu, karena menetapkan arah bagi-Nya sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan Allah maha suci dari pada itu”

Dan masih ratusan ulama terkemuka lainnya yang menyebutkan hal serupa. Jumlahnya pun hanya Allah yang mengetahui.
Saya paparkan beberapa yang terkadang nama-nama yang saya sebutkan di atas di gunakan wahhabi untuk memanipulasi dalil.


Kata tangan secara bahasa dipahami dengan konteks sebagaimana biasanya dipahami yaitu anggota tubuh tertentu yang kita ketahui (jarihah). Ketika wahabi mengatakan :
“ Allah memiliki tangan (yang maknanya diketahui secara bahasa) tapi tidak seperti tangan makhluk-Nya “

maka akan terjadi dua kerancuan yaitu penetapan adanya anggota tubuh bagi Allah dan kontradiksi dalam pemahaman, karena sebenarnya ia telah menafikan kembali makna tangan secara bahasa tersebut. Satu contoh, 

seseorang mendengar kata jeruk, maka secara spontan ia akan membayangkan sebuah jeruk secara dhahirnya karena hanya itulah refrensial yang ia miliki dalam pikirannya. Dan ketika seseorang mengatakan jeruk kemudian memerintahkan untuk menafsirkannya secara dhahir tetapi melarang untuk membayangkan jeruk yang dipahami secara dhahir itu, maka ia akan terus tergelincir pada refrensial jeruk yang ia ketahui dalam pikirannya..

Semoga bisa di pahami dengan baik...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel