Catatan Kecil Dari Santri Untuk Wahhabi



Bissmillahirrahmanirrahiim...

Assalamualaikum..

Menanggapi atas tanggapan buku “catatan terhadap buku 37 masalah populer” yang memaparkan sejumlah argumen rancu yang sedikit tidak adanya korelasi dengan apa yang di bantahnya..

Pada hakikatnya sebuah bantahan ilmiah seharusnya lebih sering memaparkan argumen yang shahih dan di ambil dari ulama yang terdapat pada buku yang di bantah tersebut, bukan sebaliknya..


Namun pada kenyataannya buku bantahan tersebut justru terkesan menjadi duri tersendiri untuk tubuh salafi, kenapa demikian? Penyajian buku tersebut lebih tepat dikatakan dengan pembenaran bukan pembelaan, merasa golongan mereka sendiri lah yang benar.

Seperti yang di tuturkan di atas, isi buku yang berupa argumen dari beberapa ulama di ambil dari ulama mereka sendiri, hanya sedikit yang mengambil fatwa dari ulama ahlussunah wal jama’ah asy’ariyah (yang di katakan sesat oleh mereka). Bahkan dalam buku tersebut pun lebih sering mengemukakan pendapat ulama-ulama kontemporer,bukan dari ulama salaf yang selalu mereka dengungkan.

Sangat wajar jika dikatakan itu sebuah pembelaan pembenaran untuk mereka, karna seharusnya harus lebih mengambil banyak fatwa dari luar golongan mereka.

Bisa kita lihat buku – buku dari ulama kami –asy’ariyah- yang mengambil fatwa dari ulama mereka untuk membantah tiap argumen yang mereka bawa. Akan terkesan lebih realistis dan tidak egois.

Dan poin pentingnya lagi adalah, ketika saya (admin Hujjah santri) menulis catatan kecil ini kemudian pengikut mereka mengatakan “alangkah baiknya duduk berdiskusi dengan ustadz yang membantah buku tersebut,bukan hanya berani di media saja” atau kalimat – kalimat yang serupa.

Maka kami katakan, alangkah baiknya jika ustadz –ustadz wahabi khususnya yang memberi bantahan pada buku karya ustadzuna Abdul Somad al-hajj – mengajak diskusi baik-baik dengan narasumber, namun kenyataannya dari ulama-ulama kami sudah sering kontak ustadz-ustadz wahabi untuk berdiskusi secara terbuka tapi hasilnya selalu nihil.

Poin penting berikutnya adalah ketika salafi wahabi yang memiliki sifat licik memanfaatkan momentum baik ini untuk membantah buku karya Ustadz Abdul Somad Lc MA dikala beliau sedang dalam puncak kesibukan untuk berdakwah di bumi nusantara, sudah pasti beliau pun tidak punya banyak waktu untuk menjawab atau menulis kembali sebuah buku. Jadi janganlah heran jika beliau –Ustadz Abdul Somad- tidak sesegera mungkin menjawab syubhat buku tersebut.

Dengan merendah diri pada sang Khalik, semoga saya bisa merampungkan catatan ringkas ini untuk membentengi diri saya sendiri,keluarga,teman-teman serta seluruh muslimin agar tidak terjerumus pada aqidah dzillun mudzillun...

Terakhir saya mengutip dari perkataan syekh Ibrahim al-Aqshara’i dalam kitabnya ihkamul hikam tentang tawadhu’
“bagi saya, ketawadhu’an itu bergerak antara kerendahan dan ketakaburan. Kerendahan itu adalah kamu menjadi hina dan hakmu terlantar. Sementara takabur adalah kau menjadi sebab atas kehinaan orang lain dan haknya terlantar karenamu”

Maka dari itu penyikapan tawadhu’ itu ada tempatnya. Tidak ada ruang tawadhu’ untuk paham-paham salafi wahabi yang serta merta menyalahkan amaliah kami.

Untuk bantahan versi e-book (agar mudah di akses dalam satu format) insya Allah segera menyusul..

Penulis
Admin Hujjah Santri

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel