Tanggapan Buku "Catatan 37 Masalah Populer" (Buku Bantahan Versi Wahhabi) - Bagian Pertama

Pada halaman 14. Pengarang mengatakan begini :

Tauhid Asma’ wa Shifat (mentauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya) merupakan perkara urgen sekali. Bagaimana mungkin seorang hamba beribadah kepada Allah dengan sebenar-benarnya tanpa mengenal nama dan sifat Allah yang dia sembah/ibadahi”

Tanggapan

Perlu di ketahui bahwasanya tauhid asma wa shifat adalah bagian dari trilogi tauhid, yang mana pembagian tauhid menjadi 3 tersebut merupakan bid’ah terbesar sepanjang sejarah.

Mereka selalu mendengung – dengungkan permasalahan bid’ah sedangkan mereka (salafi wahabi) sendiri melakukan bid’ah yang sangat fatal untuk urusan aqidah. Dan merekalah yang dengan nyata menganggap bodoh Rasulullah – naudzubillah- juga generasi berikutnya karena tidak pernah membahas ataupun menyinggung walau sedikit tentang pembagian tauhid menjadi tiga

Jika benar apa yang di katakan penulis di atas – yakni tauhid asma wa shifat merupakan perkara yang urgen sekali - kenapa Rasulullah juga generasi setelahnya tidak pernah menggali ataupun menyinggung akan masalah ini? 

Dengan adanya tauhid asma wa shifat inilah yang menjadi cikal bakal pengingkaran mereka terhadap ta’wil juga tafwidh,

padahal metode ta’wil sendiri merupakan bentuk kehati-hatian ulama khalaf sebagian salaf untuk li tanzih (pensucian Allah) dari sifat-sifat makhluknya
dalam al-qur’an terdapat ayat muhkamat dan ayat mutasyabihat

ayat muhkamat adalah ayat yang jelas ayatnya, tidak membutuhkan ta’wil karna tidak adanya kekhawatiran bagi atas bentuk jismiyyah
contoh :

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya: ”dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku”

Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang membutuhkan ta’wil demi menghindari penjisiman kepada Allah.

Atau dalam arti lain ta’wil adalah mengalihkan lafadz dari makna lahirnya kepada arti yang layak untuk ladadz tersebut
Tujuan menta’wil ayat-ayat mutasyabihat ialah agar tidak disalah pahamimaknanya sehingga menimbulkan penyerupaan Allah dengan makhlukNya

Adapun ulama – ulama kami menta’wil ayat juga mengharuskan memakai rambu-rambu yang ketat. Yakni penta’wilan harus sesuai dengan :

1. wadl’ al-lughah atau makna yang di kehendaki oleh lafadzh tersebut menurut bahasa
2. ‘urf al-isti’mal atau penggunaan lafadz secara umum
3. sesuai kebiasaan shahih as-syar’i pemilik (Allah atau rasulullah)

Contoh ayat mutasyabihat adalah
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Allah bersemayam di atas arsy”

Dan ayat-ayat yang serupa dengan ayat ini di dalam al-qur’an,pada surat al-a’raf ayat 54, QS. Thaha ayat 5, QS. Yunus ayat 3, QS. Ar-rad ayat 2, QS Al-furqan ayat 59, QS as-sajadah ayat 4, QS Al-Hadid ayat 4

Kaum salafi wahhabi mengartikan ayat mutasyabihat secara literal atau lahirnya saja tanpa menta’wil juga mentafwidh (menyerahkan maknanya pada Allah)

Tanggapan :

Kaum ahlussunah wal jama’ah mengartikan ayat istiwa dengan istaula yang berarti menguasai atau memerintahi
Jika kita lihat kitab-kitab tafsir yang mu’tabar, bias di temukan makna istiwa adalah sebagai berikut :

1.   Dalam Tafsir Jalalain jilid 3 halaman 82 :
“yang di maksud istiwa adalah menguasai dan memerintah”
2.   Dalam kitab Tafsir Farid wajdi halaman 412 :
“istiwa artinya memerintah atau menguasai”
3.   Dalam tafsir ruhul bayan jilid 5 halaman 363 :
“yang di maksud dengan istiwa adalah menguasai”
Dan kitab-kitab tafsir yang lainnya mengartikan istiwa dengan menguasai.
Penyebutan lafadz istiwa dalam al-qur’an juga banyak di kemukakan tapi dengan makna lain lagi
1.   Dalam surat al-hud ayat 44
Arti istiwa dalam ayat ini berlabuh, bukan bertempat
2.   QS.Al-baqarah 29
Arti istiwa dalam ayat ini menyengaja (qashada)
3.   QS al-qashas 14
Arti istawa dalam ayat ini cukup umur
4.   QS Al-Fath 29
Perkataan istawa dalam ayat ini adalah tegak

Ada banyak ayat dalam al-Qur’an yang mengartikan istawa bukan “duduk bersela atau bertempat”

Andaikan tetap memaksakan arti dhahir dari istawa dengan duduk seperti yang di artikan oleh paham salafi wahabi, maka akan terjadi banyak kontradiksi dengan ayat – ayat al-qur’an yang lain

Salah satu contoh pada surat al-Haddid ayat 4

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Paham salafi wahabi seolah olah justru member kesan bahwa Allah itu ada dua atau lebih. Naudzubillah,,
Karena yang satu bersemayam di atas arsy dan yang lainnya berjalan jalan bersama manusia


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel