Tradisi Takfiri Wahhabi di Mulai Dari Nenek Moyangnya

Assalamualaikum...

Jujur saya sedikit geli dengan kajian - kajian yang di sampaikan selalu menyembunyikan tradisi nenek moyangnya, bahkan dengan pedenya mereka mengatakan kalau dalam kajiannya tidak pernah mengkafir kafirkan dan menyesatkan...!!!
Sebetulnya tanpa kita harus mengemukakan bukti dakwah mereka selalu mengkafirkan pun sudah sangat ketara dengan tabiat mereka yang selalu menuduh Bid'ah syirik kepada golongan asy'ariyah.

karena bukan sepele menuduh amalan itu bid'ah tanpa tabayun maksimal. terlebih dari zaman 1000 tahun sebelum lahirnya muhamad bin abd wahab amalan-amalan asy'ariyah yang sudah menjadi amalan jumhur ulama tak luput dari tuduhan syirik bid'ah

Dalam kitab Tarikh Najd, Ibn Ghannam menyebutkan kondisi kaum muslimin sebelum Muhammad bin Abdul Wahhab berdakwah sebagai berikut :


“ Keadaan kaum muslimin sebelum tegaknya dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Konon mayoritas umat muslim di kurun 12 Hijriah telah jatuh pada kesyirikan dan kembali pada kejahiliaan. Telah padam cahaya petunjuk dalam diri mereka akibat kebodohan yang mendominasi mereka dan telah dikuasai oleh hawa nafsu dan kesesatan. Maka mayoritas kaum muslimin itu telah mencampakkan kitab Allah ke punggung mereka, mengikuti apa yang dilakukan datuk-datuk mereka dari kesesatan. Mayoritas kaum muslimin itu menyangka datuk mereka lebih mengetahui kebenaran dan lebih mengetahui jalan kebenaran “Al-Husain bin Ghannam, Tarikh Najd : 13


Ibnu Ghnannam mengatakan bahwa mayoritas kaum muslimin sebelum kedatangan dakwahnya Muhammad bin Abdul Wahhab telah melakukan banyak kesyirikan dan kembali pada perbuatan jahiliyyah.


Yang dmaksud oleh Ibnu Ghannam dengan kesyirikan adalah berziarah kepada makam-makam orang-orang shalih dan bertawassul kepada para nabi dan orang shalih baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Sebagaimana penjelasan Ibn Ghannam selanjutnya :


“ Maka mereka (kaum muslimin) telah condong kepada penyembahan para wali dan orang shalih baik yang sudah wafat maupun yang belum wafat, kaum muslimin beristighatsah melalui perantara mereka di saat datang musibah dan bencana. Mereka meminta pertolongan pada para wali dan orang shalih tersebut agar terkabulnya hajat mereka dan lepasnya dari semua kesulitan “Al-Husain bin Ghannam, Tarikh Najd : 13

Kaum muslimin saat itu yang berziarah kepada para wali dan bertawassul atau itsighatsah kepada mereka, divonis syirik oleh Ibn Ghannam yang mewakili wahabi, menilai kaum muslimin telah melakukan perbuatan jahiliyyah dan bahkan menuduh kaum muslimin menyembah para wali dan orang-orang shalih tersebut. 

Padahal bukan hanya kaum awamnya saja yang melakukan ziarah dan tawassul pada wali dan orang shalih saat itu, tapi juga banyak dari kalangan ulama dan masyaikh yang melakukannya sejak itu hingga masa ulama salaf sebelumnya. 

Akibat cara pandang yang sempit dan dangkal seperti itu, maka mereka telah memvonis syirik kepada mayoritas umat muslim di belahan dunia ini, karena pada kenyataannya amalan tersebut telah dilakukan oleh umumnya kaum muslim sejak dahulu bahkan sejak zaman ulama salaf shalih. 

Dan ini merupakan salah satu poin yang menjadi akar persoalan terjadinya konflik di antara sekte ini dan kaum muslimin. Untuk pembahasan poin ini, penulis akan uraikan secara detail pada bab khusus selanjutnya


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tradisi Takfiri Wahhabi di Mulai Dari Nenek Moyangnya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel