Tolak ukur Tauhid Dan Syirik

Assalamualaikum...

menurut pandangan golongan Wahabi/Salafi bertawassul kepada sebab-sebab gaib, 
seperti misalnya; Anda meminta sesuatu kepada seseorang yang anda tidak akan memperoleh sesuatu itu melalui cara-cara alami, melainkan melalui cara-cara gaib, adalah syirik. 
Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal, di mana golongan ini menjadikan cara-cara materi dan cara-cara gaib sebagai tolak ukur tauhid dan syirik. Sehingga mereka berpendapat bahwa berpegang kepada cara-cara materi berarti tauhid yang sesungguhnya, sementara berpegang kepada cara-cara gaib berarti syirik yang sebenarnya!

Jika kita melihat secara mendalam kepada cara ini, niscaya kita akan menemukan bahwa tolak ukur tauhid dan syirik berada di luar kerangka cara-cara ini. Tolak ukur tersebut semata-mata kembali kepada diri manusia dan kepada bentuk keyakinannya terhadap cara-cara ini. 
Jika seorang manusia meyakini bahwa sebab-sebab ini mempunyai kemerdekaan yang terlepas dari kekuasaan Allah swt., maka keyakinannya ini syirik

Adapun tawassul mereka kepada para Rasulallah dan para wali, atau tabarruk mereka kepada bekas-bekas peninggalan mereka untuk meminta syafa’at atau yang lainnya, tidak termasuk syirik. Allah swt. telah berfirman tentang sebabsebab, dimana dia menisbatkan sebagian sesuatu kepada-Nya, dan ada kalanya menisbat- kannya kepada yang menjadi sebab-sebabnya secara langsung.

Berikut ini saya kemukakan beberapa contoh:
Allah swt. berfirman,  

"Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan
lagi sangat kokoh."  
Ayat ini menekankan bahwa rezeki berada di tangan Allah swt. Jika kita melihat kepada firman Allah swt. lainnya yang berbunyi, "Berilah mereka rezeki (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik". Disini kita melihat rezeki dinisbatkan kepada manusia. 

Pada ayat yang lain,Allah swt. menyatakan Diri-Nya sebagai penanam yang hakiki/sesungguhnya.
 
Allah swt.berfirman,
"Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam? Kamukah yang menanamnya
ataukah Kami yang menanam nya?" (QS. al-Waqi'ah: 63 – 64).
 
Sedangkan pada ayat yang lain Allah menisbahkan sifat penanaman tersebut kepada manusia sebagaimana firman-Nya;
"Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir." (al-Fath: 29)

Sementara pada ayat yang lain Allah swt. memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah. 
Allah swt. berfirman; 
" Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhoi-Nya." (QS. an-Najm: 26)

Dalam ayat ini disebutkan bahwa hamba Allah swt. bisa memberi syafa’at setelah diizinkan olehNya. Jadi di samping Allah ada hamba-hambaNya - atas izin-Nya - bisa memberi syafa’at

Pada sebuah ayat Allah menyatakan bahwa pengetahuan terhadap hal-hal yang gaib adalah sesuatu yang khusus bagi Allah.
Firman-Nya;
"Katakanlah, 'Tidak ada seorangpun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.'" (QS. an-Naml: 65)
Sementara pada ayat yang lain Allah swt. memilih para Rasul diantara hamba-hamba-Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal-hal yang gaib. 

Allah swt. berfirman:"Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya." (QS. Ali Imran: 179). Sudah tentu Rasulallah saw. berada pada urutan utama dari para Rasul lainnya

Semoga Bermanfaat...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel