Menjawab Pertanyaan "Apakah Sahabat Bermadzhab?"

Assalamualaikum...

Sebetulnya masalah ini adalah masalah yang kadang kala dijadikan argument oleh kaum anti madzhab. namun yang sudah sering saya singgung pada postingan-postingan sebelumnya, bahwa kelicikan ustadz-ustadz wahhabi indonesiaa adalah mengingkari kalau golongan mereka tidak bermadzhab, karena saking banyaknya buku yang di karang oleh ulama - ulama ahlussunah wal jama'ah. Tapi pada kenyataannya mereka tidak bisa bersembunyi di balik sifat arogan mereka.


Salah satunya dengan mereka secara terang - terangan melegalkan talfiq, kemudian di arahkan kepada kembali kepada Al-qur'an dan Hadits. sama saja anti madzhab...

Ketika Sayidina Muhamad shollahu alaihi wa sallam wafat, beliau meninggalkan Al-qur'an yang di tulis di atas tulang - tulang, pelepah kurma atau apapun yang dapat di tulis, ketika itu hanya qur'an saja

Baginda Agung Rasulullulah juga meninggalkan Hadits - hadits yang tersimpan dalam dada para sahabat, ada yang banyak megnhafal sabda nabi karena seringnya sahabat berjumpa dengan nabi, ada juga yang hanya hafal beberapa karena jarang ketemu dengan nabi.

oleh karena itu merupakan hal yang biasa seorang sahabat bertanya kepada sahabat yang lain tentang hadits - hadits nabi.

walaupun sahabat saahabat yang di tinggalkan Nabi sangat banyak jumlahnya - pada ketika haji wada' saja Nabi haji bersama 70.000 sahabat - tetapi yang berani berfatwa sesduah Nabi wafat hanya berjumlah kurang lebih 130 sahabat saja. dan itu pun ada yang banyak fatwanya dan ada juga yang sedikit

di antara sahabat yang paling banyak berfatwa ada 7 orang sahabat, antara lain :
  1. Sayidina Umar ibn Khattab
  2. Sayidina Ali RA 
  3. Sayyidina Abdullah ibn Mas'ud
  4. Siti Aisyah (Ummul Mu'minin)
  5. Sayidina Zaid ibn tsabit
  6. Sayidina Abdullah ibn Abbas
  7. Sayidina Abdullah ibn Umar
Tidak banyak sahabat Nabi yang sanggup berfatwa dan berijtihad sendiri
Sahabat Masruq berkata : "Saya lihat para sahabat Rasululah yang tua - tua umurnya bertanya kepada siti Aisyah tentang hukum faraidh"

Berkata ibn Jureij " Bahwasanya Abdullah bin Umar dan orang - orang yang hidup di kemudiannya di madinah, berfatwa dengan madzhab Zaid bin tsabit"

Dapat diambil kesimpulan pada perkataan ibn Jureij ini bahwa sesudah nabi wafat ada di antara sahabat-sahabat nabi yang menjadi Imam mujtahid dan ada pula yang bertaqid kepada para Imam mujtahid itu.

Kita sudah mengetahui dalam sejarah islam, bahwa pada masa khalifah sesudah nabi meninggal, negri islam sudah meluas , pada masa sayidina Umar saja agama islam sudah meluas ke mesir,palestina, persia, dan pada zaman khalifah bani umayah dan bani abas. islam sudah meluas sampau ke maroko,spanyol dan ke timur afghanistan bahkan sampai ke tiongkok.

sesuai dengan perkembangan islam da sesuai pula dengan luasnya daerah daerah yang memeluk agama islam, maka para sahabat nabi dan para tabi'in bertebaran ke pelosok dunia untuk mengembangkan agama islam

para sahabat yang bertebaran itu menemui berbagai macam-macam soal baru yang belum ada nash dalam al-qur'an dan hadits.sehingga mereka berijtihad sendiri untuk menetapkan hukum-hukum dan masalah yang baru itu. maka berijtihadlah mereka kalau mereka tidak menjumpai nash dalam dua kitab

dan inilah yang dinamakan istinbath (menggali hukum), dan hukum - hukum yang di dapat sesudah di gali, itulah yang dinamakan madzhabnya orang yang menggali itu

ini madzhab Syafi'i karena di gali oleh Syafi'i. ini madzhab maliki karena di gali oleh maliki dab begitulah seterusnya.

Baca juga
Sejarah dan keagungan madzhab Syafi'i
Selektif Dalam Bermadzhab

karena hal ini di bolehkan oleh Rasulullah

ولما بعث النبي معاذ بن جبل إلى اليمن قاضيا، قال له: (كيف تقضي إذا عرض لك قضاء؟) قال: أقضي بكتاب الله تعالى، قال: فإن لم تجد ؟ قال: فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال: فإن لم تجد؟ قال: أجتهد رأيي ولا آلو، قال معاذ:
فضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم في صدري وقال: الحمد لله الذي وفق رسول رسول الله لما يرضي رسول الله 
“ Ketika Nabi mengutus Sahabat Muadz bin Jabal ke Yaman sebagai hakim Nabi bertanya: Bagaimana cara kamu menghukumi suatu masalah hukum? Muadz menjawab: Saya akan putuskan dengan Quran. Nabi bertanya: Apabila tidak kamu temukan dalam Quran? Muadz menjawab: Dengan sunnah Rasulullah. Nabi bertanya: Kalau tidak kamu temukan? Muadz menjawab: Saya akan berijtihad dengan pendapat saya dan tidak akan melihat ke lainnya. Muadz berkata: Lalu Nabi memukul dadaku dan bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah memberi pertolongan pada utusannya Rasulullah karena Nabi menyukaisikapMuadz”



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel