Mengenal Lebih Dalam Doktrin Wahabi

Assalamualaikum...

Sebagai tangapan atas tuduhan - tuduhan keji yang di lakukan golongan minoritas terhadap kami ahlussunah wal jama'ah, penting sekiranya saya ikut andil dalam menolak paham Salafy Wahaby dengan media juga. karena seperti yang kita tahu hampir semua media sekarang sudah sangat banyak di gunakan kaum sawah (Salafy Wahhaby_red).



blog ini muncul juga sebagai washilah kedua dari akun official instagram @Hujjah_Santri karena dukungan dari banyak teman,saudara dan Guru-guru penulis



Wahabi atau wahhabiyyah adalah sebuah sebutan untuk para pendukung paham Muhammad bin Abdul Wahhab. Walaupun mereka menolak penisbatan wahabi/wahabiyyah ini atas gerakan kelompok mereka, namun para tokoh dan ulama mereka sendiri mengakui dan membanggakan penyebutan wahhabi /wahabiyyah terhadap kelompok pembela paham Muhammad bin Abdul Wahhab ini sebagaimana akan penulis terangkan dalam postingan selanjutnya...!!!

dalam pembahasan ini penulis tidak akan menjelaskan dengan detail sejarah kehidupan Muhamad bin Abdul Wahhab (MBAW) seperti di blog-blog lainnya, karena sudah saking banyaknya sejarah tentang Muhamad bin abdul wahab, dan akan di post dalam beberapa Bab agar pembaca tidak merasa bosan☺

Golongan Wahabi/Salafi ini berpegang dengan akidah atau keyakinan Muhammad Ibnu Abdul
Wahhab sebagai penerus Ibnu Taimiyyah (kita bicarakan tersendiri mengenai sejarah singkat Ibnu
Abdul Wahhab). 


Golongan ini juga sering menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi saw.
secara tekstual (apa adanya kalimat) dan literal (makna yang sebenarnya) atau harfiah dan
meniadakan arti majazi atau kiasan. Oleh karenanya mereka sering menjasmanikan (tajsim) dan
menyerupakan (tasybih) Allah swt. secara hakiki/sesungguhnya kepada makhluk-Nya.


Na’udzubillah. Insya Allah nanti kita utarakan tersendiri contoh riwayat-riwayat Tajsim dan Tasybih.
Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang
mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai
dengannya. Banyak ulama-ulama pakar yang mengeritik dan menolak akidah mengenai
Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih atau Penyerupaan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Karena ini
bertentangan dengan firman Allah swt. sebagai berikut:


Dalam surat Syuura (42): 11;

 ‘ Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya’.
Surat Al-An’aam (6): 103;
‘Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata’. 

Surat Ash-Shaffaat (37): 159;
 ‘Mahasuci Allah dari apa
yang mereka sifatkan’, dan ayat-ayat lainnya


Dengan adanya penafsiran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulallah saw. secara tekstual ini, mereka
mudah membid’ahkan dan mensyirikkan Tawassul (berdo'a pada Allah sambil menyertakan nama
Rasulallah atau seorang sholeh/wali dalam do’a itu), Tabarruk (pengambian barokah),
permohonan syafa’at pada Rasulallah saw. dan para wali Allah, peringatan-peringatan keagamaan,
kumpulan majlis-majlis dzikir (istighothah, tahlilan dan sebagainya), ziarah kubur, taqlid (ikutikutan) kepada imam madzhab dan lain sebagainya (kita bicarakan sendiri pada babnya masing-masing). 


Sebenarnya semua itu adalah kebaikan, banyak hadits dan wejangan ulama pakar yang
berkaitan dengan masalah-masalah di atas itu.


Golongan Salafi Wahabi dan pengikutnya ini sering berkata bahwa mereka akan mengajarkan
syari’at Islam yang paling murni dan benar, sehingga mudah mensesatkan sampai-sampai berani
mengkafirkan, mensyirikkan sesama muslimin yang tidak sependapat atau sepaham dengan
mereka.


Menurut pendapat sebagian orang bahwa faham golongan Wahabi/Salafi pada zaman modern ini seperti golongan al-Hasyawiyyah, karena kepercayaan-kepercayaan dan pendapatpendapat mereka mirip dengan golongan yang dikenali sebagai al-Hasyawiyyah pada abad-abad
yang awal. Istilah al-Hasyawiyyah adalah berasal daripada kata dasar al-Hasyw yaitu penyisipan,
pemasangan dan kemasukan


Ahmad bin Yahya al-Yamani (m.840H/1437M) mencatatkan bahwa: Nama al-Hasyawiyyah
digunakan kepada orang-orang yang meriwayatkan hadits-hadits sisipan yang sengaja dimasukkan
oleh golongan al-Zanadiqah sebagaimana sabda Nabi saw. dan mereka menerimanya tanpa
melakukan interpretasi semula, dan mereka juga menggelarkan diri mereka Ashab al-Hadith dan
Ahlal-Sunnah wa al-Jama`ah...Mereka bersepakat mempercayai konsep pemaksaan (Allah
berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa Allah seperti makhluk-Nya) dan
mempercayai bahwa Allah mempunyai jasad dan bentuk serta mengatakan bahwa Allah
mempunyai anggota tubuh dan lain sebagainya.


Al-Syahrastani (467-548H/1074-1153M) menuliskan bahwa: Terdapat sebuah kumpulan Ashab alHadits, yaitu al-Hasyawiyyah dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih
(yaitu Allah serupa makhluk-Nya) ...sehingga mereka sanggup mengatakan bahwa pada suatu
ketika, kedua-dua mata Allah kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya dan Dia (Allah)
menangisi (kesedihan) berakibat banjir Nabi Nuh a.s sehingga mata-Nya menjadi merah, dan
`Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui `Arasy dalam keadaan
melebihi empat jari di segenap sudut. [Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]


Begitu juga faham sekte Wahabi ini seakan-akan menjiplak atau mengikuti kaum Khawarij yang
juga mudah mengafirkan, mensyirikkan, mensesatkan sesama muslimin karena tidak sependapat
dengan fahamnya. Kaum khawarij ini kelompok pertama yang secara terang-terangan
menonjolkan akidahnya dan bersitegang leher mempertahankan prinsip keketatan dan kekerasan
terhadap kaum muslimin yang tidak sependapat dan sefaham dengan mereka.






Bersambung ke postingan berikutnya...!!!


 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel