Membantah Konsep Tauhid ala Wahhabi

Assalamualaikum

Kali ini pembahasan kita akan lebih banyak memakan page dari pembahasan sebelumnya. karena yang kita tahu konsep tauhid wahhabi yang ini menjadi cikal bakal tradisi mereka mengkafir - kafirkan sesama muslim semau mereka sendiri
Jadi untuk pembaca yang berniat ingin memahami kerancuan konsep tauhid versi wahhabi, silahkan siapkan kopi itemnya dulu.. silahkan di simak baik-baik..!! 

Supaya lebih jelas, kita akan mengkaji pandangan Muhammad Abdul Wahhab mengenai seputar tauhid uluhiyyah. Yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah oleh kalangan Wahabi ialah bahwa ibadah semata-mata hanya untuk Allah swt., dan seseorang tidak boleh menyekutukan-Nya dengan yang lainnya di dalam beribadah kepada-Nya. Inilah tauhid yang menjadi tujuan diutusnya para Nabi dan para Rasul 
Namun yang menjadi perselisihan ialah mengenai batasan pengertian ibadah. Dan ini merupakan sesuatu yang paling penting didalam postingan ini. Karena, inilah yang menjadi tempat tergelincirnya kaki golongan Wahabi/Salafi

Jika kita mengatakan bahwa tauhid yang murni ialah kita  mempersembahkan ibadah semata-mata kepada Allah swt., maka yang demikian tidak akan ada artinya jika kita tidak mendefenisikan terlebih dahulu pengertian ibadah, sehingga kita mengetahui batas-batasannya, yang tentunya akan menjadi tolak ukur yang tetap bagi kita untuk membedakan seorang muwah- hid (yang bertauhid) dan seorang musyrik.
Sebagai contoh, orang yang bertawassul kepada para wali menziarahi kuburan mereka,
mengagungkan mereka, apakah termasuk seorang musyrik atau seorang muwahhid (bertauhid)?


Sebelum kita menjawab, kita harus terlebih dahulu mempunyai ukuran yang dengannya kita dapat menyingkap ekstensi-ekstensi ibadah pada kenyataan di luar. 
Golongan Wahab/Salafii menganggap, bahwa seluruh ketundukan, pe-rendahan diri dan penghormatan adalah ibadah, ini pengertian yang salah!

Dengan demikian berarti dia telah menyekutukan Allah. Menurut golongan ini bila seorang yang menempuh perjalanan yang jauh dengan tujuan untuk menziarahi Rasulallah saw., sehingga dapat mencium dan menyentuh makamnya yang suci, dengan tujuan bertabarruk maka dia terhitung sebagai orang kafir dan orang musyrik.  
Demikian juga halnya dengan orang yang mendirikan bangunan di atas kuburan, untuk menghormati dan mengagungkan orang yang dikubur di dalamnya. Golongan Wahab/Salafii menganggap, semua ketundukan....dan sebagainya yang telah dikemukakan di atas adalah ibadah dan penyembahan, ini pengertian yang salah! 

Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berkata pada salah satu risalahnya:

“.....Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari kuburan, pohon, bintang, para malaikat atau para Rasul, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau menghilangkan bahaya, maka dia telah menjadikannya sebagai Tuhan selain Allah. Berarti dia telah berdusta dengan ucapannya yang berbunyi ' tidak ada Tuhan selain Allah'.Dia harus diminta bertaubat. Jika dia ber- taubat, dia dibebaskan; namun jika tidak, maka dia harus dibunuh. 
Jika orang musyrik ini berkata, 'Saya tidak bermaksud darinya kecuali hanya untuk bertabarruk, dan saya tahu bahwa Allah-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat.' Katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya Bani-Israilpun tidak menghendaki kecuali apa yang kamu kehendaki’. Sebagaimana yang telah Allah swt.
Beritakan tentang mereka. Yaitu mana- kala mereka telah berhasil menyeberangi laut, mereka mendatangi sebuah kaum yang tengah menyembah berhala mereka. Kemudian Bani Israil berkata, 'Hai Musa, buatkanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana Tuhan-Tuhan yang mereka miliki', kemudian Musa berkata, 'Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.'“ (‘Aqa’id al-Islam, kumpulan suratsurat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26) 

Muhammad bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam risalahnya yang lain :

"Barangsiapa yang bertabarruk kepada batu atau kayu, atau menyentuh kuburan atau kubah, dengan tujuan untuk bertabarruk (mengambil barokah) kepada mereka, maka berarti dia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan-Tuhan yang lain." (‘Aqa’id al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26) 

Selain dari Muhammad Abdul Wahhab ini, mari kita rujuk juga kata-kata seorang dari golongan Wahabi - Muhammad Sulthan al-Ma'shumi - 


"Pada kunjungan saya yang keempat ke kota Madinah, saya menyaksikan di Mesjid Nabawi disisi kuburan Rasulallah saw. yang mulia, banyak sekali terdapat hal-hal yang bertentangan dengan iman, hal-hal yang menghancur- kan Islam dan hal-hal yang membatalkan ibadah, yaitu berupa kemusyrikan-kemusyrikan yang muncul disebabkan sikap berlebihan, kebodohan, taklid buta dan ta'assub yang batil. Sebagian besar yang melakukan kemunkaran-kemunkaran ini adalah orangorang asing (bukan orang Saudi sendiri?) yang berasal dari berbagai penjuru dunia, yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat agama. Mereka telah menjadikan kuburan Rasulallah saw. sebagai berhala, disebabkan cinta yang berlebihan, sementara mereka tidak merasa." (Al– Musyahadat al-Ma’shumiyyah ‘Inda Qabr Khair al-Bariyyah, hal.15) .

Sudah jelas bagi orang yang berpendidikan agama akan menolak tegas pikiran dangkal si Syekh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al-Ma'shumi ini, 
 dengan adanya omongannya itu menunjukkan mereka tidak bisa membedakan antara ‘ibadah dan ta’dzim/penghormatan. Baik menurut syariat maupun akal, kita tidak dapat meletakkan secara keseluruhan kata khudhu' (ketundukkan) dan tadzallul (perendahan diri) sebagai ibadah. 

Kita melihat banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh manusia didalam kehidupan sehari-harinya yang disertai dengan ketundukkan dan perendahan diri. 

Contohnya; ketundukkan seorang murid kepada gurunya dan begitu juga ketundukkan seorang prajurit dihadapan komandannya. 
Tidak mungkin ada seorang manusia yang berani mengatakan perbuatan yang mereka lakukan itu ibadah.

Allah swt. telah memerintahkan kita untuk menampakkan diri kepada kedua orang tua ketundukkan dan perendahan.

Sebagaimana firman-Nya:
"Dan turunkanlah sayapmu (rendahkanlah dirimu) dihadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang." 

Kata "penurunan sayap" disini adalah merupakan kiasan dari ketundukan yang tinggi. Kita tidak mungkin menyebut perbuatan ini sebagai ibadah. Bahkan, pedoman seorang muslim adalah "tunduk dan merendahkan diri di hadapan seorang Mukmin, serta congkak dan meninggikan diri dihadapan orang kafir".  

Sebagaimana Allah swt. berfirman, 
"Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. " 

Jika semua perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, berarti Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk beribadah kepada satu sama lainnya.Jelas, ini sesuatu yang mustahil!!.

Banyak sekali ayat-ayat ilahi dengan jelas berbicara tentang hal ini, dan menafikan sama sekali klaim yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi.

Diantaranya ialah, ayat yang menceritakan sujudnya para malaikat kepada Adam. Sujud adalah merupakan peringkat tertinggi dari khudhu' (ketundukkan) dan tadzallul (perendahan diri)

Allah swt. berfirman:
"Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam.'" (QS. al-Baqarah: 34)

Jika sujud kepada selain Allah swt. dan penampakkan puncak ketundukkan dan perendahan diri itu disebut ‘ibadah' - sebagaimana yang dikatakan oleh kalangan Salafi/Wahabi - maka tentu para malaikat ,na'udzu billah, telah musyrik dan kafir.
Tidakkah golongan ini telah mentadabburi AlQur'an? Atau, apakah pada hati mereka terdapat kunci yang menutup?  

Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa puncak dari ketundukkan bukanlah ibadah. Disamping itu, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa kata ‘sujud’ di dalam ayat ini berarti makna hakiki/yang sesungguhnya.

Banyak ahli tafsir sujud diayat tersebut berarti sujud penghormatan atau ta’dzim terhadap Adam a.s jadi bukan sujud ibadah atau sujud kepada Adam untuk dijadikan sebagai kiblatnya, sebagaimana menjadikan Ka'bah sebagai kiblat mereka. Jadi pikiran dan kata-kata Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al Ma'shumi, seperti tersebut di atas ini adalah pikiran yang tidak benar dan tanpa dasar.


Karena, seandainya arti sujud kepada Adam adalah berarti menjadikan Adam sebagai kiblat atau sebagai penyembahan, maka tidak ada alasan bagi Iblis untuk mengajukan protes. Iblis protes karena sujud ditujukan kepada Adam ini bukan dalam arti hakiki/sesungguhnya hanya sebagai penghormatan tinggi saja. 

Begitu juga Al-Qur'an al-Karim telah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kemungkinan di atas. Yaitu melalui perkataan Iblis yang berbunyi, "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?". (QS. al-Isra: 61)


Yang Iblis pahami dari perintah Allah swt. ialah sujud kepada diri Adam itu sendiri (sebagai
penghormatan). 
Oleh karena itu, dia protes dengan mengata kan, Saya lebih baik darinya. Dengan kata lain dia mengatakan, Saya lebih utama darinya. Bagaimana mungkin seorang yang merasa lebih utama harus sujud kepada orang yang tidak lebih utama?

Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Isra’ (17); 61-62:
'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?' Juga katanya (Iblis), 'Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil 

Jadi jelas keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah dikarenakan pada sujud tersebut terdapat kedudukan dan keutamaan yang besar bagi Adam as. dengan kata lain untuk ta’dzim (penghormatan tinggi) pada Adam as.

Al-Qur'an al-Karim juga telah memberitahukan kita akan sujudnya saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya kepada dirinya. Sujud yang mereka lakukan ini bukan dikarenakan perintah Allah, namun demikian Allah swt. tidak menyebutnya sebagai perbuatan syirik, dan tidak menuduh saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya telah melakukan perbuatan syirik.

Allah swt. berfirman;
"Dan dia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, 'Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan.'" (QS. Yusuf [12]: 100)

Mimpi yang dikatakan Yusuf itu terdapat di dalam surat Yusuf [12]; 4;
"Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, 'Wahai ayahku, sesungguh- nya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku lihat semuanya sujud kepadaku.'' 

Allah swt. telah menyebut peristiwa sujudnya mereka kepada Yusuf pada dua tempat yaitu sujudnya saudara-saudara Yusuf dan sujudnya sebelas bintang, matahari dan bulan dalam mimpinya kepadanya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan arti sujud diayat ini yaitu perbuatan yang menampak kan ketundukkan, perendahan diri dan pengagungan, bukanlah ibadah. 

Atas dasar ini, kita tidak bisa menuduh atau menjuluki seorang Muslim muwahhid (bertauhid) yang tunduk dan merendahkan diri di hadapan makam Rasulallah, makam para imam dan makam para wali, sebagai orang musyrik yang menyembah kuburan.
Karena, ketundukkan bukanlah berarti ibadah atau penyembahan. Jika perbuatan yang semacam ini dikatagorikan sebagai perbuatan ibadah kepada kuburan, maka kita harus konsekwen mengatakan juga bahwa amal perbuatan kaum muslimin pada manasik haji, seperti tawaf mengelilingi Ka'bah, melakukan sa'i di antara shafa dan marwah, dan juga mencium batu hajar aswad, tentu jug termasuk ibadah dan perbuatan syirk. (Na’udzu billahi).

Karena dilihat dari bentuk dhahir/lahir perbuatan-perbuatan ini tidak berbeda dengan perbuatan mengelilingi kuburan Rasulallah saw., menciumi atau menyentuhnya.

Sebagaimana Allah swt. berfirman mengenai tawaf dan Sa’i; 
"Dan hendaklah mereka melakukan tawaf mengelilingi rumah yang tua itu (Baitullah)." (QS. Al Hajj [22]: 29). 

Allah swt. juga berfirman, 
"Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber'umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i di antara keduanya”. (QS. al-Baqarah: 158).

Apakah Anda memandang bahwa bertawaf mengelilingi batu dan tanah (Ka'bah) merupakan ibadah kepadanya? Seandainya secara umum ketundukkan atau perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, tentu perbuatan-perbuatan inipun dikatagorikan sebagai ibadah, dan tidak bisa dirubah esensinya melalui perintah Allah. 

Karena sebagaimana telah kita jelaskan bahwa perintah Allah tidak dapat mengubah esensi suatu perbuatan!“ 

yang menjadi masalah bagi golongan Salafi/Wahabi ialah mereka tidak mengetahui definisi ibadah, dan tidak memahami jiwa dan hakikatnya, sehingga mereka hanya berurusan dengan bentuk lahiriyahnya saja.

Ketika mereka melihat seorang peziarah kuburan Rasulallah saw. menciumi makam Rasulallah saw., maka dengan serta merta terbayang di dalam benak mereka seorang musyrik yang menciumi berhalanya, lalu dengan segera mereka menyamakan perbuatan seorang Muslim muwahhid yang menciumi kuburan Rasulallah saw. dengan perbuatan seorang musyrik yang menciumi berhalanya. Jelas pikiran seperti ini adalah salah!

Seandainya semata-mata bentuk luar/lahiriyah cukup untuk dijadikan dasar penetapan hukum, maka tentunya merekapun harus mengkafirkan seluruh orang Muslim yang mencium hajar aswad. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian. 
Seorang Muslim yang mencium hajar aswad, perbuatannya itu dihitung sebagai tauhid yang murni - karena mereka tidak meyakini hajar aswad sebagai sesembahannya -
sementara seorang kafir yang mencium berhala, perbuatannya itu dihitung sebagai perbuatan syirik yang nyata, karena mereka meyakini berhala ini sebagai sesembahannya yang memiliki sifat ketuhanan".

Wallahu a'lam
Semoga dapat di pahami dan bisa bermanfaat...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel