Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 5

Assalamualaikum

pada bab kelima ini adalah bab terakhir penjelasan dari jumhur ulama, benar - benar dari jumhur ulama, saya terkadang merasa geli dengan ustad2 wahabi yang selalu membawa bawa nama jumhur ulama, padahal kenyataan hanya dari ulama mereka sendiri yang hidup di abad penuh kemaksiatan yaitu abad-abad sekarang.

sungguh orang yang benar - benar tertutup mata hatinya ketika segudang dalil sudah kami kemukakan akan tetapi masih menolak dengan dalil yang mayoritas ulama bersepakat atasnya. bukankah golongan yang akan selamat dari golongan mayoritas seperti yang di sabdakan nabi?





mari kita kutip lagi dari pernyataan-pernytaan ulama ahlussunah wal jama'ah atas dalil kesucia Allah dari Tempat dan Arah 



  • al-Imâm al-Muhaqqiq al-Qâdlî ‘Adluddin ‘Abdur Rahman al-Izi (w 756 H) dalam al-Mawaqif pada juz ke3,h.16, penjelasan ke dua tentang kesucian Allah, menuliskan sebagai berikut:

: المقصد الأول أنه تعالى ليس في جهة من الجهات ولا في مكان من الأمكنة وخالف فيه المشبهة وخصصوه بجهة الفوق
“Penjelasan pertama bahwa Allah tidak berada pada suatu arah dari segala arah, dan tidak berada pada suatu tempat dari seluruh tempat, ini berbeda dengan pendapat kaum Musyabbihah yang mengkhususkan arah atas bagi Allah” " Sebagaimana dikutip oleh Mahmud Khathab as-Subki dalam kitab Ithaf al-Ka’inat, h. 130


  • al-Hâfizh Ahmad ibn Yusuf; yang dikenal dengan nama as-Samin al-Halabi asy-Syafi’i (w 756 H) dalam menafsirkan firman Allah QS. Qaf, (Wa Nahnu Aqrabu Ilyhi Min Hablil Warid), menuliskan sebagai berikut: 
هذا من باب التمثيل لاقتداره وقهره وأن العبد في قبضته وسلطانه بحال من ملك حبل وريده ولا قرب حسيا تعالى االله عن الجهة
“Ini adalah bentuk bahasa perumpamaan (bukan dalam makna indrawi); untuk mengungkapkan sifat kuasa Allah dan keagungan-Nya terhadap para hamba-Nya; bahwa semua hamba dan segala sesuatu di bawah kekuasaan Allah; termasuk kepemilikan-Nya terhadap urat leher setiap orang hamba yang melebihi kekuasaan setiap hamba itu sendiri terhadapnya. Ayat ini bukan untuk menetapkan kedekatan Allah dalam makna indrawi, sesungguhnya Allah maha suci dari arah” " ‘Umdah al-Huffazh, j. 3, h. 340-341


  • Asy-Syaikh al-Imâm Muhammad ibn Yusuf al-Baghdadi (w 786 H) yang lebih dikenal dengan
sebutan al-Karmani, salah seorang penulis syarh kitab Shahîh al-Bukhâri, sebagaimana dikutip
oleh al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri, bahwa ia (al-Karmani)
berkata :

 قوله "في السماء" ظاهره غير مراد، إذ االله منزه عن الحلول في المكان
“Perkataan “Fî as-Samâ’” bukan dalam pengertian zahirnya yang seakan menunjukan bahwa Allah berada di langit, karena sesungguhnya Allah maha suci dari bertempat”

  • Al-Imâm al-Hâfizh Walyyuddin Abu Zur’ah Ahmad ibn Abdirrahim al-‘Iraqi (w 826 H)

وقوله ـ أي النبي ـ "فهو عنده فوق العرش" لا بد من تأويل ظاهر لفظة "عنده" لأن معناها حضرة الشىء واالله تعالى منزه عن الاستقرار والتحيز والجهة، فالعندية ليست من حضرة المكان بل من حضرة الشرف، أي وضع ذلك الكتاب في محل مُعظّم عنده

“Sabda Rasulullah “Fa Huwa ‘Indahu Fawq al-‘Arsy” mestilah dari takwil zahir kata “’Indahu”; karena makna literalnya adalah “tempat sesuatu”, padahal Allah maha suci dari bertempat (bersemayam) dan berada pada arah. Maka kata “’Inda” di sini bukan dalam pengertian tempat tetapi dalam pengertian  “kemuliaan”; artinya bahwa kitab itu ditempatkan pada tempat yang diagungkan (dimuliakan) oleh Allah”
  
  • Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 852 H) dalam karyanya sangat mashur Fath al-Bâri menuliskan :
  ولا يلزم من كون جهتي العلو والسفل محالا على االله أن لا يوصف بالعلو، لأن وصفه بالعلو من جهة المعنى، والمستحيل كون ذلك من جهة الحس، ولذلك ورد في صفته العالي والعلي والمتعالي، ولم يرد ضد ذلك وإن كان قد أحاط بكل شىء علما جلّ وعز

“Bahwa arah atas dan arah bawah adalah sesuatu yang mustahil bagi Allah, hal ini bukan berarti harus menafikan salah satu sifat-Nya, yaitu sifat al-‘Uluww. Karena pengertian sifat tersebut adalah dari segi maknawi, bukan dari segi indrawi. (Dengan demikian makna al- ‘Uluww adalah Yang maha tinggi derajat dan keagungan-Nya, bukan dalam pengertian berada di arah atas). Karena mustahil pengertian al-‘Uluww ini secara indrawi. Inilah pengertian dari beberapa sifat-Nya; al-‘Âli, al-‘Alyy dan al-Muta-â’li. Ini semua bukan dalam pengertian arah dan tempat, namun demikian Dia mengetahui segala sesuatu” Fath al-Bâri, j. 6, h. 136

Pada bagian lain dalam kitab yang sama tentang pembahasan Hadîts an-Nuzûl al-Imâm alHâfizh Ibn Hajar menuliskan sebagai berikut: 
استدل به من أثبت الجهة وقال هي جهة العلو، وأنكر ذلك الجمهور لأن القول بذلك يفضي إلى التحيز،
تعالى االله عن ذلك
“Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang menetapkan adanya arah bagi Allah, yaitu arah atas. Namun demikian kayakinan mayoritas276 mengingkari hal itu, karena menetapkan arah bagi-Nya sama saja dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Dan Allah maha suci dari pada itu”  
Pada bagian lain al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan:

 فمعتمد سلف الأئمة وعلماء السنة من الخلف أن االله منزه عن الحركة والتحول والحلول، ليس كمثله شىء

“Keyakinan pada al-Imâm salaf dan ulama Ahlussunnah dari Khalaf adalah bahwa Allah
maha suci dari gerak, berpindah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain, menyatu
dengan sesuatu. Dia tidak menyerupai segala apapun”
Pada bagian lain dalam menjelaskan tulisan al-Imâm al-Bukhari “Bâb: Tahâjja Âdam Wa Musâ ‘Indallâh” (Bab: Adam dan Musa saling mengadu argumen di hadapan Allah), al-Hâfizh Ibn Hajar menuliskan sebagi berikut:

فإن العندية عندية اختصاص وتشريف لا عندية مكان
“Maka kata ‘inda di sini adalah untuk mengungkapkan pengkhususan dan pemuliaan (‘Indiyyah at-tasyrîf), bukan untuk mengungkapkan tempat (‘Indiyyah al-Makân)”  Fath al-Bari, j. 7, h. 124


  • Asy-Syaikh Badruddin Mahmud ibn Ahmad al-Ayni al-Hanafi(w 855 H), salah seorang penulis Syarh Shahîh al-Bukhâri berjudul ‘Umdah al-Qari’ Bi Syarh Shahîh al-Bukhâri menuliskan sebagai berikut:

ولا يدل قوله تعالى : "وكان عرشه على الماء" سورة طه على، أنه- تعالى- حالّ عليه، وإنما أخبر عن العرش خاصة بأنه على الماء، ولم يخبر عن نفسه بأنه حال عليه، تعالى االله عن ذلك، لأنه لم يكن له حاجة إليه
“Firman Allah: “Wa Kâna ‘Arsyuhu ‘Alâ al-Mâ’” (QS. Hud: 7) bukan untuk menunjukan bahwa Allah berada di atas arsy tersebut. Ayat ini hanya untuk memberikan bahwa arsy berada di atas air, bukan untuk menetapkan bahwa Allah berada di atasnya. Allah maha suci dari pada itu, karena Dia tidakmembutuhkan kepada arsy yang notabene sebagai makhluk-Nya” ‘Umdah al-Qari’, j. 12/25, h. 111
  • Al-Imâm asy-Syaikh Jalaluddin Muhammad ibn Ahmad al-Mahalli asy-Syafi’i (w 864 H) dalam kitab Syarh Jama’ al-Jawâmi’ dalam menjelaskan perkataan al-Imâm Tajuddin as-Subki:
 ليس- االله- بجسم ولا جوهر ولا عَرَض لم يزل وحده ولا مكان ولا زمان" ما نصه: "أي هو موجود وحده
قبل المكان والزمان فهو منزه عنهما
“Allah bukan benda besar (Jism), bukan benda kecil (Jawhar), juga bukan sifat-sifat benda (‘Aradl). Dia Allah ada tanpa permulaan (Azaliy); tanpa tempat dan tanpa zaman”, al Mahalli menuliskan sebagai berikut: “Artinya bahwa Allah maha ada, dan hanya Dia yang ada (tanpa permulaan) sebelum segala sesuatu ada, Dia ada sebelum ada tempat dan zaman, dan Dia maha suci dari keduanya” Syarh Jama’ al-Jawâmi’, j. 2, h. 405 (Dicetak pada Hâsyiyah al-Banâni)

Al-Imâm al-Hâfizh Muhammad ibn Abdurrahman as-Sakhawi (w 902 H) berkata: “Guru kami (al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Asqalani) berkata:
قال شيخنا- يعني الحافظ ابن حجر-: إن علم االله يشمل جميع الأقطار، واالله سبحانه وتعالى منزه عن
الحلول في الأماكن، فإنه سبحانه وتعالى كان قبل أن تحدث الأماكن
"Sesungguhnya ilmu Allah mencakup segala sesuatu, namun Allah maha suci dari menyatu dengan tempat dan arah, karena sesungguhnya Allah itu azali; tanpa permulaan, Dia ada sebelum menciptakan segala tempat”
  • Al-Imâm al-Hâfizh Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakr as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 911 H) dalam penjelasan beliau terhadap hadits Nabi: “Aqrab Mâ Yakûn al-‘Abd Min Rabbih Wa Huwa Sâjid”, yang makna zahirnya seakan bahwa Allah dekat dengan seorang yang sedang dalam posisi sujud, menuliskan sebagai berikut:
قال القرطبي: هذا أقرب بالرتبة والكرامة لا بالمسافة، لأنه منزه عن المكان والمساحة والزمان. وقال البدر بن الصاحب في تذكرته: في الحديث إشارة إلى نفي الجهة عن االله تعالى
“Al-Qurthubi berkata: Yang dimaksud dengan “Aqrab” dalam hadits di atas adalah dalam pengertian kedudukan dan kemuliaan, bukan dalam pengertian jarak, karena Allah maha suci dari tempat, jarak, dan waktu. Kemudian pula berkata al-Badr ibn ash-Shahib dalam kitab Tadzkirah-nya bahwa dalam hadits tersebut terdapat dalil kuat bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah”
Saya rasa cukup sudah penjelasan dari Ulama - ulama terkemuka yang menjadi rujukan semua umat muslim, menjadi perantara sampainya ilmu kepada zaman kita sekarang ini.
jika anda kaum wahhabi masih mengatakan Allah bertempat di atas Arsy tanpa takwil, silahkan renungi senidiri..
pada postingan - postingan selanjutnya akan kami paparkan bab terkait masalah ini.. Insya Allah....
Semoga memberi pemahaman dan Semoga bermanfaat... !!!  
  

 



 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel