Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 4

Assalamualaikum...


Untuk lebih memahami dalam postingan ini sebaiknya baca juga postingan sebelumnya
Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 1
Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 2
Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 3
  • al-Imâm Abu al-Qasim al-Husain ibn Muhammad yang dikenal dengan nama ar-Raghib alAshbahani (w 502 H), salah seorang ulama pakar bahasa yang sangat mashur dengan karyanya berjudul al-Mufradât Fî Gharîb al-Qur’ân, menuliskan sebagai berikut:


 أوقرب االله تعالى من العبد هو بالإفضال عليه والفيض لا بالمكان
“Makna al-Qurb (yang secara harfiyah berarti dekat) pada hak Allah terhadap hamba-Nya adalah dalam pengertian bahwa Dia Maha Pemberi karunia dan berbagai nikmat, bukan dalam dekat dalam pengertian jarak atau tempat” al-Mufradât Fî Gharîb al-Qur’ân., h. 399

  • al-Imâm Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali (w 505 H)


تعالى- أي االله- عن أن يحويه مكان، كما تقدس عن أن يحده زمان، بل كان قبل أن خلق الزمان والمكان
وهو الان على ما عليه كان

“Allah Maha Agung, Dia tidak diliputi oleh tempat, sebagaimana Dia maha suci untuk dibatasi oleh waktu dan zaman. Dia ada tanpa permulaan, tanpa tempat, dan tanpa zaman, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat dan arah) ada seperti sediakala tanpa tempat dan dan tanpa arah” Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, j. 1, h. 108

Masih dalam kitab Ihya’, al-Imâm al-Ghazali juga menuliskan

الأصل السابع: العلم بأن االله تعالى منزه الذات عن الاختصاص بالجهات، فإن الجهة إما فوق وإما أسفل وإما يمين وإما شمال أو قدّام أو خلف، وهذه الجهات هو الذي خلقها وأحدثها بواسطة خلق الإنسان إذ خلق له طرفين أحدهما يعتمد على الأرض ويسمى رجلا، والاخر يقابله ويسمى رأسا، فحدث اسم الفوق لما يلي
جهة الرأس واسم السفل لما يلي جهة الرِّجل، حتى إن النملة التي تدب منكسة تحت السقف تنقلب جهة
الفوق في حقها تحت وإن كان في حقنا فوقًا. وخلق للإنسان اليدين وإحداهما أقوى من الأخرى في الغالب،
فحدث اسم اليمين للأقوى واسم الشمال لما يقابله وتسمى الجهة التي تلي اليمين يمينا والأخرى شمالا، وخلق له جانبين يبصر من أحدهما ويتحرّك إليه فحدث اسم القدّام للجهة التي يتقدم إليها بالحركة واسم الخلف لما
“Pokok ke tujuh; adalah berkeyakinan bahwa Dzat Allah suci dari bertempat pada suatu arah. Karena arah tidak lepas dari salah satu yang enam; atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang. Arah-arah tersebut diciptakan oleh Allah denga jalan penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia dengan dua bagian; bagian yang megarah ke bumi yaitu bagian kakinya, dan bagian yang berlawanan dengannya yaitu bagian kepalanya. Dengan adanya pembagian ini maka terjadilah arah, bagian ke arah kakinya disebut bawah dan bagian ke arah kepalanya disebut atas. Demikian pula seekor semut yang merayap terbalik di atas langit-langit rumah, walaupun dalam pandangan kita tubuhnya terbalik, namun baginya arah atasnya adalah bagian yang ke arah kepalanya dan bagian bawahnya adalah adalah bagian yang ke arah bawahnya.

  • Al-Imâm Abu al-Mu’ain Maimun ibn Muhammad an-Nasafi (w 508 H), salah seorang pemuka kaum teolog di kalangan Ahlussunnah berkata:
   القول بالمكان- أي في حق االله- منافيا للتوحيد

“Mengatakan adanya tempat pada hak Allah adalah pendapat yang merusak tauhid”  Tabshirah al-Adillah, j. 1, h. 171


Al-Imâm an-Nasafi juga berkata:

إنا ثبتنا بالآية المحكمة التي لا تحتمل التأويل، وبالدلائل العقلية التي لا احتمال فيها أن تمكنه- سبحانه- في مكان مخصوص أو الأمكنة كلها محال

“Dengan dalil ayat muhkamât yang tidak mengandung makna takwil dan dengan berbagai argumen akal sehat yang tidak mengandung pemahaman melenceng kita tetapkan bahwa adanya Allah dengan memiliki tempat adalah sesuatu yang mustahil” Tabshirah al-Adillah, j. 1, h. 171 

  • Al-Imâm Abu al-Qasim Sulaiman ibn Nashir al-Anshari an-Naisaburi (w 512 H)
ثم نقول سبيل التوصل إلى درك المعلومات الأدلة دون الأوهام، ورُب أمر يتوصل العقل إلى ثبوته مع تقاعد الوهم عنه، وكيف يدرك العقل موجودًا يحاذي العرش مع استحالة أن يكون مِثْل العرش في القدر أو دونه أوأكبر منه، وهذا حكم كل مختص بجهة
“Kemudian kita katakan bahwa jalan untuk mendapatkan segala hakekat pengetahuan adalah didasarkan kepada argumen logis bukan dengen prasangka-prasangka. Sangat banyak perkara yang hanya dibenarkan oleh akal saja, walaupun menurut prasangka sesuatu tersebut tidak bisa diterima. Akal telah kita menetapkan bahwa tidak mungkin terdapat sesuatu di atas arsy sementara sesuatu tersebut tidak sama besar dengan arsy itu sendiri, atau lebih besar, atau lebih kecil darinya. Padahal tiga kemungkinan ini tidak
akan lepas dari sesuatu yang bertempat”
Syarh al-Irsyâd Ilâ Qawâthi’ al-Adillah, h. 58-59 (Manuskrip), lihat Sharîh al-Bayân, j. 1, h. 109


  • Asy-Syaikh Abu Nashr Abdurrahim ibn Abdil Karim yang dikenal dengan sebutan Ibn alQusyairi (w 514 H)

 فالرب إذًا موصوف بالعلو وفوقية الرتبة والعظمة منزه عن الكون في المكان

“Dengan demikian maka Dia Allah disifati dengan sifat al-‘Uluww dan Fawqiyyah arRutbah (tinggi derajat-Nya) serta sifat al-‘Azhamah, Dia Allah maha suci dari berada pada tempat” Ithaf as-Sadah al-Muttaqin, j. 2, h. 108
Al-Imâm al-Qâdlî asy-Syaikh Abul Walid Muhammad ibn Ahmad yang dikenal dengan sebutan Ibn Rusyd al-Maliki (w 520 H)

ليس- االله- في مكان، فقد كان قبل أن يخلق المكان 
“Allah ada tanpa tempat. Tempat adalah makhluk Allah. Dia ada tanpa permulaan sebelum menciptakan tempat” al-Madkhal; Fashl: Fi al-Isytighâl Bi al-‘Ilm Yawm al-Jum’ah, j. 2, h. 149

Pada halaman lain dalam kitab yang sama, Abul Walid Ibn Rusyd juga berkata:

  فلا يقال أين ولا كيف ولا متى لأنه خالق الزمان والمكان

“Dengan demikian tidak boleh dikatakan bagi Allah di manakah Ia? Atau bagaimanakah Ia? Atau kapankah adanya Ia? Karena Allah yang menciptakan tempat, tidak membutuhkan kepada tempat”
al-Madkhal; Fashl: Lihat pasal Nashâ-ih al-Murîd, j. 3, h. 181

Masih dalam kitab yang sama, Abul Walid Ibn Rusyd juga berkata:

إضافته- أي العرش- إلى االله تعالى إنما هو بمعنى التشريف له كما يقال: بيت االله وحرمه، لا أنه محل له
وموضع لاستقراره

“Adapun penyandaran nama Allah kepada arsy adalah dalam pengertian pemuliaan (attasyrîf) bagi arsy itu sendiri. Sebagaimana jika dikatakan “Baitullâh” (rumah Allah; yaitu ka’bah), atau “Haramullâh” (tanah haram Allah; yaitu Mekah dan Madinah), ini bukan dalam pengertian tempat Allah, tapi dalam pengertian pemuliaan bagi tempat tersebut” Fi al-Isytighâl Bi al-‘Ilm Yawm al-Jum’ah, j. 2, h. 149

  • Al-Qâdlî Abu Bakar ibn al-Arabi al-Maliki al-Andalusi (w 543 H) berkata:

 البارىء تعالى يتقدس عن أن يحَُدّ بالجهات أو تكتنفه الأقطار

“Allah Maha suci dari dibatasi oleh segala arah, atau diliputi oleh segala tempat” al-Qabas Fî Syarh Muwath’a Mâlik Ibn Anas, j. 1, h. 395

Al-Imâm al-Qâdlî Iyadl ibn Musa al-Yahshubi al-Maliki (w 544 H) dalam salah satu karyanya yang sangat terkenal; asy-Syifâ Bi Ta’rîf Huqûq al-Musthafâ, menuliskan sebagai berikut:

  اعلم أن ما وقع من إضافة الدنو والقرب هنا من االله او إلى االله فليس بدنو مكان ولا قُرب مدى، بل كما
ذكرنا عن جعفر بن محمد الصادق: ليس بدُنو حد

“Ketahuilah bahwa apapun yang dinisbatkan kepada Allah seperti ad-Dunuww (secara zhahir bermakna mendekat) atau al-Qurb (secara zhahir bermakna dekat), pengertiannya disini bukan dalam pengertian arah, tempat atau jarak. Tetapi yang dimaksud, seperti yang telah dinyatakan oleh al-Imâm Ja’far as-Shadiq, bahwa makna “dekat”-nya Rasulullah dengan Allah disini adalah dalam pengertian bahwa Rasulullah adalah seorang yang memiliki derajat yang sangat agung dan sangat mulia”

al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir juga berkata dalam mensucikan Allah dari arah dan tempat:

خَلَقَ السماءَ كما يشا * ء بلا دعائمَ مُسْتَقِلَّهْ
لا للتحيز كي تكو * نَ لذاته جهةً مُقِلَّهْ
ربٌّ على العرش استوى * قهرًا وينزلُ لا بنـُقْلَه

“Dia Allah yang telah menciptakan langit tanpa tiang-tiang tersendiri, langit-langit tersebut bukan untuk Dia jadikan tempat bagi Dzat-nya; sungguh Dia tidak dilingkupi oleh arah. sesungguhnya makna istiwâ’ Allah pada arsy adalah dalam pengertian menguasainya, dan pengertian nuzûl pada hak-Nya bukan dalam makna berpindah dari satu tempat ke tempat lain” "Lihat mukadimah Tabyîn Kadzib al-Muftarî

  • Salah seorang ulama tafsir terkemuka; al-Imâm Fakhruddin ar-Razi dalam kitab tafsirnya yang sangat penomenal; at-Tafsîr al-Kabîr, menuliskan sebagai berikut :

واعلم أن المشبهة احتجوا على إثبات المكان الله تعالى "أَأَمنتم من في السماء" أي أن اعتقاد أن االله في مكان فوق العرش أو غير ذلك من الأماكن هو اعتقاد المشبهة الذين قاسوا الخالق على المخلوق وهو قياس فاسد منشؤه الجهل واتباع الوهم

“Ketahuilah bahwa kaum Musyabbihah menetapkan bahwa Allah memiliki tempat, yaitu arah atas, dengan bersandarkan kepada firman Allah QS. Al-Mulk: 16. Mereka berkeyakinan bahwa Allah bertempat atau bersemayam di atas arsy, atau tempat lainnya yang berada di arah atas, yaitu langit. Sumber kebatilan mereka ini berasal dari karena mereka mengqiyaskan (menyerupakan) Allah dengan makhluk-Nya. Qiyas mereka semacam ini jelas rusak. Ini adalah qiyas yang didasarkan di atas kebodohan dan khayalan” " at-Tafsîr al-Kabîr, j. 30, h. 69


  • Asy-Syaikh al-Imâm Abdul Aziz ibn Abdis Salam (w 660 H) yang bergelar Sulthân al-‘Ulamâ’ berkata:
 ليس- أي االله- بجسم مصوَّر، ولا جوهر محدود مُقدَّر، ولا يشبه شيئا، ولا يُشبهه شىءٌ، ولا تحيط به الجهات، ولا تكتنفه الأرضون ولا السموات، كان قبل أن كوَّن المكان ودبَّر الزمان، وهو الآن على ما عليه
كان
“Dia Allah bukan benda besar (al-Jism) yang dapat dibayangkan, bukan pula benda kecil (al-Jawhar) yang memiliki batasan dan ukuran. Dia tidak menyerupai suatu apapun, dan tidak ada suatu apapun yang menyerupai-Nya. Dia tidak diluputi oleh segala arah, Dia tidak diangkat oleh semua lapisan bumi maupun semua lapisan langit, Dia ada (tanpa permulaan) sebelum Dia menciptakan tempat dan mengatur waktu, dan Dia sekarang (setelah menciptakan tempat) tidak berubah; tetap seperti sediakala pada sifat-Nya yang Azaliy; ada tanpa tempat”  Thabaqât asy-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, dalam biografi Abdul Aziz ibn Abdissalam, j. 8, h. 219

  • Al-Imâm al-Hâfizh Abu Zakariya Muhyiddin ibn Syaraf an-Nawawi asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 676 H) berkata: 

إن االله تعالى ليس كمثله شىء , منزه عن التجسيم والانتقال والتحيز في جهة وعن سائر صفات المخلوق
 
“Sesungguhnya Allah tidak menyerupai sesuatu apapun. Dia maha suci dari bentuk dan ukuran, maha suci dari sifat perpindahan, maha suci dari bertempat pada arah, dan maha suci dari segala sifat makhluk”

  • Al-Imâm al-‘Allâmah Zakariyya ibn Muhammad al-Anshari al-Qazwini (w 682 H)

التوحيد: أن يعلم أن االله واحد قديم، لم يزل ولا يزال، كان ولا مكان وهو الآن على ما عليه كان، عالم بعلم
أزلي، قادر بقدرة أزلية

“Defini Tauhid; adalah mengetahui bahwa Allah maha esa (tidak ada sekutu bagi-Nya), dan maha Qadim (tidak memiliki permulaan), Dia Azaliy (tidak bermula) dan abadi (tidak punah), Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia sekarang sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat, Dia maha mengetahui dengan ilmu-Nya yang azali, dan dia maha mengesuai dengan sifat kuasa-Nya yang azali”

Teolog terkemuka di kalangan Sufi, al-Imâm Ahmad ibn ‘Atha’illah al-Iskandari asy-Syadzili (w 709 H) dalam kitab karyanya yang sangat masyhur; al-Hikam, menuliskan sebagai berikut:
وصولك إلى االله وصولك إلى العلم به وإلا فجلَّ ربنا أن يتصل به شىء أو يتصل هو بشىء

 “Sampainya engkau kepada Allah adalah dengan telah sampainya engkau kepada mengetahui-Nya, maka sungguh Allah itu maha suci dari menempel sesuatu denganNya, atau menempelnya Dia dengan sesuatu”


  


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel