Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 3

Assalamualaikum...
Pada post sebelumnya 
Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 1 
Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 2 

Sudah di jelaskan dengan detail, pada postingan ini lanjutan dari Part 1 dan Part 2

Al-Hâfizh al-Imâm Muhammad ibn Hibban (w 354 H), penulis kitab hadits yang sangat mashur; Shahîh Ibn Hibbân, dalam pembukaan salah satu kitab karyanya menuliskan sebagai berikut:


الحمد الله الذي ليس له حد محدود فيحتوى، ولا له أجل معدود فيفنى، ولا يحيط به جوامع المكان ولا يشتمل عليه تواتر الزمان

“Segala puji bagi Allah, Dzat yang bukan merupakan benda yang memiliki ukuran. Dia tidak terikat oleh hitungan waktu maka Dia tidak punah. Dia tidak diliputi oleh semua arah dan tempat. Dan Dia tidak terikat oleh perubahan zaman”  at-Tsiqât, j. 1, h. 1


Dalam kitab yang lain Ibn Hibban menuliskan:

  كان- االله- ولا زمان ولا مكان
“Allah ada tanpa permulaan, Allah ada sebelum ada tempat dan waktu” Shahîh Ibn Hibbân, j. 8, h. 4

كذلك ينزل- يعني االله- بلا ءالة ولا تحرك ولا انتقال من مكان إلى مكان
“Sifat Nuzûl Allah bukan dengan alat, tidak dengan bergerak, dan bukan dalam pengertian berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain” " Shahîh Ibn Hibbân, j. 8, h. 4
Al-Imâm Abu al-Qasim al-Qusyairi berkata:
سمعت الإمام أبا بكر ابن فورك رحمه االله تعالى يقول سمعت أبا عثمان المغربي يقول: كنت أعتقد شيئًا من حديث الجهة فلما قدمت بغداد زال ذلك عن قلبي، فكتبت إلى أصحابنا بمكة إني أسلمت الآن إسلامًا
جديدًا
“Aku telah mendengar al-Imâm Abu Bakr ibn Furak berkata: Aku telah mendengar Abu Utsman al-Maghribi berkata: Aku pernah meyakini sedikit tetang hadits al-Jihah (hadits seakan menetapkan arah bagi Allah), maka ketika aku datang ke Baghdad itu semua telah hilang dari hatiku, lalu aku menulis kepada beberapa sahabat kami di Mekah bahwa aku sekarang telah memperbaharui Islam-ku” Ar Risalah al Qusyairiyyah, h. 5

Asy-Syaikh Abu Sulaiman Hamd ibn Muhammad al-Khatthabi (w 388 H), penulis kitab “Ma’âlim as-Sunan” berkata: 
وليس معنى قول المسلمين إن االله على العرش هو أنه تعالى مماس له أو متمكِّن فيه أو متحيّز في جهة من
جهاته، لكنه بائن من جميع خلقه، وإنما هو خبر جاء به التوقيف فقلنا به ونفينا عنه التكييف إذ } ليس كمثله
شىء وهو السميع البصير
“Perkataan orang-orang Islam “Allâh ‘Alâ al-‘Arsy” (yang dimaksud dalam mengutip firman Allah: ar-Rahmân ‘Alâ al-‘Arsy Istawâ, dan beberapa ayat lainnya); bukan dalam pengertian bahwa Allah menempel dengan arsy, atau bertempat di dalamnya, atau berada pada suatu arah dari beberapa arah arsy itu sendiri, tetapi Allah itu tidak menyerupai makhluk-Nya, penyebutan demikian itu hanya sebatas khabar di mana kita harus tawqîf (menahan diri), kita menetapkan itu (sebagaimana disebutkan dalam teks syari’at) tetapi kita meniadakan sifat-sifat benda dalam memahamainya, oleh karena Allah tidak menyerupai suatu apapun dari makhluk-Nya, Dia maha mendengar dan maha melihat (bukan dalam pengertian sifat-sifat benda)” A’lam al-Hadits; Kitab Bad’il Khalaq, Bab Fi Qoulihi Ta’ala: “Wa Huwa al-Ladzi Yabda’ul Khalq”

Al-Imâm al-Qâdlî Abu Bakar Muhammad al-Baqillani al-Maliki al-Asy’ari (w 403 H), seorang
ulama terkemuka di kalangan Ahlussunnah yang sangat giat menegakan akidah Asy’ariyyah dan memerangi akidah sesat, dalam kitab al-Inshâf menuliskan sebagai berikut:
ولا نقول إن العرش له- أي االله- قرار ولا مكان، لأن االله تعالى كان ولا مكان، فلما خلق المكان لم يتغير
عما كان
“Kita tidak mengatakan bahwa arsy adalah tempat bersemayam Allah. Karena Allah Azaliy; ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah Dia menciptakan tempat ia tidak berubah (karena perubahan adalah tanpa makhluk)” al-Inshâf Fîmâ Yajib I’tiqâduh Wa Lâ Yajûz al-Jahl Bih, h. 65

Al-Imâm asy-Syaikh Abu ath-Thayyib Sahl ibn Muhammad asy-Syafi’i (w 404 H), seorang mufti wilayah Nisafur pada masanya berkata:
سمعت الشيخ أبا الطيب الصعلوكي يقول: "ُتضامّون" بضم أوله وتشديد الميم يريد لا تجتمعون لرؤيته-    تعالى- في جهة ولا ينضم بعضكم إلى بعض فإنه لا يرى في جهة
“Saya telah mendengar asy-Syaikh Abu at-Thayyib as-Sha’luki berkata dalam menerangkan hadits tentang Ru’yatullâh (melihat Allah bagi orang-orang mukmin). Dalam hadits tersebut terdapat kata “Lâ Tudlammûn”, al-Imâm as-Sha’luki mengartikannya bahwa kelak orang-orang mukmin di surga akan melihat Allah tanpa tempat dan tanpa arah, mereka ketika itu tidak saling berdesakan satu sama lainnya.
Orang-orang mukmin tersebut berada di dalam surga, namun Allah tidak dikatakan di dalam atau di luar surga. Karena Allah bukan benda, Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah” 
Al-Imâm Abu Bakar Muhammad ibn al-Hasan al-Asy’ari yang dikenal dengan Ibn Furak (w 406 H), salah seorag teolog terkemuka di kalangan Ahlussunnah, menuliskan sebagai berikut:
  لا يجوز على االله تعالى الحلول في الأماكن لاستحالة كونه محدودا ومتناهيا وذلك لاستحالة كونه محدثا  
  
“Tidak boleh dikatakan bahwa Allah menyatu di seluruh tempat, karena mustahil Allah sebagai benda yang memiliki batasan, ukuran dan penghabisan. Hal itu karena Allah bukan sesuatu yang baharu seperti makhluk” Musykil al-Hadîts, h. 57

Al-Imâm Ibn Furak juga mengatakan:
واعلم أنا إذا قلنا إن االله عز وجل فوق ما خلق لم يرجع به إلى فوقية المكان والارتفاع على الأمكنة بالمسافة والإشراف عليها بالمماسة لشىء منها
“Ketahuilah bahwa jika kita katakan Allah berada di atas segala sesuatu, pengertian “di atas” dalam hal ini bukan dalam pengertian arah dan tempat dengan adanya jarak antara para makhluk dengan-Nya, atau bahwa Dia menempel di arah atas dengan makhluk-Nya tersebut. (Namun yang dimaksud adalah ketinggian derajat dan keagungan-Nya)” Musykil al-Hadîts, h. 57

Ahli sastra dan ahli nahwu terkemuka (Al-Adîb an-Nahwiy); Abu Ali al-Marzuqi (w 421 H)
berkata:
 االله تعالى لا تحويه الأماكن ولا تحيط به الأقطار والجوانب
 “Allah tidak diliputi oleh segala tempat, dan tidak dikelilingi oleh segala penjuru dan sisi-sisi” 
Abu Muhammad Ali Ibn Ahmad yang dikenal dengan nama Ibn Hazm al-Andalusi (w 456 H), orang yang telah mendapat banyak kritik dari para ulama karena beberapa pernyataan ekstrimnya dalam karyanya berjudul Kitâb ‘Ilm al-Kalâm, dalam pembahasan penafian tempat dari Allah menuliskan sebagai berikut:
;وأنه تعالى لا في مكان ولا في زمان، بل هو تعالى خالق الأزمنة والأمكنة، قال تعالى:  وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فـَقَدَّرَهُ تـَقْدِيراً سورة الفرقان/ ،(2وقال )قَ السَّمَاوَاتِ وَالأَْرْضَ وَمَا بـَيـْنـَهُمَا سورة الفرقان/ ،  59والزمان والمكان هما مخلوقان، قد كان تعالى والمكان إنما هو للأجسا
“Sesungguhnya Allah ada tanpa tempat dan tanpa waktu. Dialah yang menciptakan segala tempat dan waktu. Allah berfirman: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan menentukannya akan ketentuan”. (QS al-Furqan: 2). Dan berfirman: “Dia Pencipta semua langit dan bumi dan segala apa yang di antara keduanya”. (QS. al-Furqan: 59). Tempat dan arah adalah makhluk Allah. Dia ada sebelum menciptakan keduanya. Tempat itu hanya berlaku bagi segala benda”  Kitâb ‘Ilm al-Kalâm, h. 65

al-Imâm al-Hâfizh Abu Bakr Ahmad ibn al-Husain al-Bayhaqi (w 458 H) dalam kitab as-Sunan al-Kubrâ menuliskan sebagai berikut:
والذي روي في ءاخر هذا الحديث ]أي حديث :"والذي نفسُ محمد بيده لو أنكم دليتم أحدكم بحبل إلى
الأرض السابعة لهبط على االله تبارك وتعالى" وهو حديث ضعيف[ إشارة إلى نفي المكان عن االله تعالى، وأن العبد أينما كان فهو في القرب والبعد من االله تعالى سواء، وأنه الظاهر فيصح إدراكه بالأدلة، الباطن فلا يصح إدراكه بالكون في مكان. واستدل بعض أصحابنا في نفي المكان عنه بقول النبي صلى االله عليه وسلم: "أنت الظاهر فليس فوقك شىء، وأنت الباطن فليس دونك شىء"، وإذا لم يكن فوقه شىء ولا دونه شىء لم يكن في مكان
“Dan apa yang diriwayatkan dalam akhir hadits ini merupakan isyarat kepada peniadaan tempat bagi Allah, dan sesungguhnya para hamba pada dekat dan jauhnya bagi Allah sama saja, Dia Allah az-Zhâhir; artinya bahwa adanya Allah dapat diketahui dengan adanya bukti-bukti, dan Dia Allah al-Bâthin; artinya bahwa Allah tidak benar dapat diraih dengan menetapkan tempat bagi-Nya. Sebagian sahabat kami dalam meniadakan tempat dari Allah mengambil dalil dengan sabda Rasulullah: “Engkau Ya Allah az-Zhâhir tidak ada sesuatu apapun di atas-Mu, dan Engkau Ya Allah al-Bâthin yang tidak ada sesuatu apapun di bawah-Mu”, ketika disebutkan bahwa tidak ada sesuatu apapun di atas-Nya dan tidak ada sesuatu apapun di bawah-Nya itu artinya bahwa Allah ada tanpa tempat” " Al-Asma’ Wa ash-Shifat, h. 400

Ahli fiqih terkemuka; al-Imâm Abu Ishaq asy-Syirazi asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 476 H) dalam akidah yang beliau tuliskan berkata:
وإن استواءه ليس باستقرار ولا ملاصقة لأن الاستقرار والملاصقة صفة الأجسام المخلوقة، والرب عز وجل قديم أزلي، فدل على أنه كان ولا مكان ثم خلق المكان وهو على ما عليه
“Dan sesungguhnya istiwâ’ Allah bukan dalam pengertian bertempat (bersemayam) menempel, karena bertempat dan menempel adalah sifat segala benda yang merupakan makhluk, sementara Allah maha Qadîm dan Azaliy (tidak bermula), dengan demikian itu menunjukan bahwa Allah ada pada azal tanpa tempat, dan setelah Dia menciptakan tempat maka Dia sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat (karena Allah tidak berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain)” " Aqidah asy-Syirazi dalam Muqaddimah Kitab Syarh al-Luma’, j. 1, h. 101
Imam al-Haramain Abul Ma’ali Abdul Malik ibn Abdullah al-Juwaini (w 478 H), salah seorang guru terkemuka al-Imâm al-Ghazali, dalam kitab karyanya berjudul al-Irsyâd Ilâ Qawâthi’ al-Adillah menuliskan sebagai berikut :
  البارىء سبحانه وتعالى قائم بنفسه، متعال عن الافتقار إلى محل يحله أو مكان يقله
“Ketahuilah bahwa di antara sifat Allah adalah Qiyâmuh Bi Nafsih; artinya Allah tidak membutuhkan kepada suatu apapun dari makhluk-Nya. Karenanya Dia Maha Suci dari membutuhkan kepada tempat untuk Ia tempatinya” al-Irsyâd Ilâ Qawâthi’ al-Adillah, h. 53

Pada halaman lain dalam kitab yang sama Imam al-Haramain menuliskan: 
مذهب أهل الحق قاطبة أن االله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيز والتخصص بالجهات
“Madzhab seluruh Ahlul Haq telah menetapkan bahwa Allah maha suci dari tempat dan maha suci dari berada pada arah” 
al-Imâm Abu Sa’id al-Mutawalli asy-Syafi’i (w 478 H), salah seorang ulama Ahlussunnah terkemuka dalam bidang teologi dan dalam fiqih madzhab Syafi’i berada dalam tingkatan Ash-hâb al-Wujûh; satu tingkat di bawah seorang ulama mujtahid mutlak, dalam karyanya berjudul al-Ghunyah Fî Ushûliddîn menuliskan sebagai berikut:
ثبت بالدليل أنه لا يجوز أن يوصف ذاته- تعالى- بالحوادث، ولأن الجوهر متحيز، والحق تعالى لا يجوز أن يكون متحيز
“Telah ditetapkan dengan berbagai argumen bahwa Dzat Allah tidak boleh disifati dengan sifat-sifat makhluk. Sesungguhnya setiap benda itu memiliki arah dan tempat. Sementara Allah bukan benda, karenanya Dia ada tanpa tempat dan tanpa arah” " al-Ghunyah Fî Ushuliddîn, h. 83

Jika anda orang yang berakal, dengan penjelasan ulama - ulama yang telah saya paparkan di atas tentu membuat anda berfikir seribu kali untuk mengatakan Allah di atas Arsy
jika masih belum mantap.. silahkan baca lagi postingan selanjutnya...!!!
 

 


  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel