Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 2

Assalamualaikum...

Lanjutan dari post sebelumnya.

Semua ulama Islam telah sepakat (ijma’), dari semenjak masa sahabat nabi hingga sekarang ini bahwa dua keyakinan tersebut di atas adalah keyakinan kufur. Sesungguhnya semua orang Islam tahu dan meyakini secara pasti, bahkan seorang yang awam sekalipun; bahwa neraka dengan siksaan di dalamnya kekal tanpa penghabisan, Allah berkehendak bagi neraka untuk tidak punah. 


Juga semua orang Islam tahu dan meyakini secara pasti bahwa alam ini (segala sesuatu selain Allah) adalah baharu, baik jenis maupun materinya; semua itu diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada. Keyakinan ini diwarisi oleh setiap orang muslim berakidah lurus dari masa ke masa, antar generasi ke generai; kecuali mereka yang hatinya gelap gulita disesatkan oleh Allah hingga mereka mengikuti ajaran setan

  • Al-Imâm al-Mujtahid Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, berkata:
إنّهُ تـَعَالىَ كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيَّةِ كَمَا كَانَ قـَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يجَُوْزُ عَلَيْهِ
التـَّغْيِيـْرُ فيِ ذَاتهِ وَلاَ التّبْدِيْلُ فيِ صِفَات

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, lalu Dia menciptakan tempat dan Dia tetap pada sifat-Nya yang Azaliy ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. tidak boleh bagi-Nya berubah pada Dzat-Nya, atau berubah pada sifat-sifat-Nya” Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn, j. 2, h. 24

  • Al-Imâm al-Mujtahid Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid, mensucikan Allah dari tempat dan arah, bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzîh. Dalam pada ini asy-Syaik Ibn Hajar al-Haitami menuliskan:

وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم من أنه قائل بشىء سن الجهة أو نحوها فكذب
وافتراء علي

“Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menyandarkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau (Ahmad ibn Hanbal) telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya”  

Keyakinan Allah ada tanpa arah dan tempat juga menjadi keyakinan kiblat kitab Hadits yaitu Imam Bukhori. Para ulama yang datang sesudah beliau yang menuliskan penjelasan bagi kitabnya tersebut menyebutkan bahwa al-Imâm al-Bukhari adalah seorang ahli tauhid, mensucikan Allah dari tempat dan arah. Salah seorang penulis Syarh Shahîh al-Bukhâri; asy-Syaikh Ali ibn Khalaf al-Maliki yang dikenal dengan Ibn Baththal (w 449 H) menuliskan sebagai berikut:

غرض البخاري في هذا الباب الرد على الجهمية المجسمة في تعلقها بهذه الظواهر، وقد تقرر أن االله ليس بجسم فلا يحتاج إلى مكان يستقر فيه، فقد كان ولا مكان، وانما أضاف المعارج إليه إضافة تشريف، ومعنى الارتفاع إليه اعتلاؤه- أي تعاليه- مع تنزيهه عن المكان

“Tujuan al-Bukhari dalam membuat bab ini adalah untuk membantah kaum Jahmiyyah Mujassimah, di mana kaum tersebut adalah kaum yang hanya berpegang teguh kepada zahir-zahir nash. Padahal telah ditetapkan bahwa Allah bukan benda, Dia tidak membutuhkan kepada tempat dan arah. Dia Ada tanpa permulaan dan tanpa arah dan tanpa tempat. Adapun penisbatan “al-Mâ’arij” (yang secara zhahir bermakna naik) adalah penisbatan dalam makna pemuliaan (bukan dalam makna Allah di arah atas). Juga makna “al-Irtifâ’ (yang secara zahir bermakna naik) adalah dalam makna bahwa Allah maha suci dari tempat” Fath al-Bâri, j. 13, h. 416

  • Al-Hâfizh al-Faqîh al-Imâm Abu Ja’far Ahmad ibn Salamah ath-Thahawi al-Hanafi (w 321 H)
dalam risalah akidah Ahlussunnah yang dikenal dengan Risâlah al-Aqîdah ath-Thahâwiyyah berkata:

وتعالى- أي االله- عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات، لا تحويه الجهات الست كسائر
المبتدعات
“Dia Allah maha suci dari batasan-batasan, segala penghabisan, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti kepada tangan, kaki dan lainnya), anggota badan kecil (seperti jari-jari, anak lidah dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh arah yang enam (atas, bawah, depan, belakang, samping kanan dan samping kiri). Tidak seperti makhluk-makhluk-Nya yang diliputi oleh arah yang enam tersebut” 

  • Pimpinan Ahlussunnah Wal Jama’ah al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari (w 324 H) mengatakan sebagai berikut:

كان االله ولا مكان فخلق العرش والكرسي ولم يحتج إلى مكان، وهو بعد خلق المكان كما كان قبل خلقه
  
“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Kemudian Dia menciptakan arsy dan Dia tidak membutuhkan kepada tempat. Setelah Dia menciptakan tempat Dia ada seperti sedikala sebelum ada makhluk-Nya ada tanpa tempat”  Tabyîn Kadzib al-Muftarî, h. 150

al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari juga berkata:

فأما الحركة والسكون والكلام فيهما فأصلهما موجودٌ في القرءان وهما يدلان على التوحيد، وكذلك الاجتماع والافتراق، قال االله تعالى مخبرًا عن خليله إبراهيم صلواتُ االله عليه وسلامُه ـ }فلمَّا أفلَ قال لا أحبّ الآفلين{ سورة الأنعام/ [76ـ في قِصّةِ أفولِ الكوكب والشمس والقمر وتحريكها من مكان إلى مكان ما دَلَّ على أن ربَّه عز وجل لا يجوز عليه شىء من ذلك، وأن من جاز عليه الأفولُ والانتقال من مكان إلى مكان فليس بإله

“Adapun masalah gerak dan diam; pembicaraan dalam masalah keduanya dan dasarnya telah ada di dalam al-Qur’an, dan itu dapat menunjukan kepada pelajaran tauhid. Demikian pula masalah berkumpul (al-Ijtimâ’) dan berpisah (al-Iftirâq), -telah ada-. Dalam al-Qur’an Allah berfirman dalam memberitakan keadaan nabi Ibrahim:  فلمَّا أفلَ قال لا أحبّ الآفلين

“Ketika menghilang (matahari, bulan dan bintang) berkatalah nabi Ibrahim; Sungguh aku tidak menyenangi yang hilang”. (QS. Al-An’am: 76).
Ayat ini dalam kisah hilangnya bintang, matahari dan bulan, dan bahwa itu semua bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, ini menunjukan bahwa Tuhan (yang menciptakan itu semua) tidak boleh bagi-Nya memiliki sifat-sifat yang seperti demikian itu, oleh karena sesuatu yang boleh hilang dan berpindang dari satu tempat ke tempat yang lain bukan sebagai tuhan”  Risalah Istihsan al Khoudl Fi ‘Ilm al Kalam, h. 40

  • Imam Ahlussunnah Wal Jama’ah, al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi (w 333 H) dalam karyanya Kitâb at-Tauhîd menuliskan:

إن االله سبحانه كان ولا مكان، وجائز ارتفاع الأمكنة وبقاؤه على ما كان، فهو على ما كان، وكان على ما
عليه الان، جل عن التغير والزوال والاستحالة

“Sesungguhnya Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Tampat adalah makhluk memiliki permulaan dan bisa diterima oleh akal jika ia memiliki penghabisan. Namun Allah ada tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, Dia ada sebelum ada tempat, dan Dia sekarang setelah menciptakan tempat Dia tetap ada tanpa tempat. Dia maha suci (artinya mustahil) dari adanya perubahan, habis, atau berpindah dari satu keadaan kepada keadaan lain” " Kitâb at-Tauhîd, h. 69

Al-Imâm Muhammad ibn Muhammad yang dikenal dengan nama Abu Manshur al-Maturidi
adalah salah seorang salaf terkemuka di kalangan Ahlussunnah, bahkan merupakan pimpinan
bagi kaum ini. Dikenal sebagai seorang yang teguh membela akidah Rasulullah, 

beliau adalah salah seorang ulama Salaf yang telah memberikan kontribusi besar dalam membukukan akidah Ahlussunnah. Dalam metode penjelasan akidah tersebut beliau atukan antara dalildalil naqliyy (al-Qur’an dan hadits) dengan argumen-erguman rasional. 

Ditambah dengan bantahan-bantahan terhadap berbagai kesesatan dari kelompok-kelompok di luar Ahlussunnah, seperti Mu’tazilah, Musyabbihah, Khwarij dan lainnya. Kegigihan beliau dalam membela akidah Ahlussunnah dan menghidupkan syari’at menjadikan beliau sebagai kampium hingga digelari dengan Imam Ahlussunnah.

Masih dalam kitab karyanya di atas, al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi juga menuliskan sebagai berikut: 
فإن قيل :كيف يرى؟ قيل: بلا كيف، إذ الكيفية تكون لذي صورة، بل يرى بلا وصف قيام وقعود واتكاء
وتعلق، واتصال وانفصال، ومقابلة ومدابرة، وقصير وطويل، ونور وظلمة، وساكن ومتحرك، ومماس ومباين، وخارج وداخل، ولا معنى يـأخذه الوهم أو يقدره العقل لتعاليه عن ذلك

“Jika ada yang berkata: Bagaimanakah Allah nanti dilihat? Jawab: Dia dilihat dengan tanpa sifat-sifat benda (Kayfiyyah). Karena Kayfiyyah itu hanya terjadi pada sesuatu yang memiliki bentuk. Allah dilihat bukan dalam sifat berdiri, duduk, bersandar atau bergantung. Tanpa adanya sifat menempel, terpisah, berhadap-hadapan, atau membelakangi. Tanpa pada sifat pendek, panjang, sinar, gelap, diam, gerak, dekat, jauh, di luar atau di dalam. Hal ini tidak boleh dikhayalkan dengan prakiraan-prakiraan atau dipikirkan oleh akal, karena Allah maha suci dari itu semua” Kitâb at-Tauhîd, h. 69

Tulisan al-Imâm al-Maturidi ini sangat jelas dalam mensucikan Allah dari arah dan tempat. Perkataan beliau ini sekaligus dapat kita jadikan bantahan terhadap kaum Mujassimah, termasuk kaum Wahhabiyyah sekarang; yang mengatakan bahwa para ulama Salaf telah menetapkan adanya arah bagi Allah. Kita katakan: al-Maturidi adalah salah seorang ulama Salaf, ia dengan sangat jelas telah menafikan apa yang kalian yakini.


  

 
 

  

 


  

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel