Keyakinan Sahabat dan Jumhur Ulama Tentang Allah Ada Tanpa Tempat - Part 1

Assalamualaikum...

Para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dari kalangan Asy’ariyyah dan Maturidiyyah yang telah menyebar di berbagai pelosok dunia, dari semenjak sekitar 1200 tahun yang lalu hingga sekarang; jumlah mereka sangat banyak, tidak ada mengetahui jumlah mereka secara pasti kecuali Allah. Seandainya kita berkeinginan melakukan sensus terhadap mereka dengan berbagai kelompok disiplin ilmu mereka masing-masing; akidah, fiqh, tafsir, hadits, dan lainnya;


maka kita akan membutuhkan kepada berjilid-jilid kertas untuk mencatakan mereka semua. Seandainya benar apa yang dikatakan oleh kaum Wahabi bahwa siapapaun orang yang bermadzhab Asy’ari atau Maturidi dalam akidahnya sebagai orang sesat maka berarti telah terputus mata rantai (sanad) kebenaran ajaran Islam ini antara kita dan para ulama Salaf dari kalangan sahabat Rasulullah. 

Padahal ajaran Wahabi baru berkembang sekitar 200 tahu ke belakang. Lalu apakah mereka yang benar, sementara para ulama Ahlussunnah sebelum kemunculan mereka hingga masa sahabat Rasulullah yang notabene kaum Asy’ariyyah atau Maturidiyyah sebagai orang-orang sesat?? Na’ûdzu billâh.

dan berikut ini penjelasan tentang Allah ada tanpa tempat dan arah dari zaman sahabat

Seorang sahabat Rasulullah yang sangat agung, al-Khalîfah ar-Râsyid, al-Imâm Ali ibn Abi
Thalib (w 40 H) berkata:

كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَانَ، وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَلَيْه كَانَ


“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang Azaliy; ada tanpa tempat”  Abu Manshur al-Baghdadi, al-Farq Bayn al Firaq, h. 333


Beliau juga berkata:

إنّ االلهَ تـَعَالىَ خَلَقَ الْعَرْشَ إظْهَارًا لِقُدْرَتهِ لاَ مَكَانًا لِذَاتِه

“Sesungguhnya Allah menciptakan arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” Abu Manshur al-Baghdadi, al-Farq Bayn al Firaq, h. 333

dan Beliau juga berkata: 


مَنْ زَعَمَ أنّ إلهََنَا محَْدُوْدٌ (الْمَحْدُوْدُ هُوَ مَا كَانَ لَهُ حَجْمٌ صَغِيـْرًا أوْ كَبِيـْرًا)  فـَقَدْ جَهِلَ الخَْالِقَ الْمَعْبـُوْد

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan kita (Allah) memiliki bentuk dan ukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” Abu Nu’aim, Hilyah al-Awliyâ’, j. 1, h. 73 dalam benyebutan biografi Ali ibn Abi Thalib.

Seorang tabi’in yang agung, al-Imâm as-Sajjâd Zainal ‘Abidin; Ali ibn al-Husain ibn Ali ibn Abi
Thalib (w 94 H) berkata:

أنْتَ االلهُ الّذِيْ لاَ يحَْويْكَ مَكَانٌ

“Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” Muhammad Murtadla az-Zabidi, Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn, j. 4, h. 380

Al-Imâm Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal Abidin Ali ibn al-Husain (w
148 H) berkata:

;مَنْ زَعَمَ أنّ االلهَ فيِ شَىءٍ، أوْ مِنْ شَىءٍ، أوْ عَلَى شَىءٍ فـَقَدْ أشْرَكَ . إذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَىءٍ لَكَانَ محَْمُوْلاً، وَلَوْ كَانَ فيِ شَىءٍ لَكَانَ محَْصُوْرًا، وَلَوْ كَانَ مِنْ شَىءٍ لَكَانَ محدَثًا )أي مخَْلُوْقًا

“Barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu (makhluk)” al-Qusyairi, ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, h. 6. Al-Imâm Ja’far ash Shadiq adalah Imam terkemuka dalam fiqih,
ilmu, dan keutamaan. Lihat ats Tsiqat, Ibn Hibban, j. 6, h. 131

Al-Imâm al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama
Salaf terkemuka perintis madzhab Hanafi, berkata: 

 وَاالله تـَعَالىَ يـُرَى فيِ الآخِ رَة، ويـَرَاهُ الْمُؤْمِنـُوْنَ وَهُمْ فيِ الجَْنّةِ بِأعْينُِ رُؤُوْسِ هِمْ بِلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَكَمِّيّة، وَلاَ يَكُوْنُ بَينَهُ وَبـَينَْ خَلْقِهِ مَسَافَة


“Allah di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)” al-Fiqh al-Akbar karya al-Imâm Abu Hanifah dengan penjelasannya karya Mulla Ali al-Qari, h. 136-137

Beliau juga berkata dalam kitabnya al-Washiyyah:

وَلِقَاءُ االلهِ تـَعَالىَ لأهْلِ الجَْنّةِ بِلا كَيْفٍ وَلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ جِ هَةٍ حَق

“Penduduk surga kelak akan melihat Allah dengan tanpa adanya keserupaan dan tanpa adanya arah bagi-Nya. Dan ini adalah suatu yang haq” al-Washiyyah karya al-Imâm Abu Hanifah, h. 4. Perkataannya ini juga dikutip oleh Mulla Ali al-Qaridalam Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 138

Perkataan al-Imâm Abu Hanifah ini adalah ungkapan yang sangat jelas dalam bantahan
terhadap pendapat kaum Musyabbihah dan kaum Mujassimah, termasuk kelompok yang
bernama Wahhabiyyah sekarang; mereka yang mengaku sebagai kelompok Salafi. 

Kita katakan kepada mereka: Para ulama Salaf telah sepakat mengatakan bahwa Allah ada tanpa
tempat dan tanpa arah. Salah satunya adalah al-Imâm Abu Hanifah yang merupakan salah seorang terkemuka di kalangan mereka. Beliau telah mendapatkan pelajaran dari para ulama
tabi’in, dan para ulama tabi’in tersebut telah mengambil pelajaran dari para sahabat
Rasulullah. Saudaraku, hafalkanlah perkataan al-Imâm Abu Hanifah ini, sangat penting untuk
membantah akidah sesat orang-orang Wahabi yang mengaku berakidah Salaf.

Tanpa harus dihitung sekalipun, sesungguhnya mayoritas pengikut al-Imâm Abu
Hanifah; artinya mereka yang bermadzhab Hanafi, di manapun berada; di Lebanon, Siria,
Turki, Indonesia, India, dan lainnya mereka semua di atas satu keyakinan suci; ialah
mensucikan Allah dari menyerupai segala makhluk-Nya, mensucikan Allah dari tempat dan
arah, kecuali beberapa orang saja yang berakidah rusak karena berakidah tajsîm sebab terseret
ajaran sesat Wahabi dan terlenakan oleh gemerlapnya dunia, atau mereka yang terkena faham
sesat Ibn Taimiyah, seperti salah seorang yang mengaku bermadzhab Hanafi, bernama Ibn
Abil ‘Izz. 

Orang yang disebut terakhir ini menulis buku sebagai penjelasan (syarh) terhadap Risâlah al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah karya al-Imâm Abu Ja’far ath-Thahawi, namun isinya berisi
faham-faham tajsîm ala Ibn Taimiyah yang sangat menyesatkan. Benar, Ibn Abil ‘Izz ini
laksana bayangan Ibn Taimiyah, semua ajaran sesat Ibn Taimiyah setiap jengkalnya ia ikuti
dan ia tuangkan dalam bukunya itu, di antaranya ia mengatakan dan menguatkan pendapat
Ibn Taimiyah bahwa neraka akan punah, -yang juga ini merupakan keyakinan kaum Wahhabi
sekarang-. Na’ûdzu billâh

Ini artinya menurut Ibn Taimiyah, Ibn Abil ‘Izz, dan orang-orang Wahabi; bahwa siksa neraka terhadap orang-orang kafir, orang-orang musyrik, para penyembah berhala, orang yang telah memerangi ajaran Allah dan membunuh para nabi-Nya akan habis, dan mereka semua akan keluar dari naraka. Keyakinan semacam ini jelas mendustakan ayat-ayat al-Qur’an, di antaranya firman Allah dalam QS. Fathir: 36: “La Yukhaffafu ‘Anhum Min ‘Adzâbiha” (Tidak diringankan bagi mereka -orang-orang kafirsedikitpn dari siksaan neraka). Termasuk kesesatan Ibn Taimiyah yang diikuti oleh Ibn Abil ‘Izz adalah perkataannya bahwa jenis alam ini tidak memiliki permulaan (azali bersama

Lanjut ke postingan selanjutnya...!!! 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel