Definisi Bid'ah Menurut Jumhur Ulama Salaf Part 1

Assalamualaikum...

Bukan hal yang mudah gampang mengucapkan bid'ah pada suatu Hukum terlebih cap Bid'ah tersebut dituju untuk kalangan mayoritas umat muslim...




Slogan kembali kepada al-qur’an dan sunnah yang mereka kaum salafy wahabi selalu kumandangkan di setiap majlis-majlisnya membuat orang-orang awam mempunyai maindseat kalau kajian yang mereka bawa adalah kajian terindah dan paling mulia.

Padahal kalau kita amati secara logika pun dari dulu sampai sekarang kita umat muslim ahlussunah wal jama’ah selalu memakai al-qur’an dan hadits sebagai landasan Hukum kita
Hanya saja karena para ulama wahhabi mungkin sudah mencapai derajat imam mujtahid, maka mereka mengesampingkan adanya imam mujtahid yang 4 yang mana mana dari salah satu ke empat imam itu menjadi madzhab kita

Baiklah, untuk pembahasan kali ini saya akan menguraikan makna hadits kullu bid’ah. Definisi bid’ah yang sebenarnya menurut jumhur ulama,
كل بدعة ضلالة و كل ضلالة فى النار
“Dan setiap Bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat masuk neraka” (H.R Abu Dawud dan Turmudzi)
Satu dari puluhan hadis shohih yang mengingatkan betapa bahayanya Bid’ah
Arti bid’ah dalam bahasa arab
1.       Kamus al-muhith, karangan syirazi juz 3 hal 3
“sesuatu barang yang pertama adanya”
2.       Mukhtarus shihah, karangan Ar-Razi, hal 379\
Mengadakan sesuatu tidak pada contohnya
3.       Al-mu’tamad halaman 28
“di ciptakan tanpa contoh”
4.       Munjid halaman 27
“menciptakan dan membuat sesuatu tanpa contoh yang terdahulu”

Lantas apa memang benar semua hal yang baru itu sesat dan masuk neraka? Kalau kita menelan mentah mentah hadis di atas maka yg trjadi adalah semua manusia akan masuk dalam kesesatan,sebab dalam realitasnya mereka selalu di liputi dalam bid’ah. Mulai dari berpakaian,kendaraan, gadget dll. Semuanya tidak ada pada zaman rosulullah,

Untuk menyelesaikan masalah tersebut, dalam ilmu ushul fiqh terdapat istilah ‘am makhshus atau yang menunjukan pengertian umum yg d khususkan. Dan harus di perlukan konteks matan lain yang sama bersumber dari hadis nabi yang shohih. Yaitu

“ siapa saja yang mengadakan sebuah bid’ah dlolalah (sesat), yang tidak di ridloi Allah dan RasulNya, maka dia mendapatkan dosa sebanyak dosa orang yang mengamalkan tanpa sedikitpun mmengurangi dosa dosa mereka” (sunan Turmudzi juz 1 hal 26)

Dalam hadis tersebut di temukan adanya konteks “bid’ah dlolalah” yang memberikan suatu pemahaman bahwa bid’ah itu ada yg sesat ada pula yg tdak sesat. Karena kalau semua bid’ah sesat, tentu nabi saw akan bersabda “siapa saja yang mengadakan bid’ah” tanpa di idlofahkan pada kalimat “dlolalah “


 Apakah kullun bisa di artikan semua?
Tak perlu saya memakai hujjah dengan ilmu gramatikal arab,walaupun dalam ilmu gramatikal arab arti kullun dan konteks hadis ttg “semua bid’ah sesat” dapat terbantahkan. Karena percuma kalian tidak mengerti apa itu nahwu shorof dan mungkin selamanya kalian tidak akan mau mempelajari ilmu nahwu-shorof.

Apakah kullun selalu di artikan semua? Padahal dalam Al-Qur’an Al karim sendiri sangat banyak banyak sekali lafadz kullun yg pda kenyataannya tidak diberarti “semua”

1.       Dalam surat al-anbiya ayat 30
“dan kami jadikan “segala sesuatu” yang hidup itu dari air”

Kata “kulla sya’in” pada ayat ini mengindikasikan bahwa semua di ciptakan dari air? Manusia? Jin?  Apakah benar manusia dan jin di ciptakan dari air? Tidak..
Surat ar-rahman ayat 15. “ dan Allah menciptakan Jin dari percikan api yg menyala”
2.     Dalam surat al-Kahfi ayat 79
“karena di hadapannya mereka ada seoarang raja yg merampas tiap tiap perahu”
Dalam ayat ini terdapat kalimat “semua peraehu” (كل سفينة) tapi kenyataannya pada kisah ini tidak semua perahu itu di rampas. Cerita ttg nabi Khidzir. Dan sebagian kaum salafy wahabi tidak mengakui adanya nabi khidir yang masih hidup. Ya sudah, tidak apa2.

Dua contoh dalam surat di atas saya rasa sudah lebih dari cukup. Kalau anda membantah satu ayat saja berarti anda tidak ada bedanya dengan kaum kuffar.
Proses berfikir yg seperti itu merupakan jasa para ulama ahli mantiq, jika tidak ada ilmu2 cabang dalam islam seperti nahwu-shorof.bayan.mantiq dsb. Maka akan tersesatlah kita dalam memahami suatu ayat atau hadits.

Lantas kalian akan berkata : yang kita ikuti itu nabi,bukan kyai atau ulama2 yg anda sebutkan tadi.
Menanggapi betapa kerasnya sifat kalian. Tolong ajarkan kepada saya cara2 beribadah kita setiap hari sesuai dengan Al-qur’an dan hadits TANPA mengambil dari hasil ijtihad ulama. Kalau anda bisa mengajarkan kpd saya, DEMI ALLAH saya akan berhenti menulis dan ikut serta bersama kawan2 mengeluarkan hujjah dari guru2 kami…

 

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Definisi Bid'ah Menurut Jumhur Ulama Salaf Part 1"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel