Defenisi Ibadah Berdasarkan Pemahaman Al-Qur'an

Assalamualaikum..

Pada postingan ini untuk mentaukidi pada postingan sebelumnya tentang tauhid rububyyah dan uluhiyah, karena dalam memahami konsep tauhid kita harus tau dulu esensi ibadah itu sendiri

Ibadah ialah ketundukan kata-kata dan perbuatan, yang bersumber dari keyakinan adanya sifat
uluhiyyah atau sifat rububiyyah pada diri sesuatu yang di-ibadahi, atau keyakinan bahwa sesuatu
itu merdeka didalam perbuat annya, atau memiliki kekuasaan atas salah satu segi dari
kehidupannya secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah.


Maka seluruh perbuatan yang disertai dengan keyakinan ini terhitung sebagai perbuatan syirik
kepada Allah. Oleh karena itu, kita menemukan orang-orang musyrik jahiliyyah meyakini bahwa
sesembahan-sesembahan mereka memiliki sifat-sifat ketuhanan. Al-Qur'an al-Karim dengan gamblang telah menjelaskan hal ini. Allah swt. berfirman, "Dan mereka telah meng- ambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka."(QS. Maryam:81). Artinya, mereka meyakini sesembahannya memiliki sifat-sifat ketuhanan. 

Allah swt. berfirman; 
"Yaitu orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah, maka mereka kelak akan mengetahui akibat- nya." (al-Hijr: 96)

Ayat-ayat di atas ini membantah perkataan kalangan Wahabi, karena. ayat itu menjelaskan bahwa
terperosoknya para penyembah berhala kedalam kemusyrikan ialah disebabkan mereka meyakini
sesembahannya memiliki sifat-sifat ketuhanan.

Allah swt. telah menjelaskan hal ini didalam firman-Nya yang berarti:
"Dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya Kami memelihara kamu dari (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olok kamu, (yaitu) orang-orang yang menganggap adanya Tuhan yang lain di samping Allah; maka kelak mereka akan mengetahui akibatnya." (QS. al-Hijr: 94 - 96) 

Ayat-ayat di atas ini menetapkan perbandingan didalam masalah syirik. Yaitu keyakinan akan adanya sifat-sifat ketuhanan pada diri ma'bud (sesuatu yang disembah). Oleh karena itu, mereka menolak dan mengingkari akidah tauhid yang dibawa oleh Rasulallah saw..

Allah swt. berfirman, 
"Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, 'Tiada Tuhan selain Allah', mereka menyombongkan diri." (QS. ash-Shaffat: 35) 

Semua dakwah para nabi kepada manusia ditujukan untuk memerangi keyakinan mereka yang mengatakan adanya Tuhan selain Allah. Orang musyrikin menyakini pada diri sesuatu yang disembah (ma’bud) mempunyai sifat ketuhanan. Karena, tidaklah masuk akal ada ibadah yang tidak disertai dengan keyakinan adanya sifat ketuhanan pada diri ma'bud (sesuatu yang disembah). Dengan kata lain, meyakini terlebih dahulu, baru kemudian menyembah. 

Allah swt. berfirman :
"Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, 'Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.'" (QS. al-A'raf: 59) 

Dengan demikian, Al-Qur'an telah menjelaskan penyimpangan mereka dari Tuhan yang sesungguhnya.

Jadi jelas perbandingan dalam masalah syirik ialah ketundukan yang disertai dengan keyakinan
akan adanya sifat-sifat ketuhanan. Terkadang, kemusyrik- an itu sebagai hasil dari keyakinan adanya sifat rububiyyah pada diri ma'bud. Artinya, seseorang meyakini bahwa sesembahannya memiliki kekuasaan atas urusannya, seperti urusan penciptaan, pemberian rezeki, hidup dan mati. Dengan demikian, orang yang tunduk kepada sesuatu dengan keyakinan sesuatu itu mempunyai sifat-sifat rububiyyah maka berarti dia telah beribadah kepadanya. 

Oleh karena itu, ayat-ayat AlQur'an menyeru orang-orang kafir dan orang-orang musyrik untuk menyembah Tuhan yang Mahabenar. 
Allah swt. berfirman;  
"Padahal al-Masih berkata, 'Hai Bani Israil, sembahlah Allah
Rabb-mu (Tuhanmu) dan Rabbku (Tuhanku).' (QS. al-Maidah: 72)
 

Firman-Nya: 

"Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Rabbmu (Tuhanmu), maka sembahlah Aku." (QS. al-Anbiya: 92) 

Disana juga terdapat tolak ukur yang ketiga. Yaitu keyakinan bahwa sesuatu itu merdeka didalam
zat dan perbuatannya, dengan tanpa bersandar kepada Allah swt.. Sikap khudhu' yang disertai
dengan keyakinan ini terhitung syirik. 

Jika anda tunduk dihadapan seorang manusia, dengan keyakinan bahwa dia merdeka didalam perbuatannya, baik perbuatannya itu perbuatan yang biasa, seperti berbicara dan bergerak, maupun seperti mukjizat yang dilaku- kan oleh para nabi, maka ketundukan anda ini masuk kedalam kategori ibadah. Bahkan, jika seandainya seorang manusia meyakini bahwa tablet obat menyembuhkan penyakit kepala secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt., maka keyakinannya ini terhitung syirik.
 
Dari sini, kita dapat mengetahui bahwa tolak ukur ibadah bukanlah semata-mata penampakkan ketundukan dan perendahan diri, melainkan ketundukan dan perendahan diri dengan ucapan maupun perbuatan kepada sesuatu yang diyakini bahwa dia itulah, Rabb, atau pemilik salah satu dari urusannya secara merdeka dan terlepas dari kekuasaan Allah swt.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel