Dalil-dalil Yang Melarang Ziarah Kubur dan Jawabannya - Part 2

Assalamualaikum...


Pada penjelasan sebelumnya "Dalil-dalil Yang Melarang Ziarah Kubur dan Jawabannya" kita mengutip perkataan ibn taimiyah. dan sebenarnya postingan ini membahas kedalam hal yang selalu menjadi pedoman wahhabi, "Apa yang Rosul tidak kerjakan,maka jangan di kerjakan". tapi berhubung pembahasannya juga tentang ziarah kubur jadi saya masukin kedalam part 2




Ada lagi dari golongan pengingkar yang melarang ziarah kemakam Nabi saw. dengan alasan hadits berikut ini:


“Jangan susah-payah bepergian jauh kecuali ke tiga buah masjid; Al-Masjidul-Haram,
masjidku ini (di Madinah) dan Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina)”.
 
Sebenarnya hadits di atas ini berkaitan dengan masalah sembahyang jadi bukan masalah ziarah
kubur. Yang dimaksud hadits tersebut ialah ‘jangan bersusah-payah bepergian jauh hanya karena
ingin bersembahyang di masjid lain, kecuali tiga masjid yang disebutkan dalam hadits itu’. Karena
sembahyang disemua masjid itu sama pahalanya kecuali tiga masjid tersebut.

Makna ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yaitu Rasulallah saw. pernah bersabda: “Orang tidak perlu bepergian jauh dengan niat mendatangi masjid karena ingin menunaikan sholat didalamnya, kecuali Al-Masjidul-Haram(di Makkah), Al-Masjidul- Aqsha (di Palestina) dan masjidku (di Madinah) ” Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini terkenal luas (masyhur) dan baik.
 
Hadits yang semakna di atas tapi sedikit perbedaan kalimatnya yang di riwayatkan oleh ‘Aisyah ra.
dan dipandang sebagai hadits baik dan masyhur oleh Imam Al-Hafidz Al-Haitsami yaitu:
“Orang tidak perlu berniat hendak bepergian jauh mendatangi sebuah masjid karena ingin menunaikan sholat didalamnya kecuali Al-Masjidul-Haram, Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina) dan masjidku ini (di Madinah)” . (Majma’uz-Zawa’id jilid 4/3). 
Dan beredar banyak hadits yang semakna tapi berbeda versinya. 
Dengan demikian hadits-hadits di atas ini semuanya berkaitan dengan sholat bukan sebagai larangan untuk berziarah kubur kepada Rasulallah saw. dan kaum muslimin lainnya!
 
Apakah Ibnu Taimiyyah dan golongan Wahabi serta pengikutnya akan meragu kan keshahihan
Shahih Muslim dan para perawi lainnya yang tersebut di atas, sehingga mereka mengatakan
bahwa legalitas hadits ziarah kubur merupakan kebohongan? 
Jika menziarahi kuburan muslim biasa saja diperbolehkan secara syariat lantas apa alasan mereka mengatakan bahwa menziarahi kubur manusia agung seperti Muhammad Rasulullah saw. yang merupakan kekasih sejati Allah pun adalah kebohongan? 

Beranikah golongan pengingkar itu menvonis Umar bin Khatab ra. yang shalat dan menangis di
depan kuburan orang tua itu sebagai seorang yang musyrik? Beranikah mereka mengatakan bahwa ummul mukminin Aisyah ra. dan Umar bin Khattab ra. telah melakukan hal yang tanpa dalil (bid’ah)? 

Beranikah golongan pengingkar ini mengatakan bahwa shalat, berdo’a dan tangisan Umar bin Khatab di sisi kuburan orang tua tadi merupakan perbuatan Syirik? Mungkinkah khalifah kedua dan ummul mukminin Aisyah melakukan syirik, perbuatan yang paling dibenci oleh Allah?
 
Bukankah mereka berdua adalah tokoh dari Salaf Sholeh yang konon ajaran- nya akan dihidupkan kembali oleh pengikut Wahabi, lantas mengapa mereka ini berfatwa tidak sesuai dengan ajaran mereka berdua, dan tidak sesuai dengan ajaran Rasulallah saw.? 

Jika benar bahwa kelompok Wahabi memiliki misi untuk menghidupkan kembali ajaran Salaf Sholeh maka hendaknya mereka membolehkan berziarah kubur, melaksanakan shalat di sisi kuburan dan atau menangis di samping kubur sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khattab (khalifah kedua)


Lebih lanjut kata mereka; 

“Sering terjadi kekeliruan waktu Ziarah Kubur misal- nya: Mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah (bulan Sya’ban, idul Fithri dll), berdo’a kepada penghuni kubur, menyembelih binatang di sisi kuburan yang ditujukan kepada si mayit, sujud, membungkuk ke arah kuburan, kemudian mencium dan mengusapnya, shalat di atas kuburan. Ini semua tidak diperbolehkan kecuali shalat jenazah dan Nabi saw. bersabda, (Janganlah kalian sholat di atas kubur), menaburkan bunga-bunga dan pelepah pepohon an di atas pusara kubur. 

Adapun apa yang dilakukan Nabi saw. ketika meletak- kan pelepah kurma di atas kubur adalah kekhususan untuk beliau dan ber- kaitan dengan perkara ghaib, karena Allah memperlihatkan kepada beliau keadaan penghuni kubur yang sedang disiksa. Juga sering orang mempunyai persangkaan bahwa berdo’a di kubur itu lebih terkabulkan sehingga harus memilih tempat tersebut, memakai sandal ketika memasuki pekuburan, duduk di atas kubur dan lain sebagainya”

Jawabannya:

Pemikiran-pemikiran seperti di atas dari golongan pengingkar sebagai alasan untuk mengharamkan atau melarang ziarah kubur adalah tidak berdasarkan dalil dari Sunnah Rasulallah saw., tidak lain berdasarkan pikiran,logika dan angan-angan mereka sendiri. Begitu juga bila pemikiran di atas dijadikan alasan untuk melarang ziarah kubur maka hal itu akan berbenturan dengan hadits-hadits shohih Rasulallah saw. yang membolehkan dan menganjurkan ziarah kubur, memberi salam dan berdo’a untuk dimuka makam ahli kubur, dan lain sebagainya (baca keterangan di atas dan selanjutnya pada bab ziarah kubur ini dan lihat juga bab tawassul/tabarruk dll. dibuku ini).

Hadits Nabi saw. tadi ‘Dahulu saya melarang ziarah kubur, namun kini berziarahlah….’
jelas sekali bagi orang yang mau berpikir

hukum yang lama yaitu ‘larangan ziarah kubur’ akan terhapus/mansukh dengan hukum yang baru yaitu ‘diperbolehkannya’ ziarah tersebut. Mengapa golongan pengingkar ini selalu takut-takut sendiri orang jatuh kedalam kesyirikan bila berziarah kekuburan? Sedangkan manusia yang paling taqwa dan mulia disisi Allah swt. Muhammad Rasulallah saw. telah menganjurkannya!! 

Apakah beliau saw. akan menganjurkan sesuatu amalan yang berbau kesyirikan atau kemungkaran atau mengakibatkan kesyirikan? Apakah para sahabat Nabi saw. yang mulia dan tokoh dari para Salaf Sholeh serta para ulama pakar yang berziarah kemakam Rasulallah saw., kemakam para sholihin serta bertawassul dan bertabarruk (baca bab tawassul/tabarruk dibuku ini) kepada mereka tidak mengerti hukum syari’at Islam?, dan hanya ulama dari pengikut madzhab Wahabi saja yang memahaminya? 

Waktu-waktu tertentu untuk berziarah: Rasulallah saw. tidak pernah mewajibkan maupun mengharamkan waktu-waktu tertentu untuk berziarah kubur, orang boleh berziarah pada waktu apapun baik itu malam, pagi, siang hari dan pada bulan Sya’ban, Idul Fihtri dan lain sebagainya. Dimana dalil nya bahwa Rasulallah saw. mengharamkan ziarah kubur pada waktu-waktu tertentu?
 
Kenapa justru golongan pengingkar ini yang melarangnya? Dalam syari’at Islam telah menyatakan adanya bulan, hari yang mulia umpama bulan-bulan Hurum/suci (Muharram, Dzul-Kiddah, Dzul-Hijjah, Rajab) begitu juga bulan Sya’ban, Ramadhan, hari Kamis, Jum’at dan lain sebagainya (mengenai hal ini silahkan baca keterangan pada bab nishfu Sya’ban, majlis dzikir dan lainnya pada halaman lain dibuku ini atau dikitab-kitab ulama ahli fiqih). 

Pada bulan dan hari itu Allah swt. lebih meluaskan Rahmat dan Ampunan-Nya kepada makhluk yang berdo’a, beramal sholeh dan mengharapkan Rahmat dan Ampunan Ilahi. Disamping bulan-bulan atau hari-hari biasa kaum muslimin berziarah ke pekuburan, mereka juga lebih memanfaatkannya pada bulan dan hari yang mulia tersebut untuk beramal sholeh diantaranya berziarah kekuburan kerabatnya atau para sholihin. 

Jadi tidak ada diantara kaum muslimin yang berfirasat hanya (khusus) pada bulan atau hari tertentu orang dibolehkan berziarah, ini tidak lain hanya pikiran, karangan dan dongengan golongan pengingkar sendiri!! Apakah mereka ini tahu hukumnya dalam Islam orang yang mengharamkan sesuatu amalan yang halal dan menghalalkan suatu amalan yang haram? Kalau sudah mengetahui hukumnya mengapa kok masih sering berani menghukumi setiap amalan yang tidak sepaham dengannya sebagai amalan munkar, haram, syirik dan lain sebagainya? 

Ingat firman Allah swt.dalam surat AnNahl:116; 
“ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu
secara dusta ‘Ini halal dan in haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah…sampai akhir ayat” 

Sebagaimana yang telah kami kemukakan bahwa golongan pengingkar ini sering mengharamkan, memunkarkan, mensesatkan suatu amalan yang tidak sepaham dengan mereka dengan alasan bahwa Nabi saw. atau para sahabat tidak pernah melakukan mengapa kita melakukan hal itu. Kaedah seperti inilah yang sering digembar-gemborkan oleh mereka. Padahal kalau kita teliti
firman Allah swt. dalam surat Al-Hasyr:7:

فَانْتَهُوا عَنْهُ نَهَاكُمْ وَمَا فَخُذُوهُ الرَّسُولُ آتَاكُمُوَمَاالْعِقَابِ شَدِيدُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ وَاتَّقُوا

Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang kamu dilarang daripadanya, maka berhentilah (mengerjakan nya). (QS. Al-Hasyr:7).

Dalam ayat ini jeas bahwa perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu itu adalah apabila telah tegas dan jelas larangannya dari Rasulallah saw.! Dalam ayat di atas ini tidak dikatakan:  ‘Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakannya (oleh Rasulallah), maka berhentilah (mengerjakannya)’

Juga dalam hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Bukhori: 

‘Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku
melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah dia!‘

Dalam hadits ini Rasulallah saw. tidak mengatakan:

‘Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia!’

Begitu juga syari’at Islam telah menyatakan adanya kehidupan ruh-ruh orang mu’min yang telah wafat dialam barzakh (bisa mengerjakan sholat, bisa menghadiri tempat kuburnya, terbang kemana-mana menurut kehendaknya, berdo’a kepada Allah swt. untuk para kerabatnya yang masih hidup, mendengar omongan orang yang hidup dan lain sebagainya.

Kalau ruhnya orang mu’min biasa saja bisa berbuat demikian apalagi dengan Ruhnya Rasulallah saw. para Nabi, para wali, dan kaum sholihin!! Dengan adanya hadits-hadits itu, disamping para penziarah berdo’a kepada Allah swt. untuk ahli kubur - bukan berdo’a kepada ahli kubur tetapi untuk ahli kubur - juga bertawassul, bertabarruk dengan penghuni kubur agar penghuni kubur itu ikut berdo’a kepada Allah swt.untuk penziarah itu. 

Menaburkan bunga, menanam pelepah pohon: Dengan adanya hadits-hadits tentang kehidupan ruh-ruh itu itu, para penziarah ada yang menabur- kan bunga di atas kuburan tidak lain hanya sebagai penghormatan atau kecintaan kepada ahli kubur itu, sebagaimana orang yang masih hidup yang sering antara satu dan lain memberi bunga untuk penghormatan. Itu semua tidak ada salahnya, selama penghormatan kepada manusia - baik yang hidup maupun yang telah mati - tidak dibarengi dengan keyakinan bahwa obyek yang dihormati itu memiliki sifat ketuhanan.

Sedangkan menaruh atau menanam pelepah di atas kuburan juga tidak ada salahnya, Nabi saw. sendiri telah mencontohkannya didalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan lainlain dari Ibnu ‘Abbas ra. Dalam hadits itu Nabi saw. ...minta pelepah pucuk kurma lalu dibelahnya satu ditanamkannya kepada satu kubur dan satu lagi pada kubur yang lain dengan berdo’a semoga mereka berdua diberi keringanan (dari siksa kubur) selama pelepah ini belum kering.

Dengan adanya hadits itu ummat beliau saw. juga mencontoh perbuatan beliau saw. menanamkan pelepah pohonan di atas kubur sambil berdo’a kepada ahli kubur. Dalam hadits itu Nabi saw. tidak melarang atau menyuruh umatnya untuk berbuat seperti beliau saw., tapi bila ada kaum muslimin yang meniru perbuatan beliau saw. tidak lain karena beliau saw. sebagai contoh dari umatnya. 

Malah ada hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori bahwa Buraidah Aslami berpesan agar pada kuburnya ditanamkan dua pucuk kurma. Ada juga riwayat hadits bahwa binatangbinatang dan pepohonan itu selalu bertasbih kepada Allah swt. Nah, apa salahnya dalam hal ini?



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel