Argument Wahhabi Serta Bantahan Dari Ahlussunah Yang Mengartkan Ayat Secara Tekstual


Assalamualaikum...
Sebagai bantahan untuk kaum mujassimah wahhabi yang mengartikan ayat-ayat Allah dengan makna dzahir saja, kita bahas secara mendalam tentang masalah yang sangat menjadi polemik.

Dalil Wahhabi Hanya Allah Sebagai Pelindung dan tidak boleh untuk bertawassul
Didalam surat An-Nisaa (4):123:
‘Dialah satu-satunya sebagai pelindung. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah’.   
Dan surat An-Nisaa (4): 45: 
Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu)’. 
Dalam surat Al-Ahzab (33): 17; 
‘Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah’

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmudzi dari Ibnu Abbas ra bahwa Rasulallah saw. berkata: 
‘Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah dan jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu"

Kaum Mujassimmah (Wahhabi) dan pengikutnya mengartikan ayat-ayat dan hadits di atas ini secara tekstual juga sehingga sampai-sampai mensyirikkan orang yang minta tolong atau pelindung pada Rasulallah saw. atau hamba-hamba Allah yang sholeh. 


Padahal maksud dari ayat dan hadits ini adalah manusia tidak boleh lupa bahwa sebab utama yang melindungi dan menolong manusia adalah Allah swt. Jadi bukan berarti manusia haram untuk minta pertolongan atau pelindungan dari hamba-Nya yang beriman dan meminta syafa’at pada hamba Allah yang diberi izin oleh-Nya. Bila kita mempunyai akidah seperti golongan ini dan mengartikan makna ayat ilahi dan hadits secara tekstual, maka akan kerepotan dan kebingungan mengartikan ayat-ayat ilahi berikut ini dan hadits lainnya yang (kelihatannya) berlawanan dengan ayat dan hadits di atas ini.

Mari kita telaah ayat-ayat ilahi - yang kelihatan berlawanan dengan ayat-ayat di atas tadi - mengatakan bukan hanya Allah swt. saja yang bisa menolong hamba-Nya sebagai berikut: 

Dalam surat Al-Maidah (5):55: 
Sesungguhnya penolong kamu (Waliu-kum) adalah Allah, dan Rasul-Nya dan orang orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk (kepada Allah).”
 
Dalam surat At-Tahrim (66): 4:
 “Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitupula) Jibril dan orang orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikatmalaikat adalah penolongnya pula”

Dalam surat Al-Maidah (5): 56: 
“Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengkikut (agama) Allah, itulah yang pasti menang”.
 
Surat An-Nisaa (4): 75:
 “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nasira) dari sisi Engkau”.

Jadi jelas selain Allah swt. sebagai Pelindung dan Penolong ada hamba-hamba-Nya dengan seizinNya juga sebagai Penolong dan Pelindung. Kalau kita baca ayat An- Nisaa: 75 ini manakala Allah sudah cukup sebagai Pelindung (waliyan) dan Penolong (Nasira), kemudian mengapa orang minta kepada Allah supaya orang lain (yang disisi-Nya) menjadi pelindungnya dan penolongnya? 

Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah ketika kita percaya bahwa Jibril as, orang beriman dan para malaikat yang juga bisa sebagai Waliyyan (Pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah? 

Apakah empat ayat terakhir ini berarti Allah bukan satu-satunya wali (penolong) karena disamping Dia ada wali-wali yang lainnya? Dan apakah ini juga berarti bahwa tidak cukup hanya Dia (Allah swt) sebagai wali?

Jika kita tetap memakai pengertian Syirik menuruti pendapat golongan Wahabi/Salafi ini maka kita secara otomatis dengan membaca ayat-ayatNya telah membuat Allah sendiri Musyrik.. Na‘udzubillah

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ,Abu Dawud dan lainnya bahwa Rasulallah saw. bersabda:
'…Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya’.

Jadi maksud ayat ilahi yang mengatakan hanya Allah swt. sebagai Penolong atau Pelindung dan hadits di atas ini ialah: Bila kita minta pertolongan dan perlindungan pada Malaikat, Rasulallah saw.  
dan hamba-Nya kita tidak boleh lupa dan lengah bahwa sebab utama yang mendatangkan pertolongan dan pelindungan adalah Allah swt..Jadi akidahnya adalah: Pada saat Allah berkata bahwa hanya Dialah satu-satunya dan cukuplah hanya Dia sebagai Wali (Penolong/Penjaga) itu maka Malaikat, Rasulallah saw. dan orang orang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya.

Kita bisa lihat taktik golongan Salafi, hanya akan menukil ayat-ayat yang mana Allah menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai Wali (Penolong). Dengan hanya merujuk ayat-ayat ini dan menyampingkan ayat-ayat lainnya [yang kelihatannya berlawanan] dengan ayat itu orang Salafi mencoba menciptakan kesan bahwa mempercayai Rasulallah saw. sebagai Wali (Penolong) adalah syirik. Sayangnya banyak saudara-saudara kita yang kurang begitu mendalam pemahamannya tentang Al-Qur’an mudah ter- pengaruh oleh taktik orang Salafi seperti ini. 

Kata-kata Wali dalam al-Qur’an sebanyak tigapuluh empat kali, dalam pengertian bahwa hanya Dia satu-satunya Pelindung, atau jangan ambil Pelindung selain Dia, atau cukuplah Dia sebagai Pelindung. Dan dalam empat ayat didalam al-Qur’an Allah saw. telah berkata bahwa Rasulallah, orang-orang beriman dan malaikat juga sebagai wali (penolong) kita. 
Orang Salafi berusaha meyakinkan dirinya bahwa hanya Allah-lah yang bisa dimohoni secara langsung. Dan telah Syirik jika berkeyakinan bahwa Allah mempunyai beberapa perantara antara Dia dan mahluk-Nya. 

Mereka berkata; Apakah Allah tuli? sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung? Apakah Dia buta sehingga Dia tidak bisa melihat kita? Juga Dia mengatakan bahwa tidak ada perantara disamping Allah

Diantara dalil-dalil yang mereka sebutkan adalah:



Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’ (QS [50]: 16)

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran’. (QS Al-Baqarah [2]:186)

'...maka janganlah kamu berdo’a (menyembah) kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang’. (QS[72]: 18)

Hanya bagi Allah-lah (yang berhak mengabulkan) do’a yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka.’ (QS Ar Ra’ad [13]:14) 

Bahkan mereka mengambil pemberi syafa’at selain Allah. Katakanlah; ‘Dan apakah (kamu mengambilnya juga) meskipun mereka tidak memiliki sesuatupun dan tidak berakal?”. Katakanlah: ‘Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya lah kamu di kembalikan’ “.(QS Az-Zumar [39]: 43-44). 

Mari sekarang kita teliti ayat-ayat ilahi lainnya yang mengatakan bahwa hamba-Nya yang beriman bisa menjadi perantara dan memberi syafa’at dengan izin-Nya. ‘Mereka tidak dapat memberi syafa’at, kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan yang Maha Pemurah’. (S.Maryam [19]: 87) 

‘Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at,
akan tetapi
(orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (baik/benar) dan mereka mengetahuinya (Muhammad) .’ (QS Az Zukhruf [43]: 86) 

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.(QS An-Nisaa [4]: 64) 

Ayat An Nisaa: 64 ini, semua ahli tafsir (Mufassirin) termasuk golongan Salafi/Wahabi setuju bahwa ayat ini diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan yang kemudian mereka sadar atas kesalah- annya dan ingin bertaubat. Mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, 
tapi lihat bagaimana kita memahami firman Allah dalam hal ini: Alllah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung tapi Allah memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah saw. dan kemudian beliau saw. memintakan ampun kepada Allah swt.
Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang diperintahkan, menyertakan Rasulallah saw. dalam permohonan ampun mereka, hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang. 

Dengan demikian apakah kita menyekutukan Allah ketika berkata bahwa Rasulallah juga dapat memohonkan ampun atau memberi syafa’at atas izin-Nya.?
Apakah ada kontradiksi dalam alQur’an? Sudah tentu tidak. 
Jadi yang dimaksud adalah sebab utama pemberian ampun dan syafa’at adalah Allah swt., sedangkan Rasulallah saw. dan orang yang beriman atas izin-Nya termasuk didalamnya

Semoga Bermanfaat...!!!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel