Apakah Al-Qur’an Hanya Bisa Di Artikan Secara Tekstual atau Literal?

Assalamualaikum...
 
Problem yang sangat fatal dalam aqidah yaitu ketika memahami al-Qur'an dan Haadits hanya secara tekstual saja. dengan adanya keyakinan seluruh kandungan Al-Qur’an dan Sunnah secara tekstual atau literal dan jauh dari makna Majazi atau kiasan ini, maka akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kepada Allah swt.. (umpama Dia swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya).  

Mereka juga mengatakan terdapat kursi yang sangat besar (‘Arsy) dimana Allah swt.. duduk (sehingga Dia membutuhkan ruangan atau tempat untuk duduk) di atasnya. Terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini telah membuat banyak fitnah diantara ummat Islam dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari Madzhab yang lain. Salafisme ini hanya berjalan atas tiga komposisi yaitu; Syirik, Bid’ah dan Haram.

Allah swt. berfirman bahwa Dia yang mengambil ruh pada saat kematian, seperti yang tercantum didalam surat Az-Zumaar (39):42;
‘Allah swt. memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati diwaktu tidurnya…sampai akhir ayat’
Tapi dalam surat An- Nisaa (4):97;  
‘Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri…sampai akhir ayat’.

Apakah kalau ada yang mengatakan bahwa malaikatlah yang mencabut nyawa itu syirik? Ataukah kita harus percaya bahwa ada kontradiksi dalam al-Qur’an? Tentu saja tidak, bukan Syirik ataupun kontradiksi, tapi maksud- nya bahwa manusia tidak boleh lengah atau lupa bahwa sebab utama yang menentukan nyawa manusia adalah Allah swt..
 Sedangkan ayat yang mengatakan bahwa Allah swt. yang mencabut nyawa adalah secara majazi atau kiasan dan malaikat termasuk didalamnya yang mencabut nyawa dengan seizin-Nya

Golongan Salafi/Wahabi mengatakan kita harus minta tolong langsung pada Allah swt. tidak boleh melalui hamba-Nya yang beriman dengan berdalil firman Allah swt. diantaranya adalah;

Dalam surat Al-Fatihah:5: 
Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan’

Dengan berdalil dengan ayat ini mereka mengatakan; Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan tidak pula mendatangkan madharat atau bahaya?  
Dengan lain kata mereka melarang kita minta tolong kecuali pada Allah swt. Padahal yang dimaksud ayat ini bahwa manusia harus mengetahui dan tidak boleh lengah sebab utama yang mendatangkan pertolongan adalah dari Allah swt. jadi bukan berarti kita tidak boleh minta tolong pada hamba-Nya. Karena kenyataannya terdapat banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulallah saw. yang secara jelas menunjukan bahwa pertolongan atau manfaat bisa dicari dari Rasulallah dan orang mukminin, juga dari mereka yang dikenal sebagai tanda-tanda Allah.

firman-firman-Nya surat An-Nur: 35 :
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

Jika wahhabi konsisten dengan berpegang teguh kepada apa adanya teks atau dhahirnya ayat tersebut maka jika diterjemahkan menjadi:

“Allah Cahayanya Langit dan Bumi”


Lalu apakah Allah adalah cahaya? Dan yang dimaksud dengan cahaya itu apa?  
Itulah kenapa kebanyakan Mufassir mentafgsirkan ayat tersebut dengan mentakwilkannya.

Dalam tafsir Ibnu Katsir member penjelasan dengan menuqil perkataan Ibnu Mas’ud sebagai berikut:

قال ابن عباس: هادي أهل السماوات والأرض، فهم بنوره إلى الحق يهتدون وبهداه من الضلالة ينجون



“Berkata Ibnu ‘Abbas: (Allah) adalah petunjuknya penduduk langit dan bumi, mereka mendapat petunjukNya dengan CahayaNya kepada jalan yang benar, dan dengan PetunjukNya pula mereka selamat dari kesesatan”


Apakah Ibnu Katsir dan Ibnu Mas’ud telah gila, sebab tidak berpegang teguh dengan Dhahirnya ayat?

Sekali lagi mari kita kaji ayat berikut:

 فَاليومَ نَنْساهُمْ كما نَسُوا لِقاءَ يومِهِم هَذَا

“Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupa kan pertemuan mereka dengan hari ini…” (QS.7 [al A’râf];51)


Ibnu Abbas ra. menta’wil ayat ini yang menyebut (Allah) melupakan kaum kafir dengan ta’wîl ‘menelantarkan/membiarkan’.


Ibnu Jarir berkata: ‘Yaitu maka pada hari ini yaitu hari kiamat, Kami melupakan mereka, Dia berfirman, Kami membiarkan mereka dalam siksa..’ (Tafsir Ibnu Jarir, 8/201)


Di sini Ibnu Jarir mena’wîl kata melupakan dengan membiarkan. Dan ia adalah penggeseran sebuah kata dari makna aslinya yang dhahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil ta’wîl tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dan lain-lain.


Ibnu Abbas ra. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an….Mujahid adalah seorang tabi’în agung…Ibnu Jarir, ath-Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf…

Penjelasan tentang ayat-ayat yang menjadikan wahhabi sangat mudah mengkafirkan dengan pemahamannya yang saklek akan di jelaskan pada postingan selanjutnya agar pembaca tidak merasa jenuh karena saking banyaknya page atau tullisan. karena penjelasan setelah ini akan panjang lebar membahas tentang ayat yang menjadi dasar wahhabi serta bantahan dari kami ahlussunah wal jama'ah

Semoga Bermanfaat...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel